Tedunan, Wedung, Demak
Tedunan | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Koordinat: 6°43′14″S 110°39′39″E / 6.7206°S 110.6608°E | |||||
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Tengah | ||||
| Kabupaten | Demak | ||||
| Kecamatan | Wedung | ||||
| Kode pos | 59554 | ||||
| Kode Kemendagri | 33.21.13.2017 | ||||
| Luas | - | ||||
| Jumlah penduduk | 3288[1] | ||||
| Kepadatan | - | ||||
| |||||
Tedunan adalah sebuah desa di Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia.
Tedunan merupakan desa di wilayah kecamatan Wedung, Kabupaten Demak. Warga setempat biasa menyebutnya Tedunan Kidul. Desa Tedunan Kidul berada di sebelah selatan sungai Serang. Adapun desa Tedunan yang berada di sebelah utara sungai Serang biasa disebut Branglor atau Tedunan Lor. Branglor merupakan desa di wilayah kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara dengan nama Tedunan juga.
Sungai Serang Baru seakan menjadi batas desa Tedunan dengan desa Ndoro Payung (godang), Tedunan Lor dan Karang aji. Di sebelah timur Desa Tedunan berbatasan dengan desa Mutihkulon sedangkan di sebelah barat berbatasan dengan desa Kendalasem dan Kedung Karang. Adapun sebelah selatan pemukiman berapa area persawahan yang tersambung dengan persawahan desa-desa tetangga.
Menurut Mbah Fahrur Rozi, tahun 1926 dapat dianggap sebagai tahun jadinya desa Tedunan Kidul. Pada tahun 1926 pemerintahan Hindia Belanda melakukan penataan sungai atau kali Serang baru yang melewati desa Tedunan. Sebagian warga yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Serang kemudian dipindahkan ke area selatan tanggul dan membentuk Desa Tedunan Kidul. Adapun penduduk Desa Karangaji yang dipindah ke selatan tanggul membentuk pedukuhan Tambangan. Area pemukiman warga desa Tedunan Kidul ini sudah ditata dengan beberapa gang dan jalan poros tengah serta saluran air.
Nama Tedunan sering dihubungkan dengan kata bahasa Jawa Dundunan atau udun-udunan yang berarti tempat turun. Konon Tedunan adalah tempat turun atau berlabuhnya kapal Dampuawang, seorang saudagar dari Cina. Ada juga yang menyebut dulu Tedunan adalah tempat menurunkan barang dari kapal/bongkar-muat muatan kapal dari para pedagang dan pelancong dari pesisir Semarang.
Ada juga yang menyebut bahwa Tedunan berasal dari kata “teduh" yaitu tempat yang terlindung dari angin dan ombak atau kondisi laut yang tenang. Dalam Babad Tanah Jawa diceritakan bahwa saat invasi Cina/Mongol ke Kerajaan Kediri, wilayah Demak masih berupa perairan yang terpisah oleh Pulau Selat Muria. Karena sudah berbulan-bulan melintasi samudra menggunakan perahu, rombongan utusan dari Cina singgah di pesisir pantai yang teduh (Tedunan) untuk istirahat dan memperbaiki perahu.
Konon rombongan dari Cina yang singgah di Tedunan menunggu perbaikan perahu yang membutuhkan waktu lama, banyak diantaranya yang sakit bahkan meninggal dunia dan dimakamkan di Tedunan. Bekas kuburan Cina itu sekarang menjadi area persawahan dan disebut sawah Bong.
