India
Republik India Bhārat Gaṇarājya | |
|---|---|
| Semboyan: Satyameva Jayate (Sanskerta) "Hanya kebenaran yang berjaya"[1] | |
| Lagu kebangsaan: "Jana-Gana-Mana" (Hindi)[a][2][3] "Engkaulah penguasa pikiran seluruh rakyat"[4][2] | |
| Lagu nasional: "Vande Mataram" (Sanskerta)[b] "Aku bersujud kepadamu, Ibu"[c][1][2] | |
Wilayah yang dikuasai India | |
| Ibu kota | New Delhi 28°36′50″N 77°12′30″E / 28.61389°N 77.20833°E |
| Kota terbesar menurut jumlah penduduk dalam batas administratif kota | Mumbai |
| Kota menurut jumlah penduduk kawasan metropolitan terbesar | Delhi |
| Bahasa resmi | |
| Bahasa daerah yang diakui |
|
| Bahasa asli | 424 bahasa[g] |
| Agama | |
| Demonim | |
| Pemerintahan | Republik parlementer federal |
• Presiden | Draupadi Murmu |
| C. P. Radhakrishnan | |
| Narendra Modi | |
| Legislatif | Parlemen |
| Rajya Sabha | |
| Lok Sabha | |
| Kemerdekaan dari Britania Raya | |
• Dominion | 15 Agustus 1947 |
• Republik | 26 Januari 1950 |
| Luas | |
• Total | 3.287.263 km2 (1.269.219 sq mi)[7][h] (ke-7) |
• Perairan (%) | 9,6 |
| Populasi | |
• Perkiraan 2026 | |
• Sensus 2011 | |
• Kepadatan | 4.364/km2 (11.302,7/sq mi) (ke-30) |
| PDB (KKB) | 2026 |
• Total | |
• Per kapita | |
| PDB (nominal) | 2026 |
• Total | |
• Per kapita | |
| Gini (2022) | ketimpangan rendah |
| IPM (2023) | sedang (ke-130) |
| Mata uang | Rupee India (₹) (INR) |
| Zona waktu | UTC+05:30 (IST) |
| Format tanggal |
|
| Kode telepon | +91 |
| Kode ISO 3166 | IN |
| Ranah Internet | .in (lainnya) |
India, dengan nama resmi Republik India,[j][20] adalah sebuah negara di Asia Selatan. India merupakan negara terluas ketujuh sekaligus negara berpenduduk terbanyak di dunia.[21] Negara ini dibatasi oleh Samudra Hindia di selatan, Laut Arab di barat daya, dan Teluk Benggala di tenggara. Perbatasan daratnya bersinggungan dengan Pakistan di barat,[k] Tiongkok, Nepal, dan Bhutan di utara, serta Bangladesh dan Myanmar di timur. Di Samudra Hindia, India berdekatan dengan Sri Lanka dan Maladewa.[l]
Manusia modern telah tiba di anak benua India dari Afrika pada 55.000 tahun yang lalu.[23] Kehidupan menetap muncul di tepi barat daerah aliran Sungai Indus 9.000 tahun yang lalu dan berkembang menjadi Peradaban Lembah Indus pada milenium ketiga SM.[24] Pada 1200 SM, bentuk awal bahasa Sanskerta, salah satu bahasa Indo-Eropa, telah menyebar ke India dari arah barat laut.[25] Himne-himne tertuanya memuat unsur-unsur yang kemudian menjadi bagian dari agama Hindu.[26] Bahasa-bahasa Dravida dan bahasa lain yang sebelumnya dituturkan di dataran utara India berangsur-angsur tergantikan.[27] Di bagian tengah dataran tersebut berlangsung urbanisasi pesat. Setelah 500 SM, stratifikasi sosial berdasarkan kasta yang diwariskan turun-temurun mulai mengakar seiring semakin terbentuknya agama Hindu.[28] Pada masa ini, agama Buddha dan Jainisme muncul dengan mengajarkan tatanan sosial yang tidak didasarkan pada keturunan.[29] Kemunculan Kekaisaran Maurya dan Gupta, yang ikatan internalnya relatif longgar,[30] kemudian mendorong kreativitas dalam berbagai bidang kebudayaan dan ilmu pengetahuan.[31] Namun, pada masa-masa ini kedudukan perempuan terus merosot,[32] sementara praktik pantangan sentuh akhirnya melembaga.[33] Di India Selatan, sepanjang milenium pertama Masehi, kerajaan-kerajaan periode pertengahan menyebarkan aksara bahasa-bahasa Dravida dan tradisi budayanya ke Asia Tenggara.[34] Jauh sebelum akhir milenium tersebut, agama Yahudi, Kristen, Islam, dan Zoroastrianisme telah berakar di pesisir selatan dan barat India.[35]
Pada awal milenium kedua, pasukan Muslim dari Asia Tengah beberapa kali menyerbu dataran utara India,[36] hingga akhirnya mendirikan Kesultanan Delhi dan menghubungkan India dengan jaringan kosmopolitan dunia Islam abad pertengahan.[37] Kemaharajaan Wijayanagara membangun negara fiskal-militer yang kuat dan mendukung berkembangnya kebudayaan Hindu bercorak khas India Selatan.[38] Pada masa ini, Sikhisme muncul di Punjab dengan mengajarkan pengabdian kepada Tuhan yang egaliter dan melampaui batas-batas tradisional antara Hindu dan Islam.[39] Kekaisaran Mughal mengawali dua abad pertumbuhan ekonomi dan perdamaian relatif,[40] serta meninggalkan warisan pemusatan administrasi[41] dan perpaduan budaya yang bertahan lama.[42] Perluasan kekuasaan Perusahaan Hindia Timur Britania Raya memperkukuh penguasaan wilayah di anak benua India[43] sekaligus mengubah India menjadi ekonomi kolonial.[44] Pemerintahan langsung Kerajaan Britania, atau Raj Britania Raya, dimulai pada 1858.[45] Meskipun persamaan di hadapan hukum yang dijanjikan kepada penduduk India lambat terwujud,[46][47] India Britania dan, dalam skala yang lebih kecil, princely state[48] mengalami perubahan teknologi[49] seiring berakarnya pendidikan modern dan kehidupan publik yang lebih terorganisasi.[50][51] Gerakan nasionalis kemudian muncul di India, menjadi yang pertama di wilayah Imperium Britania di luar Eropa.[52][53] Gerakan yang dikenal dengan perlawanan tanpa kekerasan setelah 1920 ini[54] merupakan salah satu faktor utama yang mengakhiri kekuasaan Britania.[55] Pada 1947, Imperium India Britania dibagi menjadi dua dominion merdeka: India yang mayoritas penduduknya beragama Hindu dan Pakistan yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Pembagian ini menelan banyak korban jiwa dan memicu perpindahan penduduk dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.[56]
Konstitusi India disahkan pada 1950 dan menetapkan India sebagai republik federal dengan sistem parlementer yang demokratis. Konstitusi tersebut menjamin kebebasan berbicara, kebebasan pers,[57] dan pluralisme agama.[58] Amendemen yang diberlakukan sejak 1951 memperkuat program tindakan afirmatif untuk mengurangi ketimpangan antarkasta.[59] Penataan ulang negara bagian pada 1956 berdasarkan bahasa melembagakan kebanggaan terhadap bahasa daerah[60] serta mendorong perkembangan sastra daerah dan perfilman.[61] Pada 1970-an, India mengatasi stagnasi pertanian melalui Revolusi Hijau[62] dan mencapai ketahanan pangan nasional.[63] India juga mengubah keseimbangan kekuatan regional melalui dukungannya terhadap Bangladesh[64] dan memberlakukan reformasi konstitusi untuk menghapus hak-hak istimewa penguasa kepangeranan.[65] Jumlah penduduk India meningkat dari 361 juta pada 1951[66] menjadi sekitar 1,464 miliar pada 2025.[67][m] Reformasi ekonomi pada 1990-an mengintegrasikan perekonomian India dengan perekonomian dunia.[68] Pada 2010-an, perekonomian India telah mencapai laju pertumbuhan tinggi yang stabil.[69] Kelas menengah yang besar dan pesatnya perkembangan komunikasi semakin menguat.[70] Namun, berbagai tantangan masih dihadapi, termasuk kesenjangan pendapatan yang melebar,[71] ketimpangan gender,[72] dan kerusakan lingkungan.[73] Dalam beberapa tahun terakhir, politik India bergeser ke arah mayoritarianisme.[74] Sebagai negara bersenjata nuklir dengan belanja militer yang tinggi, India termasuk di antara perekonomian terbesar di dunia dan merupakan anggota pendiri Perserikatan Bangsa-Bangsa.[75] Warisan budayanya mencakup 45 Situs Warisan Dunia UNESCO.[76] India merupakan negara megadiversitas dengan empat titik panas keanekaragaman hayati.[77] Satwa liarnya didukung oleh keberadaan habitat yang dilindungi dan secara tradisional diterima dengan sikap toleran dalam kebudayaan setempat.[78]