Tomé Pires dalam buku Suma Oriental menyebut Tedunan dalam beberapa versi; Tidunan, Tidumar (mungkin salah ketik), Tidana, Tidonam. Tidunan adalah daerah antara Demak dan Jepara. Lokasinya di beberapa mil di hulu sungai Serang yang bermuara ke laut (17 mil sebelah utara-timur Semarang). Tidunan dipimpin oleh Pate Orob, saudara laki-laki ayahanda Pate Onus. Pate Orob tidak memiliki kapal jung (kapal besar/militer) tapi memiliki dua atau tiga pangajava (sejenis perahu layar cepat). Di Tidunan ada sungai yang bagus; namun kapal jung tidak bisa memasukinya. Negeri ini memiliki banyak beras dan berbagai bahan makanan. Negeri Tidunan diperkirakan memiliki dua atau tiga ribu laki-laki. Catatan Tomé Pires ini menunjukkan Tidunan pada tahun 1512–1515 M lalu lebih luas daripada desa Tedunan saat ini.
Muhammad Ali Fakih dalam buku Sejarah Ringkas Demak menyebut bahwa Tedunan merupakan pelabuhan yang dibuka oleh Adipati Unus dan ditetapkan sebagai pangkalan militer maritim. Ini dilakukan Adipati Unus sebelum beliau menjadi penguasa Bintara Demak (sebelum tahun 1518 M). Adapun Agus Sunyoto, dalam buku Atlas Walisongo menyebut Tedunan sebagai salah satu dari banyak kadipaten kecil yang muncul pada masa akhir Majapahit.
Tedunan juga disebut dalam Hikayat Banjar. Dalam Hikayat yang ditulis pada tahun 1663 ini diterangkan bahwa pada tahun 1526 ada 40 orang Daha ditangkap dan dikirim ke Demak dan Tadunan (Tedunan) sebagai pengganti 20 prajurit Demak yang gugur saat perang membantu Pangeran Samudera (raja Banjar) melawan Pangeran Tumenggung (raja Daha), penguasa Negara Daha terakhir.
Pada masa setelah kemerdekaan Indonesia, nama Dampuawang digunakan sebagai nama pasukan drumband GP ANSOR NU Ranting Tedunan (Kidul). Pada sekitar tahun 1994 nama Dampuawang juga sempat akan dipakai sebagai nama ambalan pramuka penegak MA Tasymirusy Syubban Tedunan (lor) tapi kemudian diganti dengan nama Pangeran Sabrang Lor. Pangeran Sabrang Lor adalah nama lain dari Pati Unus.
Cikal Bakal Desa Tedunan
[sunting | sunting sumber]Warga desa Tedunan Kidul setiap tahun sekali yaitu sesudah musim panen kedua menyelenggarakan acara nyadran atau haul di makam Syekh Maulana Abdurrahman Burwatu. Mbah Maulana atau mbah Lono atau Mbah Dur ini diyakini sebagai cikal bakal atau tokoh awal desa Gempol Songo, Mutihkulon, Betahwalang, Serangan, Mutihkuklon, Tedunan dan Kendalasem. Konon, beliau adalah utusan ratu Kalinyamat Jepara yang bertugas membuka lahan dan memperkenalkan Islam di wilayah tersebut. Menurut sebagian warga Betahwalang dan Serangan, Mbah Dur mempunyai murid yang sakti yaitu Sadipo. Beliau membantu dakwah Mbah Dur. Makam syekh Burwatu berada di area persawahan perbatasan desa Tedunan dan Mutihkulon.
Selain berkat, ada beberapa makanan khas pada saat acara nyadran/haul Syekh Maulana Abdurrahman Burwatu; ketan salak dan pisang ambon hijau. Ketan salak adalah ketan yang dimasak dengan campuran gula jawa dengan cara disangrai atau diungkep, disajikan dengan taburan kelapa parut. Ada juga yang membawa nasi kuning ingkung.
Konon istri mbah Maulana, Mbah Siti Muthmainnah juga dimakamkan di dekat makam beliau tapi kemudian tersebut pindah ke Pecangaan. Di makam Mbah Muthmainnah inilah warga desa Tedunan Lor melaksanakan acara nyadran. Makam Mbah Siti Muthmainnah berada di dekat makam mbah Sentono. Kedua makam ini konon merupakan makam tiban yang semula berada di desa Tedunan.