Etimologi
Menurut Oxford English Dictionary, nama diri "India" dalam bahasa Inggris berasal langsung dari kata India dalam bahasa Latin Klasik, yang merujuk pada suatu kawasan historis Asia dengan batas tidak tegas, membentang dari Asia Selatan hingga perbatasan Tiongkok. Etimon yang lebih awal meliputi India (Ἰνδία) dalam bahasa Yunani Koine; Indos (Ἰνδός), atau Sungai Indus, dalam bahasa Yunani Kuno; Hinduš (sebuah provinsi di bagian timur Kekaisaran Akhemeniyah) dalam bahasa Persia Kuno pada masa Akhemeniyah; serta Sindhu dalam bahasa Sanskerta, yang berarti "sungai", tetapi secara khusus merujuk pada Sungai Indus dan, dalam arti yang lebih luas, daerah alirannya yang telah banyak dihuni.[79] Orang Yunani Kuno menyebut penduduk Asia Selatan Indoi, atau 'orang-orang Indus'.[80]
Istilah Bharat (Bhārat; pelafalan [ˈbʱaːɾət] ⓘ), yang disebutkan dalam wiracarita India maupun Konstitusi India,[81][82] digunakan dalam berbagai bentuk oleh banyak bahasa di India. Sebagai bentuk modern dari nama historis Bharatavarsha, yang semula merujuk pada India Utara,[83][84] Bharat semakin umum digunakan sejak pertengahan abad ke-19 sebagai nama lokal untuk India.[81][85]
Hindustan ([ɦɪndʊˈstaːn] ⓘ) merupakan nama India dalam bahasa Persia Pertengahan yang mulai populer pada abad ke-13[86] dan digunakan secara luas sejak masa Kekaisaran Mughal. Makna Hindustan berubah-ubah: istilah ini dapat merujuk pada kawasan yang mencakup bagian utara anak benua India—kini India utara dan Pakistan—atau pada hampir seluruh India.[81][85][87]
Sejarah
India kuno


Berdasarkan analisis koalesensi data DNA mitokondria dan kromosom Y, garis keturunan tertua manusia modern yang masih bertahan di anak benua India telah tiba dari Afrika antara 80.000 dan 50.000 tahun yang lalu, dan sangat mungkin sudah berada di sana pada 55.000 tahun yang lalu.[23][n] Kebudayaan Neolitikum dan Kalkolitikum muncul di tepi barat daerah aliran Sungai Indus, di sekitar Mehrgarh, Balochistan, Pakistan, setelah 7000 SM.[o] Kebudayaan-kebudayaan ini secara bertahap berkembang menjadi Peradaban Lembah Indus, yang mencapai masa kejayaannya pada 2500–1900 SM di Pakistan dan India bagian barat.[91][24] Peradaban ini berpusat di kota-kota seperti Mohenjo-daro, Harappa, dan Dholavira,[92] dengan ciri khas berupa cap dari steatit, aksara, tata kota, patung manusia dari terakota, dan arca kecil berbentuk hewan.[92][p] Antara 1500 dan 1200 SM, bentuk awal bahasa Sanskerta, salah satu bahasa Indo-Eropa, menyebar ke India dari arah barat laut. Bukti keberadaannya kini ditemukan dalam Regweda, kitab suci yang berkaitan dengan agama Weda, salah satu pendahulu agama Hindu.[q][25][26] Permukiman di dataran Sungai Gangga berkembang selama milenium berikutnya, ketika hutan di sebagian wilayah sekitar sistem sungai tersebut dibuka[r] untuk pertanian.[s][94] Bahasa-bahasa Dravida dan bahasa lain di India tergantikan di wilayah utara. Hal ini membentuk pembagian besar berdasarkan rumpun bahasa: bahasa-bahasa Indo-Arya terutama dituturkan di utara dan barat, sementara bahasa-bahasa Dravida dituturkan di sebagian India timur dan sebagian besar wilayah selatan.[27][u]
Gelombang urbanisasi kedua berlangsung di India pada pertengahan milenium pertama SM. Di kota-kota berbenteng di bagian tengah dataran Gangga, muncul diferensiasi sosial berdasarkan kasta, atau warna.[28] Pada pertengahan milenium itu pula muncul dua agama baru: Jainisme, yang berlandaskan ajaran Mahawira, dan agama Buddha, yang berlandaskan ajaran Buddha. Keduanya menekankan sikap tanpa kekerasan serta menolak pengorbanan hewan dalam Brahmanisme[v] dan penetapan warna yang tetap berdasarkan kelahiran. Dalam kedua agama ini, umat awam dapat meningkatkan kedudukan sosial dan moralnya dengan menjalani kehidupan yang etis.[29][w] Kebangkitan kedua agama tersebut menjadi latar munculnya Kekaisaran Maurya, kekuasaan pertama di Asia Selatan yang mencakup wilayah luas meskipun ikatan internalnya longgar.[30] Pada masa pemerintahan Asoka (sekitar 268–232 SM), cucu pendirinya, kekaisaran ini sempat menguasai pusat-pusat perkotaan dan jalur-jalur utama di anak benua India, kecuali di ujung selatan.[98][x][y] Masa kekaisaran ini ditandai oleh kreativitas dalam seni, arsitektur, prasasti, dan karya tulis.[31] Setelah menaklukkan Kalinga, ketika pasukannya menimbulkan korban jiwa yang sangat besar, Asoka memeluk agama Buddha. Ia kemudian memerintahkan pembuatan banyak maklumat pada batu dan pilar di seluruh Kekaisaran Maurya untuk mendorong perilaku etis, sikap tanpa kekerasan, dan kesejahteraan sosial.[101][z]
Pada abad ke-4 dan ke-5 M, Kemaharajaan Gupta[30] telah membentuk sistem administrasi dan perpajakan di kawasan luas dataran Gangga;[104] sistem ini menjadi model bagi kerajaan-kerajaan India berikutnya.[105] Di bawah Gupta, pembaruan agama Hindu yang bertumpu pada pengabdian, alih-alih pengelolaan ritual, mulai menguat.[106] Pembaruan tersebut tercermin dalam berkembangnya seni, sastra, dan ilmu pengetahuan.[107][108] Namun, masa kedua kekaisaran ini juga menyaksikan terus terkikisnya hak-hak perempuan[32] dan, pada akhirnya, melembaganya pantangan sentuh.[33] Di India Selatan, sastra Sangam dalam bahasa Tamil menunjukkan bahwa antara 200 SM dan 200 M, bagian selatan semenanjung dikuasai oleh Chera dan Chola, masing-masing di dataran barat dan timur lembah Sungai Kaveri, serta Dinasti Pandya lebih jauh ke selatan di sepanjang lembah Sungai Vaigai.[109] Pada abad ke-6, Pallawa telah berkembang menjadi kekuatan regional. Pada saat yang sama, agama Buddha dan Jainisme, yang mendukung transaksionalisme konservatif, tergantikan oleh pengabdian para raja kepada dewa-dewa yang dikaitkan dengan tempat tertentu; hal ini kemudian menjadi ciri Gerakan Bhakti.[110] Khususnya, Pallawa menjalin perdagangan luas dengan Kekaisaran Romawi, Asia Barat, dan Asia Tenggara.[111]
India abad pertengahan


Awal abad pertengahan India, dari 600 hingga 1200 M, ditandai oleh kerajaan-kerajaan regional dan keragaman budaya.[aa][112] Pada masa ini, seiring pembukaan lahan pertanian, masyarakat penggembala dan kelas penguasa baru di luar tatanan tradisional diintegrasikan ke dalam masyarakat kasta.[113] Akibatnya, sistem kasta mulai menunjukkan perbedaan regional.[113] Pada abad ke-6 dan ke-7, himne pengabdian pertama disusun dalam bahasa Tamil.[114] Himne-himne ini ditiru di seluruh India, mendorong kebangkitan kembali agama Hindu dan meletakkan dasar bagi bahasa-bahasa daerah di anak benua tersebut.[114] Para penguasa India dan kuil-kuil yang mereka dukung menarik banyak penduduk ke ibu kota kerajaan, yang berkembang menjadi pusat ekonomi.[115][ab] Pada abad ke-8 dan ke-9, kebudayaan dan sistem politik India Selatan menyebar ke Asia Tenggara.[ac][34][116][ad] Pada paruh kedua milenium pertama Masehi, agama Yahudi, Kristen, Islam, dan Zoroastrianisme berakar di pesisir selatan dan barat India.[35]
Setelah abad ke-10, klan-klan nomaden Muslim dari Asia Tengah, dengan kavaleri berkuda cepat dan pasukan besar yang dipersatukan oleh kesamaan etnis, berulang kali menyerbu dataran barat laut Asia Selatan.[36] Serbuan ini akhirnya menghasilkan berdirinya Kesultanan Delhi yang bercorak Islam pada 1206[117] dan menghubungkan India dengan dunia Islam kosmopolitan.[37] Kesultanan ini kemudian menguasai sebagian besar India Utara dan berkali-kali menyerbu India Selatan. Pada awalnya, kekuasaannya mengguncang kedudukan elite India, tetapi sebagian besar penduduk non-Muslim yang menjadi rakyatnya tetap dibiarkan menjalankan hukum dan adat masing-masing.[118] Dengan berulang kali memukul mundur penyerbu Mongol pada abad ke-13, kesultanan ini menyelamatkan India dari kehancuran yang menimpa Asia Barat dan Asia Tengah.[119] Keadaan ini membuka jalan bagi migrasi para prajurit, cendekiawan, mistikus, dan perajin yang melarikan diri dari kawasan-kawasan tersebut ke anak benua India selama berabad-abad, sehingga membentuk kebudayaan Indo-Islam yang sinkretis di utara.[120] Serangan kesultanan yang melemahkan kerajaan-kerajaan regional di India Selatan membuka jalan bagi munculnya kekuasaan setempat, Kemaharajaan Wijayanagara.[121] Dengan menganut tradisi Saiwa yang kuat dan mengembangkan teknologi militer kesultanan, kemaharajaan ini kemudian menguasai sebagian besar semenanjung India dan meninggalkan pengaruh yang bertahan lama pada masyarakat India Selatan.[38]
India pada awal zaman modern


Pada awal abad ke-16, India utara—yang ketika itu sebagian besar berada di bawah penguasa Muslim[122]—kembali ditaklukkan oleh generasi baru prajurit Asia Tengah yang unggul dalam mobilitas dan daya tembak.[123] Kekaisaran Mughal yang kemudian terbentuk tidak melenyapkan masyarakat setempat yang dikuasainya. Sebaliknya, kekaisaran ini menyeimbangkan hubungan dan meredakan konflik di antara mereka melalui praktik administrasi baru[124][125] serta elite penguasa yang beragam dan inklusif.[126] Hal ini menghasilkan pemerintahan yang lebih sistematis, terpusat, dan seragam.[127] Dengan meninggalkan ikatan kesukuan dan identitas Islam yang eksklusif, terutama pada masa Akbar, penguasa Mughal mempersatukan kekaisaran mereka yang luas melalui kesetiaan pribadi kepada seorang kaisar yang dianggap hampir bersifat ilahi,[128] yang diwujudkan melalui kebudayaan bersama bercorak Persia.[128]
Negara Mughal memperoleh sebagian besar pendapatannya dari pertanian.[129] Kebijakan ekonominya mewajibkan pembayaran pajak dalam mata uang perak yang diatur secara ketat[130] dan mengintegrasikan petani serta perajin ke dalam pasar yang lebih luas.[131] Perdamaian relatif yang dipertahankan kekaisaran ini sepanjang sebagian besar abad ke-17 membantu mendorong pertumbuhan ekonomi India.[132] Kelas penguasa Mughal memberikan dukungan luas bagi seni, termasuk seni lukis, berbagai bentuk sastra, tekstil, dan arsitektur.[133] Kelompok-kelompok sosial di India utara dan barat yang baru semakin padu, seperti Maratha, Rajput, dan Sikh, mulai memiliki ambisi pemerintahan pada masa Mughal.[134] Melalui kerja sama maupun pertentangan, Mughal memberi mereka pengakuan dan pengalaman militer.[134] Perluasan perdagangan melahirkan elite niaga dan politik India yang baru di pesisir selatan dan timur.[134] Sejak akhir abad ke-17, Kekaisaran Mughal berangsur-angsur terpecah, dan elite serta komunitas setempat ini kerap memperoleh otonomi dan kewenangan pemerintahan sendiri yang lebih besar.[135]
Pada awal abad ke-18, batas antara usaha dagang dan kedaulatan politik semakin kabur.[136] Perusahaan-perusahaan Eropa yang memperoleh piagam kerajaan memperkukuh kehadirannya di India melalui pos-pos berbenteng di pesisir; yang paling menonjol ialah Perusahaan Hindia Timur Inggris.[136][137] Penguasaan laut, sumber daya yang lebih besar, serta pelatihan dan teknologi militer yang lebih maju mendorong perusahaan tersebut semakin mengandalkan kekuatan militernya dan menjadikannya mitra yang menarik bagi sebagian elite India. Faktor-faktor ini sangat penting dalam memungkinkan perusahaan menguasai Benggala pada 1765 dan menyingkirkan perusahaan-perusahaan Eropa lainnya.[138][139][140][141] Akses lebih lanjut terhadap kekayaan Benggala, disusul peningkatan kekuatan dan jumlah pasukannya, memungkinkan perusahaan menganeksasi atau menundukkan sebagian besar India pada 1820-an.[142] India tidak lagi mengekspor barang manufaktur seperti sebelumnya, melainkan memasok bahan mentah bagi Imperium Britania. Banyak sejarawan menganggap perubahan ini sebagai awal masa kolonial India.[143] Pada masa ini, setelah kekuatan ekonominya sangat dibatasi oleh Parlemen Britania dan secara efektif dijadikan perpanjangan tangan pemerintahan Britania, Perusahaan Hindia Timur mulai lebih sengaja memasuki ranah di luar ekonomi, termasuk pendidikan, reformasi sosial, dan kebudayaan.[144]
India modern


Pengangkatan Lord Dalhousie sebagai gubernur jenderal Perusahaan Hindia Timur pada 1848 membuka jalan bagi perubahan-perubahan penting untuk membentuk negara modern: memperkukuh dan menetapkan batas kedaulatan, memantau penduduk melalui sensus,[145] mendidik warga, dan merasionalisasi birokrasi.[146] Kemajuan teknologi, termasuk kereta api, kanal, dan telegraf, diperkenalkan hanya beberapa tahun setelah diperkenalkan di Eropa.[146] Perusahaan Hindia Timur menjamin tingkat imbal hasil tetap untuk menarik investor swasta Britania.[146] Pada saat yang sama, para pendukung pekerjaan umum tersebut melobi pemerintah Britania dengan mengemukakan bahwa proyek-proyek itu diperlukan bagi logistik dan keamanan militer serta reformasi sosial dan budaya India.[146] Karena itu, Kanal Gangga di Doab Hulu—yang dirancang oleh Proby Cautley pada masa Lord Auckland dan diselesaikan pada masa Dalhousie—dipromosikan kepada Dewan Direksi perusahaan di London sebagai tanggapan bantuan yang sangat dibutuhkan atas kelaparan Agra 1837–1838, sekaligus proyek irigasi dan pelayaran yang menghasilkan pendapatan. Kanal ini membawa kemakmuran pertanian bagi sebagian wilayah,[147] tetapi akhirnya menyebabkan penggaraman tanah di wilayah lain.[148]
Ketidakpuasan terhadap perusahaan juga meningkat pada masa ini dan memuncak dalam Pemberontakan India 1857, yang melanda bagian tengah dataran Gangga dan meluas ke India Tengah.[149] Pemberontakan yang mengguncang dasar kekuasaan perusahaan ini[150][151] dipicu oleh beragam kekecewaan dan persepsi, termasuk reformasi sosial ala Britania yang dianggap mencampuri kehidupan masyarakat,[152] pajak tanah yang memberatkan,[153] dan perlakuan sewenang-wenang terhadap sejumlah tuan tanah kaya dan pangeran.[154] Namun, faktor-faktor yang diduga menjadi penyebab pemberontakan tersebut tidak secara seragam memicu perlawanan nyata.[155] Para pemimpin pemberontak tidak mengemukakan seperangkat prinsip yang padu sebagai dasar sistem politik baru.[156] Yang menentukan, banyak wilayah India—termasuk Punjab, Kepresidenan Madras, dan Kepresidenan Bombay—tidak ikut memberontak, sehingga memastikan kekalahan pemberontakan itu pada akhirnya. Kaum intelektual Bengali dan princely state besar juga tidak bergabung.[157] Setelah pemberontakan dipadamkan pada 1858, Perusahaan Hindia Timur dibubarkan dan pemerintah Britania mengambil alih pemerintahan langsung atas India.[158] Penguasa baru menyatakan pembentukan negara kesatuan dan penerapan sistem parlementer ala Britania secara bertahap tetapi terbatas.[159] Mereka juga melindungi para pangeran dan bangsawan pemilik tanah sebagai penyangga feodal untuk mencegah pergolakan di kemudian hari.[160] Dalam beberapa dasawarsa berikutnya, kehidupan publik yang lebih terorganisasi berangsur-angsur muncul di seluruh India,[161] hingga akhirnya mendorong pembentukan Kongres Nasional India pada 1885.[162]