Di area persawahan Tedunan Lor juga terdapat makam punden yaitu makam mbah Ndero atau Syekh Abdurrohman. Haul mbah Ndero dilaksanakan oleh warga desa Tedunan setiap Jum’at Wage pada bulan Rajab.
Desa Tedunan Desa Agamis
[sunting | sunting sumber]Desa Tedunan merupakan desa yang agamis. Desa Tedunan sudah beberapa kali dipimpin oleh kepala desa yang sekaligus seorang ulama atau kyai. Berikut nama-nama kepala desa yang terdokumentasikan oleh pemerintahan desa Tedunan;
- Kalyubi
- H. Anwar bin Taefuri dari RT 3 RW1
- Sekitar tahun 1952 -- 1977: H. Abdul Hadi bin Nor Abu dari RT 3 RW1
- Gunawan bin Sastrodipuro dari RT 5 RW 2
- Tawan dari Kepolisian sebagai lurah Caretaker dari Demak. Selama menjabat sebagai lurah Tedunan, Tawan tinggal di perumahan Balai Desa
- 1983 – 1991: H. Fachrur Rozi bin H. Abdul Hadi dari RT 1 RW 2
- Pjs Khoironi bin Huri (Perangkat Desa/Kamituwo) dari RT 3 RW 2
- 1991 – 1998: M. Thosin bin Faisholi dari RT 3 RW1
- Sutrisno (Pegawai Kecamatan) dari desa Berahan Wetan (PJs)
- 1999 – 2009: H. Abdul Kohar bin Tasmin dari RT 4 RW1
- 2009 – 2015: Sobirin bin Muntasir tahun dari RT 2 RW 3
- 2 bulanan di tahun 2015: Tasbikhan bin H. Abdul Salam dari RT 3 RW 3 (PJs)
- 2015 – 2017: M. Zainal Afif, H, M.Pd.I., M.Sy. bin H. Abdul Manan dari RT 1 RW 1(Pj)
- 2017 – 2022 (periode 6 tahun pertama): M. Zainal Afif, H, M.Pd.I., M.Sy. bin H. Abdul Manan
- 17-08-2022 – 01-11-2023: Muhammad Nur Sihabuddin, S.Pi. bin Abdul Halim dari RT 4 RW 3 (Plh)
- 2022 – 2028 (periode 6 tahun kedua): M. Zainal Afif, H, M.Pd.I., M.Sy.
Desa Tedunan merupakan desa yang dulu sempat menjadi pusat kegiatan pendidikan dan keagamaan yang diikuti oleh warga Tedunan dan sekitarnya. Tokoh pendidikan agama desa Tedunan adalah Mbah KH Abdurrohim dan KH. Khusnan bin Tamam. Pada tahun 1952 Mbah K.H. Abdur Rohim bersama tokoh-tokoh masyarakat mendirikan madrasah Irsyaduth Thullab. Semula kegiatan belajar dilaksanakan di masjid Baitus Salam Tambangan. Tokoh-tokoh masyarakat yang menjadi pengurus antara lain; K.H. Fauzi (ketua pengurus), K. Muali dari Robayan (sekretaris), Kardiman (bendahara), Safar, H. Abdus Tambangan. Adapun dewan guru pertama antara lain; K. Muali dan K. Nur Ali dari Porwogondo.
Sekarang madrasah Irsyaduth Thullab sudah berkembang menjadi Yayasan Pendidikan Islam dan mengelola dan menaungi beberapa lembaga pendidikan; Madin Awwaliyah, Madin Wustho, PAUD dan TPQ Nurul Furqon yang didirikan oleh pengurus ranting Fatayat NU, RA Tahsinul Akhlaq yang didirikan oleh pengurus ranting Muslimat NU, MI dan MTs (berdiri tahun 2007).