Komersialisasi pertanian yang pesat pada paruh kedua abad ke-19 menimbulkan kemunduran ekonomi yang berat dan membuat banyak petani kecil bergantung pada ketidakpastian pasar yang jauh.[163] Pada masa ini, bencana kelaparan berskala besar semakin sering terjadi.[164] Selain itu, meskipun risiko pembangunan infrastruktur ditanggung oleh pembayar pajak India, hanya sedikit lapangan kerja industri yang tercipta bagi penduduk setempat.[165] Namun, penanaman tanaman komersial, terutama di Punjab yang baru memperoleh irigasi kanal, memang meningkatkan produksi pangan untuk konsumsi dalam negeri.[166] Jaringan kereta api yang meluas menyediakan bantuan penting saat kelaparan,[167] secara nyata menurunkan biaya angkutan barang,[167] dan membantu industri milik orang India yang baru tumbuh.[168] Bencana-bencana kelaparan didokumentasikan secara sistematis, yang menghasilkan penerbitan Pedoman Penanganan Kelaparan India serta laporan Komisi Kelaparan India pada 1880, 1897, dan 1901.[169]
Selama Perang Dunia I, lebih dari satu juta orang India bertugas dalam militer, sementara pajak tanah India memberikan sumbangan keuangan yang besar bagi upaya perang Sekutu.[170] Seusai perang, Britania memberlakukan reformasi konstitusi yang terbatas, tetapi juga undang-undang represif. Hal ini mendorong Mahatma Gandhi, yang baru tiba dari Afrika Selatan, melancarkan gerakan nonkooperasi tanpa kekerasan.[171] Pada akhir 1920-an dan awal 1930-an, gagasan Bolshevisme dan anarkisme membangkitkan militansi yang semakin meluas di anak benua India dan menambah desakan bagi gerakan pembangkangan sipil Kongres.[172] Sejak pertengahan 1930-an, Britania memperkenalkan reformasi legislatif, termasuk keterwakilan khusus bagi kelompok yang dianggap tak boleh disentuh dan Undang-Undang Pemerintahan India 1935, yang menjadi rancangan negara federal dengan otonomi provinsi yang luas.[173] Kongres Nasional India meraih kemenangan dalam pemilihan yang diselenggarakan berdasarkan reformasi tersebut.[174] Dasawarsa berikutnya ditandai oleh krisis yang kian meningkat: pernyataan sepihak raja muda Britania mengenai keikutsertaan India dalam Perang Dunia II, pengunduran diri pemerintahan Kongres di provinsi-provinsi, seruan nonkooperasi pada 1942 oleh partai tersebut,[175] pemenjaraan para pemimpinnya sesudah itu, serta menguatnya nasionalisme Muslim.[176] Seusai perang, kemenangan besar Liga Muslim dalam pemilihan provinsi 1946 menjadi titik balik penting. Dengan merebut kursi-kursi yang diperuntukkan bagi Muslim, partai ini memperoleh mandat Muslim untuk pembentukan Pakistan, yang akhirnya berujung pada pemisahan India Britania.[177] Dua negara baru, Pakistan dan India, lahir pada 14–15 Agustus 1947, disertai banyaknya korban jiwa dan perpindahan penduduk dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.[178]
Konstitusi India disahkan pada 1950 dan menetapkan India sebagai republik federal dengan sistem parlementer yang demokratis. Konstitusi tersebut menjamin kebebasan berbicara, kebebasan pers,[57] dan pluralisme agama.[58] Amendemen yang diberlakukan sejak 1951 memperkuat program tindakan afirmatif untuk menghapus ketimpangan dalam sistem kasta.[59] Undang-Undang Reorganisasi Negara-Negara Bagian 1956, yang menata ulang batas wilayah berdasarkan bahasa, melembagakan kebanggaan terhadap bahasa daerah[60] serta mendorong perkembangan sastra dan perfilman berbahasa daerah.[61] Pada 1971, pembentukan Bangladesh mengubah keseimbangan kekuatan regional;[64] penghapusan hak-hak istimewa penguasa kepangeranan menyingkirkan sisa-sisa terakhir tatanan feodal India.[65][179] Pada masa ini, jumlah penduduk India meningkat pesat: dari 361 juta pada 1951[66] menjadi sekitar 1,464 miliar pada 2025,[67] melampaui Tiongkok pada 2021.[21] Reformasi ekonomi pada 1990-an mengintegrasikan perekonomian India dengan perekonomian dunia melalui pengurangan regulasi pemerintah atas perusahaan swasta dalam dan luar negeri.[68] Pada pertengahan 2010-an, perekonomian India tumbuh pesat,[69] terutama dalam jasa teknologi informasi.[180] India memiliki kelas menengah besar dengan konsumsi yang tinggi dan mengalami ledakan perkembangan komunikasi.[70] Namun, pertumbuhan ekonomi India disertai kesenjangan pendapatan yang melebar,[71] ketimpangan gender,[72] dan kerusakan lingkungan.[73] Dalam beberapa tahun terakhir, India mengalami pergeseran ke arah mayoritarianisme dan nasionalisme Hindu,[74] yang menyebabkan kemunduran demokrasi.[181]
Geografi
Geologi
India mencakup sebagian besar anak benua India dan terletak di atas Lempeng India, bagian dari Lempeng Indo-Australia.[182] Proses geologis yang membentuk ciri utama India dimulai sekitar 70 juta tahun yang lalu, ketika Lempeng India, yang saat itu merupakan bagian dari superbenua selatan Gondwana, mulai bergerak ke timur laut akibat pemekaran lantai samudra di sebelah barat dayanya, kemudian di selatan dan tenggara.[182] Pada saat yang sama, kerak samudra Tethys yang luas di sebelah timur laut mulai menunjam ke bawah Lempeng Eurasia.[182] Kerak benua India tertahan dan mengalami geseran mendatar; sementara kerak bawah dan mantelnya menyusup ke bawah Eurasia, lapisan atasnya menumpuk dalam bentuk lembaran-lembaran di depan zona subduksi.[183] Proses orogenesis ini membentuk Pegunungan Himalaya.[184] Lapisan tengah yang lebih kaku terus mendesak ke Tibet dan menyebabkan penebalan kerak Dataran Tinggi Tibet.[185] Tepat di selatan Himalaya yang sedang terbentuk, pergerakan lempeng menciptakan cekungan luas berbentuk bulan sabit yang cepat terisi endapan bawaan sungai[186] dan kini menjadi Dataran Indo-Gangga.[187] Bagian asli Lempeng India pertama kali muncul di atas endapan tersebut pada Pegunungan Aravalli yang tua, membentang dari Punggungan Delhi ke barat daya. Di sebelah baratnya terletak Gurun Thar, yang perluasannya ke timur dibatasi oleh Aravalli.[188][189][190]
Geografi fisik
Lempeng India masih tersisa sebagai semenanjung India, bagian tertua dan paling stabil secara geologis di negara ini. Wilayah tersebut membentang ke utara hingga Pegunungan Satpura dan Vindhya di India tengah. Kedua rangkaian pegunungan yang sejajar ini membentang dari pesisir Laut Arab di Gujarat di barat hingga Dataran Tinggi Chota Nagpur yang kaya batu bara di Jharkhand di timur.[191] Di selatan, daratan semenanjung berupa Dataran Tinggi Dekkan diapit oleh pegunungan pesisir Ghat Barat dan Ghat Timur.[192] Dataran tinggi ini memiliki formasi batuan tertua di India, beberapa di antaranya berusia lebih dari satu miliar tahun. Secara geografis, India terletak di utara khatulistiwa, antara 6°44′ dan 35°30′ lintang utara[ae] serta 68°7′ dan 97°25′ bujur timur.[193]