Mbah K.H. Abdur Rohim juga seorang guru Thoriqoh Annaqsabandiyah Al-Kholidiyah serta imam Masjid Jami’ Baitun Nur. Setelah Mbah K.H. Abdurrohim wafat, guru thoriqoh berikutnya adalah K.H. Mudhofar dan selanjutnya K. Djufri Zayin. Adapun imam masjid Jami’ Baitun Nur berikutnya adalah K.H. Mudhofar, K.H. Muhammad Zawawi, K. Djufri Zayin, K.H. Muhammad Thoha dan sekarang K. Syamsul Huda.
Pada pemerintahan desa Tedunan juga terdapat perangkat desa yang bertugas sebagai modin desa dan modin pedukuhan. Tugas modin atau imamuddin biasanya membantu masyarakat dalam acara kematian seperti pemulasaran jenazah dan pernikahan mulai pengurusan dokumen pernikahan sampai acara aqad nikah.
Daftar modin desa Tedunan dari tahun ke tahun
[sunting | sunting sumber]- Taefuri bin Muhammad Kijan dari RT 5 RW 1
- Jarkasi/H. Umar bin Taefuri dari RT 5 RW 1
- 1993 – 2012 : M. Asrofi bin Madsirat dari RT 3 RW 1
- 2014 – sekarang : Nur Ali Muqoddas, A.ma.Pust bin Rif’an (Kaur Keuangan) dari RT 1 RW 2
Adapun modin dukuh Tambahan adalah sebagai berikut;
- Widi bin Sastro dari RT 3 RW 3
- Suminto bin Tasrip (H. Abdul Salam) dari RT 3 RW 3
- Subakir dari RT 3 RW 3
- 1999 – 2026: Tasbikhan bin H. Abdul Salam dari RT 3 RW 3
Paku Dunan dan Sekoci Tenun
[sunting | sunting sumber]Dua benda khas yang dijadikan ikon pada tugu batas desa Tedunan adalah Paku Dunan dan sekoci tenun. Konon Paku Dunan adalah paku-paku dari kapal yang rusak atau tenggelam di sungai Serang. Beberapa Paku Dunan ditemukan saat warga ikut bekerja dalam normalisasi sungai Serang. Paku Dunan dianggap sebagai semacam pusaka.
Adapun sekoci merupakan bagian dari alat tenun wastra kain Troso. Selain sebagai petani dan nelayan, pada tahun 1990an sebagian warga desa Tedunan Kidul juga bekerja sebagai penenun kain di desa Troso, Pecangaan, Jepara. Seiring dengan perkembangan usaha wastra di Troso, jumlah warga Tedunan yang bekerja sebagai buruh tenun pun semakin banyak. Apalagi sekarang dapat dikerjakan di rumah masing-masing dan menggunakan alat tenun yang digerakkan dengan dinamo listrik.
Berkah Banjir
[sunting | sunting sumber]Sebagai dataran rendah dan bekas selat Muria, Desa Tedunan Kidul termasuk lokasi rawan banjir. Dalam 50 tahunan terakhir, desa Tedunan pernah dilanda banjir 4 kali;
- Sebelum tahun 1970 banjir akibat jebolnya tanggul, ketinggian air 50 cm
- Tahun 1970 banjir akibat jebolnya tanggul sungai, ketinggian air 20 cm
- Tahun 2002 banjir akibat jebolnya tanggul sungai, ketinggian air 1 m, 70% warga mengungsi
- 4. Tahun 2014 banjir akibat limpasnya air melebihi tanggul menyebabkan jebolnya tanggul sungai, ketinggian air 2 m, mayoritas warga mengungsi.
Salah satu dampak positif/berkah banjir di desa Tedunan, adalah berubahnya sumber air sumur menjadi lebih tawar serta semakin banyak pepohonan tumbuh bahkan berbuah seperti jambu, mangga, kelengkeng dan sejenisnya.

Sejarah orang Banjarmasin di Tedunan
[sunting | sunting sumber]Menurut Hikayat Banjar-Kotawaringin, Sultan Demak yang diduga kuat adalah Sultan Trenggana telah mengirimkan seribu pasukan untuk membantu Pangeran Samudera untuk berperang melawan pamannya Pangeran Tumenggung penguasa Kerajaan Negara Daha terakhir (lokasi sekarang kecamatan Daha Selatan sekitar 145 km di utara Kota Banjarmasin). Konflik tersebut berakhir dengan kemenangan diraih oleh Pangeran Samudera sebagai Sultan Banjarmasin pertama, sedangkan Pangeran Tumenggung diizinkan menguasai dan menetap pada sebuah distrik di pedalaman (daerah Alay) dengan seribu penduduk. Dalam peperangan tersebut tertangkap pula sejumlah orang Negara Daha yang kemudian 40 orang diantaranya dibawa ke Demak dan Tadunan (Tedunan, Demak atau Tedunan, Jepara) sebagai ganti 20 orang prajurit Demak yang gugur. Kejadian tersebut pada tahun 1526.[butuh rujukan]
Hikayat Banjar:
Maka Pangeran Samudera itu, sudah tetap kerajaannya di Banjarmasih itu, maka masuk Islam. Diislamkan oleh Penghulu Demak itu. Maka waktu itu ada orang negeri Arab datang, maka dinamainya Pangeran Samudera itu Sultan Suryanullah. Banyak tiada tersebut. Maka Penghulu Demak dengan Menteri Demak itu disuruh Sultan Suryanullah kembali. Maka orang Demak yang mati berperang ada dua puluh itu, disilih laki-laki dan perempuan yang [di]-dapat menangkap, tertangkap tatkala berperang itu, orang empat puluh. Maka Penghulu Demak dan Menteri Demak serta segala kaumnya sama dipersalin. Yang terlebih dipersalinnya itu penghulunya, karena itu yang mengislamkan. Serta persembah Sultan Suryanullah emas seribu tahil, intan dua puluh biji, lilin dua puluh pikul, pekat seribu galung, damar seribu kindai, tetudung seribu buah, tikar seribu kodi, kajang seribu bidang. Sudah itu maka orang Demak itu kembali. Itulah maka sampai sekarang ini di Demak dan Tadunan (Tedunan) itu ada asalnya anak-beranak cucu-bercucu itu asal orang Nagara itu; tiada lagi tersebut.[butuh rujukan]
Wilayah administratif
[sunting | sunting sumber]Wilayah Desa Tedunan terbagi menjadi tiga rukun warga dan lima belas rukun tetangga. DI tiap rukun warga terdapat lima rukun tetangga.[2] Wilayah Desa Tedunan di Kabupaten Demak berbatasan dengan sebuah desa dengan nama yang sama di Kabupaten Jepara. Pemisah kedua desa ini adalah sebuah sungai besar yang disebut oleh warga setempat sebagai kali gede atau sungai Serang.[butuh rujukan]
Ekonomi
[sunting | sunting sumber]Penduduk Tedunan mayoritas bekerja sebagai petani, nelayan dan penenun.[butuh rujukan]
Fasilitas pendidikan
[sunting | sunting sumber]Di Desa Tedunan terdapat sebuah lembaga pendidikan dari jenjang PAUD sampai Sekolah Lanjutan Pertama (SLTP);
- PAUD TPQ Nurul Furqon
- TPQ Nurul Furqon
- RA Tahsinul Akhlaq
- MI Irsyaduth Thullab
- SDN Tedunan
- SMP 2 Wedung
- MTs Irsyaduth Thullab
- Madin Awwaliyah Irsyaduth Thullab
- Madin wustho Irsyaduth Thullab
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "Web Desa Tedunan". Website Resmi Desa Tedunan (dalam bahasa Indonesia). Diakses tanggal 2026-24-10.
{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam:|access-date=Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) - ↑ "Web Desa Tedunan". Website Resmi Desa Tedunan (dalam bahasa Indonesia). Diakses tanggal 2024-01-14.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