Sungai-sungai besar yang berhulu di Himalaya dan sebagian besar alirannya melintasi India meliputi Gangga dan Brahmaputra, yang keduanya bermuara di Teluk Benggala.[194] Anak-anak sungai penting Gangga antara lain Sungai Yamuna dan Kosi. Kemiringan aliran Kosi yang sangat kecil akibat pengendapan lumpur dalam jangka panjang menyebabkan banjir besar dan perubahan alur sungai.[195][196] Sungai-sungai besar di semenanjung, yang kemiringannya lebih curam sehingga mencegah banjir meluas, meliputi Godavari, Mahanadi, Kaveri, dan Krishna, yang juga bermuara di Teluk Benggala;[197] serta Narmada dan Tapti, yang bermuara di Laut Arab.[198]
Panjang garis pantai India mencapai 7.517 kilometer (4.700 mi), yang terdiri atas 5.423 kilometer (3.400 mi) garis pantai semenanjung India dan 2.094 kilometer (1.300 mi) garis pantai gugusan Kepulauan Andaman, Nikobar, dan Lakshadwip.[199] Menurut peta hidrografi Angkatan Laut India, garis pantai daratan utama terdiri atas 43% pantai berpasir, 11% pantai berbatu termasuk tebing, dan 46% dataran lumpur pasang surut atau pantai berawa.[199] Bentang alam pesisirnya meliputi Rann of Kutch yang berawa di India barat dan delta aluvial Sundarban di India timur, yang sebagian wilayahnya berada di Bangladesh.[200] India memiliki dua gugusan kepulauan: atol-atol karang Lakshadwip di lepas pantai barat daya dan Kepulauan Andaman dan Nikobar, gugusan vulkanik di Laut Andaman.[201]
- Taman Nasional Lembah Bunga, Uttarakhand, dengan ketinggian rata-rata 3.500 meter (11.500 ft), merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO
- Sungai Tungabhadra, dengan singkapan batuannya, bermuara ke Sungai Krishna di semenanjung India.[202]
Iklim

Menurut klasifikasi iklim Köppen, wilayah-wilayah India memiliki iklim subtropis lembap dengan musim dingin kering (CWa, terutama dataran sungai Gangga, Brahmaputra, dan sungai-sungai Punjab); sabana tropis dengan musim dingin kering (Aw, sebagian besar semenanjung India kecuali Dataran Tinggi Dekkan dan Ghat Barat); semiarid panas (BSh, Dataran Tinggi Dekkan, sebagian Gujarat, Rajasthan timur, Punjab, dan Uttar Pradesh barat); gurun panas (BWh, Gujarat utara dan Rajasthan barat); muson tropis (Am, Ghat Barat); dataran tinggi subtropis dengan musim dingin kering (CWb, Himachal Pradesh, Uttarakhand, Benggala utara, dan dataran tinggi India timur laut); gurun dingin (BWk, Ladakh timur); hutan hujan tropis (Af, Sundarban, Kepulauan Andaman dan Nikobar); hemiboreal dengan musim panas hangat (Dsb, dataran tinggi Himachal Pradesh dan Kashmir di bawah Himalaya); serta tudung es di Himalaya Barat.
Sistem cuaca muson berperan besar dalam iklim India. Himalaya dan Dataran Tinggi Tibet sendiri berperan penting dalam pembentukan muson Asia Selatan, yang menyumbang 75–80 persen curah hujan tahunan India.[203] Pada musim dingin, Dataran Tinggi Tibet, dengan ketinggian rata-rata 4.500 m, berfungsi seperti menara es dan membelah angin baratan, baik yang bertiup pada ketinggian rendah maupun, melalui gesekan, arus jet di ketinggian.[204] Cabang selatannya mengitari Himalaya. Tepat setelah melewati pegunungan tersebut, aliran ini melambat dan menciptakan konvergensi, atau penumpukan udara, sehingga udara turun dan membentuk angin permukaan kering dari arah timur laut di atas India. Proses ini mempertahankan musim dingin India yang kering dan sejuk.[205] Setelah angin tersebut melemah, angin baratan subtropis mengarahkan gangguan barat ekstratropis dari kawasan Mediterania dan Timur Tengah melintasi India barat laut, membawa hujan bagi tanaman musim dingin dan menambah massa gletser di Karakoram.[206]
Pada Mei, matahari memanaskan Dataran Tinggi Tibet dengan kuat. Udara hangat yang naik menghasilkan antisiklon di ketinggian.[207] Hal ini membentuk Arus Jet Timuran Tropis di atas India selatan, yang menarik angin permukaan barat daya bermuatan uap air dari Samudra Hindia.[208] Ghat Barat menghadang angin tersebut sehingga uap airnya turun sebagai hujan orografis, sementara sebagian besar semenanjung India berada dalam bayangan hujan pegunungan itu.[209] Dataran pedalaman India bergantung pada depresi muson untuk memperoleh hujan. Sistem badai bertekanan rendah ini terbentuk di atas Teluk Benggala dan diarahkan searah jarum jam menuju pedalaman oleh arus jet antisiklonik.[210] Sistem tersebut menyebabkan hujan musim panas di seluruh India dari Juni hingga September.[211] Namun, curah hujan berfluktuasi secara siklis, bergantian antara fase aktif dengan hujan lebat dan jeda kering.[212]
- Pegunungan Agasthiyamalai, Ghat Barat, dilihat dari wilayah bayangan hujan di Tirunelveli, Tamil Nadu
Keanekaragaman hayati
India merupakan negara megadiversitas, istilah untuk 17 negara yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi dan banyak spesies asli atau endemik.[213] India menjadi habitat bagi 8,6% seluruh spesies mamalia, 13,7% spesies burung, 7,9% spesies reptil, 6% spesies amfibi, 12,2% spesies ikan, dan 6,0% seluruh spesies tumbuhan berbunga.[214][215] Sepertiga spesies tumbuhan India merupakan spesies endemik.[216] Wilayah India juga mencakup bagian dari empat di antara 34 titik panas keanekaragaman hayati dunia,[217] yakni kawasan dengan tingkat endemisme tinggi yang mengalami kehilangan habitat secara besar-besaran.[af][218]
Hutan terlebat India, seperti hutan tropis lembap di Kepulauan Andaman, Ghat Barat, dan India Timur Laut, menempati sekitar 3% luas daratannya.[219][220] Hutan dengan kerapatan sedang, yang memiliki tutupan tajuk antara 40% dan 70%, mencakup 9,39% luas daratan India.[219][220] Kategori ini mendominasi hutan runjung beriklim sedang di Himalaya, hutan sala gugur daun yang lembap di India timur, serta hutan jati gugur daun yang kering di India tengah dan selatan.[221] India memiliki dua zona alami hutan berduri: satu di Dataran Tinggi Dekkan, tepat di sebelah timur Ghat Barat, dan satu lagi di bagian barat Dataran Indo-Gangga. Zona kedua kini telah diubah melalui irigasi menjadi lahan pertanian yang subur sehingga ciri-ciri aslinya tidak lagi tampak.[222] Pohon asli anak benua India yang terkenal antara lain Azadirachta indica, atau mimba, yang memiliki sifat astringen dan banyak digunakan dalam pengobatan herbal di pedesaan India,[223] serta Ficus religiosa, atau ara suci, yang rimbun.[224] Pohon ara suci digambarkan pada cap-cap kuno Mohenjo-daro[225] dan, menurut Tripitaka Pali, menjadi tempat Buddha mencari pencerahan.[226]
Banyak spesies India merupakan keturunan spesies dari Gondwana, superbenua selatan yang terpisah dari India lebih dari 100 juta tahun yang lalu.[227] Tumbukan India dengan Eurasia kemudian memicu pertukaran spesies secara besar-besaran. Namun, aktivitas vulkanik dan perubahan iklim selanjutnya menyebabkan kepunahan banyak bentuk kehidupan endemik India.[228] Pada masa berikutnya, mamalia memasuki India dari Asia melalui dua jalur zoogeografis di kedua sisi Himalaya.[229] Hal ini menurunkan tingkat endemisme mamalia India menjadi 12,6%, dibandingkan dengan 45,8% pada reptil dan 55,8% pada amfibi.[215] Spesies endemiknya antara lain langur nilgiri[230] yang berstatus rentan[231] dan kodok Beddome[232][233] yang terancam, keduanya dari Ghat Barat.
Menurut Daftar Merah IUCN, India memiliki 1.021 spesies hewan yang terancam—99 mamalia, 82 burung, 105 reptil, 139 amfibi, 332 ikan, 10 moluska, dan 254 invertebrata lainnya—serta 727 spesies tumbuhan dan 4 spesies jamur yang terancam.[234] Di antaranya ialah harimau benggala dan lumba-lumba Sungai Gangga yang berstatus terancam punah. Spesies berstatus terancam kritis meliputi gavial, sejenis buaya; Ardeotis nigriceps; dan hering rumbai-putih, yang hampir punah akibat memakan bangkai ternak yang diberi diklofenak.[235] Sebelum dimanfaatkan secara luas untuk pertanian dan dibuka untuk permukiman, hutan berduri Punjab berselang-seling dengan padang rumput terbuka yang menjadi tempat merumput kawanan besar antelop india, yang dimangsa citah asia. Antelop india, yang tidak lagi terdapat di Punjab, kini sangat terancam di India, sedangkan citah telah punah.[236] Perambahan manusia yang meluas dan merusak ekologi dalam beberapa dasawarsa terakhir telah sangat mengancam satwa liar India. Sebagai tanggapan, jaringan taman nasional dan kawasan lindung, yang pertama kali dibentuk pada 1935, diperluas secara besar-besaran. Pada 1972, India memberlakukan Undang-Undang Perlindungan Satwa Liar[237] dan Proyek Harimau untuk melindungi kawasan alam penting. Undang-Undang Konservasi Hutan diberlakukan pada 1980 dan diamendemen pada 1988.[238] India memiliki lebih dari lima ratus suaka margasatwa dan delapan belas cagar biosfer,[239] empat di antaranya merupakan bagian dari Jaringan Cagar Biosfer Dunia. Sebanyak delapan puluh sembilan lahan basah India terdaftar dalam Konvensi Ramsar.[240]
Pemerintahan dan politik

Konstitusi: Konstitusi India disusun oleh Majelis Konstituen India antara 1946 dan 1949, di tengah gejolak politik akibat Pemisahan India.[242] Undang-Undang Pemerintahan India 1935 digunakan sebagai model dan kerangka,[242] dan sejumlah bagian panjangnya dimasukkan ke dalam konstitusi. Konstitusi India menggabungkan prinsip federalisme, yang membagi kewenangan politik, dengan parlementarisme, yang memusatkan kekuasaan legislatif.[243][ag] Struktur federalnya memiliki pemerintah pusat yang kuat, dengan kewenangan atas pertahanan, urusan luar negeri, perkeretaapian, pelabuhan, dan mata uang.[242] Presiden, sebagai kepala negara menurut konstitusi, memiliki kewenangan cadangan untuk mengambil alih pemerintahan suatu negara bagian.[242] Konstitusi ini juga memuat unsur-unsur yang tidak terdapat dalam undang-undang 1935. Perumusan hak-hak dasar mengacu pada Konstitusi Amerika Serikat, sedangkan prinsip-prinsip arahan konstitusional, atau tujuan yang harus diupayakan, mengacu pada Konstitusi Irlandia.[244] Dua di antara lembaga konstitusionalnya ialah Mahkamah Agung India[245] dan Komisi Pemilihan Umum.[246] Konstitusi juga menganjurkan pembentukan panchayat, atau dewan desa.[247] Pantangan sentuh dinyatakan melanggar hukum (Pasal 17), dan pembedaan berdasarkan kasta tidak diakui (Pasal 15 ayat 2 dan Pasal 16 ayat 2).[244] Pada 26 Januari 1950, pemberlakuan Konstitusi India mengubah India menjadi republik dalam Persemakmuran Bangsa-Bangsa.[244]
Kewarganegaraan: Dalam perdebatan Majelis Konstituen, para pendiri India sangat mengutamakan jus soli, atau kewarganegaraan berdasarkan tempat kelahiran. Mereka memandang kelahiran di wilayah negara sebagai prinsip yang sangat demokratis, berbeda tegas dari jus sanguinis, atau kewarganegaraan berdasarkan keturunan, yang mereka tolak karena dianggap rasial dan ketinggalan zaman.[248] Meskipun Konstitusi India pada awalnya menetapkan pengecualian bagi mereka yang bermigrasi ke India setelah Pemisahan India, Undang-Undang Kewarganegaraan 1955 secara resmi menetapkan tempat kelahiran sebagai dasar kewarganegaraan India.[248]
Dasar ini mulai bergeser pada 1980-an, ketika konflik etnis dan pergolakan politik di Assam, negara bagian di India timur laut, menyasar migran penutur bahasa Bengali.[248] Amendemen undang-undang yang menyusul secara bertahap mengikis jus soli.[248] Undang-undang kewarganegaraan baru India semakin mengutamakan garis keturunan daripada tempat kelahiran, sehingga menciptakan hambatan hukum yang berat bagi kelompok pendatang baru atau kelompok terpinggirkan yang berupaya mencapai kesetaraan substantif.[248]
Majelis parlemen: Lok Sabha, majelis rendah parlemen India, terdiri atas 543 anggota yang dipilih langsung berdasarkan hak pilih universal. Sejumlah kursi dikhususkan untuk menjamin keterwakilan yang adil bagi Kasta Terdaftar dan Suku Terdaftar.[249] Namun, produktivitas legislatifnya terus menurun selama beberapa dasawarsa. Rata-rata jumlah hari kerja per tahun turun dari 121 pada 1950-an menjadi hanya 68 pada 2000–2023, dan penurunan ini diperparah oleh semakin seringnya aksi protes yang mengganggu persidangan.[249]
Rajya Sabha, majelis tinggi India, berfungsi sebagai majelis federal yang anggotanya dipilih oleh badan legislatif negara bagian. Sistemnya membobotkan keterwakilan berdasarkan jumlah penduduk sekaligus menjamin jatah minimum bagi wilayah yang lebih kecil.[250] Namun, data historis menunjukkan bahwa sebagian besar anggotanya hanya menjabat selama satu masa jabatan.[250] Tingginya pergantian anggota ini mengisyaratkan bahwa pimpinan partai kerap menggunakan kursi federal tersebut sebagai sarana patronase politik untuk membalas kesetiaan, alih-alih membangun keahlian legislatif jangka panjang.[250]

Kabinet: Secara resmi dikenal di India sebagai Dewan Menteri Persatuan, kabinet merupakan lembaga utama pemerintahan.[251] Secara tradisional, kabinet didasarkan pada tiga prinsip: tanggung jawab kolektif, keseragaman politik, dan kedudukan perdana menteri sebagai yang pertama di antara yang setara.[251] Pemerintahan awal Jawaharlal Nehru, dari 1946 hingga pertengahan 1950-an, diisi oleh para menteri yang percaya diri dan berpikiran mandiri.[ah][251] Namun, setelah pemilihan 1957, mandat besar Partai Kongres menggeser pemerintahan ke model terpusat yang bertumpu pada perdana menteri.[251][ai]
Setelah Nehru wafat pada 1964, selama masa jabatan singkat Lal Bahadur Shastri, pemerintahan sebagian kembali bertumpu pada kabinet. Namun, pada 1969, di bawah Indira Gandhi, pemerintah pusat sebagian besar bekerja dalam bayang-bayang perdana menteri. Pemusatan yang ekstrem ini akhirnya melahirkan keputusan seperti pemberlakuan Keadaan Darurat, yang menangguhkan kebebasan sipil India pada 1975–1977.[251] Sebaliknya, pemerintahan Partai Janata di bawah Morarji Desai (1977–1979) kembali ke model yang bertumpu pada kabinet, meskipun tidak memiliki kesatuan ideologi.[251] Setelah pembunuhan Indira Gandhi pada 1984, pemerintahan Rajiv Gandhi ditandai oleh mayoritas legislatif yang sangat besar, yang memungkinkan perdana menteri merombak pembagian jabatan kabinet sesuka hati.[251]
Antara 1989 dan 2014, India mengalami sebelas kabinet koalisi, ketika cita-cita keseragaman politik diuji berat oleh tuntutan partai-partai yang saling bersaing.[251] Pada masa ini, mitra koalisi menawar untuk mendapatkan portofolio tertentu dan menentukan sendiri calon pejabatnya, sehingga kewenangan perdana menteri sangat melemah.[251] Hanya tiga perdana menteri yang menjalani satu masa jabatan penuh selama lima tahun atau lebih dalam periode yang tidak stabil ini: P.V. Narasimha Rao (1991–1996), Atal Bihari Vajpayee (1999–2004), dan Manmohan Singh (2004–2014).[251][aj] Belakangan, mayoritas Aliansi Demokratik Nasional pada 2014 dan 2019 kembali memusatkan kewenangan yang besar di tangan Perdana Menteri Narendra Modi.
Partai politik: Sejak pertengahan 1980-an, yang menandai paruh kedua sejarah pascakolonial India, Partai Bharatiya Janata (BJP) berkembang dari partai pinggiran menjadi kekuatan politik besar.[252] Para sarjana menafsirkan perkembangan pesat ini sebagai bentuk hegemoni, ketika nasionalisme Hindu sebagian besar telah menggeser sekularisme tradisional di India.[252] Selain daya tarik ideologinya, sumber keuangan partai yang besar dan tekanan kuatnya terhadap media arus utama serta lembaga pengawas—seperti Mahkamah Agung dan Komisi Pemilihan Umum—telah mempersempit ruang gerak partai-partai oposisi.[252] Dominasi politik ini sangat bertumpu pada kepemimpinan Narendra Modi yang terpusat dari atas dan popularitasnya yang luas di kalangan pemilih India.[252]
Berbeda dari BJP, Partai Kongres mengandalkan platform jalan tengah dan organisasi yang longgar, tetapi kesulitan menyesuaikan diri dengan basis pemilih yang berubah dan semakin condong ke kanan.[253] Partai Kongres berganti-ganti antara mengompromikan keyakinannya dan menyerang Hindutva secara langsung; keadaan ini menghambat upayanya untuk kembali mengusung nasionalisme sipil yang menjadi tradisinya.[253] Karena khawatir akan reaksi penolakan pemilih, para pemimpin Kongres sebagian besar menghindari sikap bersama yang tegas dalam membela sekularisme dan keadilan sosial.[253]
Dari akhir 1980-an hingga 2014, partai lokal atau regional memiliki pengaruh besar di tingkat nasional sebagai penopang pemerintahan koalisi dan penentu bertahan atau jatuhnya pemerintahan pusat.[254] Pada masa politik yang terfragmentasi ini, kelompok-kelompok pecahan partai nasional seperti Kongres dan Janata Dal memerintah sebagian besar negara bagian India.[254][ak] Meskipun partai penguasa masih merangkul kelompok lokal untuk meloloskan undang-undang di majelis tinggi, partai-partai daerah ini tidak lagi memiliki kekuatan untuk mengguncang atau menjatuhkan pemerintah pusat.[254][al]

Politik kasta: Setelah kemerdekaan, kekuatan suara pemilih secara bertahap menggeser kekuasaan lokal, dimulai dengan kebangkitan kasta-kasta agraris menengah yang menggantikan kasta-kasta atas tradisional di India selatan dan barat.[255] Pada akhir 1960-an dan 1970-an, perubahan sosial ini meluas ke utara, memicu persaingan berdasarkan kasta dan perpecahan politik di negara bagian seperti Bihar dan Uttar Pradesh.[255] Pelaksanaan rekomendasi Komisi Mandal pada 1990 membuat gerakan ini berhadapan dengan gerakan politik Dalit yang semakin tegas dan mandiri.[255]
Perempuan dalam politik: Keterwakilan perempuan di Lok Sabha dan majelis negara bagian India tetap rendah, sehingga India jauh tertinggal dari rata-rata dunia.[256][am] Partai politik memiliki kendali besar atas pencalonan dan jarang memilih calon perempuan, sehingga perempuan tidak pernah mencakup lebih dari sepuluh persen calon dalam pemilihan nasional mana pun.[256] Meskipun calon perempuan cenderung memiliki tingkat kemenangan lebih tinggi ketika benar-benar dicalonkan, keterwakilan mereka di majelis rendah tertahan pada sekitar 14 persen, sementara angka di tingkat negara bagian bahkan lebih rendah.[256]
Keterwakilan Muslim: Pemisahan anak benua India pada 1947 menghancurkan bobot geografis dan politik Muslim India.[257] Dalam waktu singkat, mereka berubah dari blok politik kuat dengan mayoritas yang jelas di dua kawasan luas—Punjab dan Benggala—menjadi minoritas yang tersebar.[257][an] Karena tersebar begitu luas, Muslim mudah kalah jumlah di hampir setiap badan legislatif negara bagian.[257] Meskipun mencakup lebih dari 14 persen penduduk India, kehadiran mereka di parlemen tetap bersifat simbolis.[257] Dalam pemilihan umum 2024, mereka meraih 4,4 persen, atau 24 kursi Lok Sabha, mendekati angka terendah dalam sejarah.[257] Ini bukan perubahan baru: sejak kemerdekaan, keterwakilan Muslim terus berkisar di sekitar 5 persen, sehingga komunitas ini terperangkap dalam peminggiran politik yang menetap.[257]
Pemaksaan oleh negara dan kekerasan politik: Meskipun India tetap merupakan masyarakat demokratis, pemerintahan yang silih berganti mengandalkan pemaksaan oleh negara untuk memberlakukan kebijakan sepihak dengan masukan publik yang minim.[258] Pendekatan keras ini ditopang oleh kepolisian yang terpolitisasi dan tidak akuntabel, yang secara rutin menggunakan undang-undang penahanan preventif untuk membungkam pengkritik rezim yang berkuasa.[258] Kekerasan politik di India mencakup penghakiman massa setempat, bentrokan bersenjata dalam kampanye, hingga pemberontakan yang mengakar di wilayah perbatasan.[259] Di antara konflik-konflik tersebut, secara historis hanya konflik di Kashmir dan India Timur Laut yang terus mendapat perhatian nasional.[259] Namun, keduanya tetap terisolasi secara politik dibandingkan dengan ledakan kekerasan yang terjadi dalam pemilihan negara bagian.[259] Di negara bagian seperti Kerala dan Benggala Barat, kampanye pemilihan secara terbuka dimiliterisasi; partai-partai arus utama memiliki sayap pemaksa permanen dan jaringan preman sebagai bagian lazim dari mesin partai sehari-hari.[259] Di wilayah lain, terutama Sabuk Hindi, para politikus sengaja memicu kerusuhan agama pada bulan-bulan menjelang pemungutan suara.[259]
Dalam beberapa tahun terakhir, India mengalami kemunduran demokrasi. Gabungan sikap pasif kelembagaan, kelalaian, dan campur tangan politik telah melumpuhkan kemampuan Mahkamah Agung, Komisi Pemilihan Umum, serta lembaga federal lainnya untuk membatasi kekuasaan eksekutif dan partai penguasa yang berpihak pada nasionalisme Hindu bercorak mayoritarian.[181]
Pembagian administratif

India adalah persatuan federal yang terdiri atas 28 negara bagian dan 8 wilayah persatuan.[13] Semua negara bagian, serta wilayah persatuan Jammu dan Kashmir, Puducherry, dan Wilayah Ibu Kota Nasional Delhi, memiliki badan legislatif terpilih dan pemerintahan yang mengikuti sistem Westminster. Lima wilayah persatuan lainnya diperintah langsung oleh pemerintah pusat melalui administrator yang ditunjuk. Pada 1956, berdasarkan Undang-Undang Reorganisasi Negara-Negara Bagian, negara-negara bagian ditata ulang berdasarkan bahasa.[260] Lebih dari seperempat juta badan pemerintahan lokal beroperasi di tingkat kota besar, kota kecil, distrik, blok, dan desa.[261]
- Negara bagian
- Wilayah persatuan
Kebijakan luar negeri dan militer

Sejarah kebijakan luar negeri India terbagi menjadi empat periode. Periode pertama dimulai dengan idealisme pada saat kemerdekaan dan berakhir dengan perang perbatasan Tiongkok–India pada 1962.[263] Periode kedua, yang berlangsung hingga berakhirnya Perang Dingin, mempertahankan retorika nonblok tradisional, tetapi beralih ke pendekatan realistis melalui penyelarasan strategis dan militer dengan Uni Soviet.[263] Runtuhnya blok Soviet pada 1991 mengawali periode ketiga, yang memaksa para pembuat kebijakan meninjau ulang strategi luar negeri India dalam tatanan dunia yang baru menjadi unipolar.[263] Periode keempat, yang masih berlangsung, dimulai pada 2014 di bawah Perdana Menteri Narendra Modi, yang secara sadar berupaya menjauh dari warisan pemikiran para pendahulunya.[263] Meskipun sebelumnya tidak memiliki latar belakang diplomatik, kepemimpinan saat ini menjalankan kebijakan luar negeri yang sangat aktif dan pragmatis, khususnya dalam menjalin hubungan dengan kekuatan-kekuatan global dan negara-negara Timur Tengah, termasuk Israel.[263] Sikap realistis ini pada awalnya juga diterapkan terhadap Tiongkok: pendekatan diplomatik awal tetap berlanjut meskipun terjadi pelanggaran perbatasan setempat.[263] Namun, bentrokan militer di Lembah Galwan pada 2020 yang menelan korban jiwa memaksa India meninggalkan kemitraan yang stabil dengan Tiongkok.[263] Pemerintahan saat ini juga kurang berminat pada Gerakan Nonblok dan menyimpang dari kebiasaan sebelumnya dengan melewatkan beberapa konferensi tingkat tinggi.[263] Meskipun demikian, otonomi strategis tetap menjadi inti doktrin nasional, sebagaimana terlihat dari penolakannya untuk mengecam invasi Rusia ke Ukraina.[263]
India tetap sangat peka terhadap perbatasan daratnya dan memandang Pakistan maupun Tiongkok sebagai ancaman berkelanjutan yang menggunakan perebutan wilayah berskala kecil untuk mengubah status quo.[264] Untuk menghadapi kemungkinan perang serentak di dua front, India mengalokasikan sebagian besar sumber daya dan personel pertahanannya bagi pertahanan darat.[264] Prioritas ini membatasi pendanaan bagi Angkatan Laut India untuk memproyeksikan kekuatan maritim di kawasan Indo-Pasifik yang lebih luas.[264] Jumlah hulu ledak nuklir India secara resmi tetap dirahasiakan, tetapi akumulasi bahan fisil yang terus berlangsung memberinya kemampuan untuk menyamai jumlah persenjataan kekuatan-kekuatan nuklir utama pada akhir 2020-an.[265]
Ekonomi
Setelah merdeka pada 1947, India beralih dari model ekonomi kolonial menuju industrialisasi dan pengentasan kemiskinan.[266] Peralihan ini disertai perluasan besar kewenangan pemerintah. Proporsi belanja pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) meningkat dari 3–5 persen pada 1931 menjadi 22 persen pada 1981.[266] Administrasi publik dan badan usaha milik negara menjadi pemberi kerja utama.[266] Untuk mengelola intervensi pasar ini, pada 1950-an India membangun sistem statistik menyeluruh yang dikelola pemerintah federal guna menyelenggarakan survei sampel berskala besar untuk memantau dan menilai taraf hidup atau dampak intervensi.[266] Negara menggunakan kebijakan fiskal dan bantuan internasional untuk membiayai industrialisasi padat modal serta memberikan subsidi bagi barang-barang pokok seperti pangan, pupuk, dan tenaga listrik.[267] Namun, pada 1970-an, belanja publik yang besar ini tidak lagi dapat dipertahankan.[267] Pertumbuhan ekonomi dalam negeri melambat dan memicu krisis neraca pembayaran, sedangkan belanja pemerintah mendatar pada sekitar 28–30 persen PDB.[267] Perencanaan yang dipimpin pemerintah memberikan hasil yang beragam.[268] Banyak perubahan ekonomi besar di India tidak direncanakan oleh birokrat pemerintah.[268] Revolusi Hijau pada 1970-an, migrasi tenaga kerja besar-besaran ke Timur Tengah, dan ledakan industri garmen semuanya muncul dari kekuatan pasar global dan aktor nonnegara; pemerintah baru menyesuaikan diri setelah perubahan-perubahan tersebut berlangsung.[268]
Perubahan besar terjadi pada 1990-an ketika India kembali bergabung dengan perekonomian global.[269][68] Pemerintah India menurunkan bea masuk dan memberlakukan reformasi yang berorientasi pasar.[269] Tahap ini pada awalnya ditopang oleh kiriman uang pekerja dari luar negeri dan peningkatan tajam ekspor barang padat karya seperti tekstil.[269] Setelah itu, ekspor jasa dan perangkat lunak tumbuh semakin cepat seiring menurunnya biaya komunikasi global.[269] Secara keseluruhan, investasi usaha swasta meningkat tajam ketika pemerintah India mengubah prioritas ekonominya.[269] Pada pertengahan 2010-an, perekonomian India tumbuh pesat.[69][270] Pertumbuhan ini menghasilkan kemajuan dalam pengentasan kemiskinan, peningkatan penerimaan pajak nasional, dan lonjakan investasi swasta.[270] Ketika pemerintah India secara bertahap menarik diri dari investasi langsung di sektor industri, pemerintah sekaligus meningkatkan belanja publik untuk proyek infrastruktur penting guna mengimbangi urbanisasi yang semakin cepat.[270] Keterbukaan ekonomi ini juga mendiversifikasi perekonomian dalam negeri.[270] Industri-industri baru bermunculan, terutama jasa teknologi informasi,[180] sementara infrastruktur peradilan nasional perlahan menyesuaikan diri.[270] Namun, pertumbuhan tersebut disertai kesenjangan pendapatan yang melebar,[71] dan sebagian data menunjukkan bahwa peningkatan kesejahteraan secara keseluruhan serta kualitas hidup sehari-hari masih terbatas.[270] Selain itu, pembangunan pesat semakin memperbesar tekanan terhadap lingkungan. Sebagai tanggapan, muncul gerakan politik aktivis yang menentang kerusakan lingkungan.[73][270]
- Pekerjaan konstruksi pada musim muson di Pasar Kota Ooty, Ootacamund, Tamil Nadu, Agustus 2025
- Pada 2019, 43% tenaga kerja India bekerja di sektor pertanian.[271]
- Seorang perempuan menanam lobak di bagian depan gambar dan bawang putih di sebelah kanan, di sebuah desa di Pegunungan Nilgiri, Tamil Nadu. Pada 2019, 55% tenaga kerja perempuan India bekerja di sektor pertanian.[272]
- Program pelatihan profesional mesin permainan Unity di Laboratorium Penelitian dan Pelatihan Pusat, Dewan Nasional Museum Sains, Kolkata, pada Maret 2018
Industri

India merupakan pusat teknologi informasi dan jasa bisnis dunia, yang menyumbang 7,5% terhadap PDB dan lebih dari 35% terhadap ekspor jasa.[273][274] Sektor ini ditopang oleh tenaga kerja terampil berbahasa Inggris dalam jumlah besar, dengan pendapatan melampaui $300 miliar pada tahun anggaran 2026.[275] Meskipun sebelumnya mengandalkan pusat panggilan dasar dan perbaikan perangkat lunak sederhana, industri ini telah beralih ke komputasi awan, kecerdasan buatan, dan pusat teknologi internasional.[276][277] Bengaluru berkembang dari lokasi alih daya luar negeri berbiaya rendah menjadi pusat riset perusahaan terkemuka, sehingga menjadi salah satu pusat teknologi terbesar di luar Silicon Valley.[278][279]
Sektor otomotif India mencakup 7,1% perekonomiannya.[280] Sektor ini memproduksi 28 juta kendaraan setiap tahun,[280] yang sebagian besar berupa kendaraan roda dua (77%), disusul mobil penumpang (18%).[281] Pada 2022, 8 persen rumah tangga India memiliki mobil, 55 persen memiliki sepeda, dan 54 persen memiliki sepeda motor atau skuter.[282] Pada 2023, India menjadi pasar otomotif terbesar ketiga di dunia, dengan pembeli—banyak di antaranya berusia 30-an—yang semakin memilih SUV.[283]
Sektor farmasi India mengandalkan jaringan fasilitas produksi yang luas dengan fokus pada manufaktur berbiaya rendah. Ribuan pabrik dan perusahaan dalam negeri membentuk sektor ini dan bersama-sama menjadikan India pemasok utama obat generik dan vaksin dunia berdasarkan volume.[284] Namun, sektor ini menghadapi kerentanan rantai pasok, terutama ketergantungan pada Tiongkok untuk lebih dari 70% bahan baku bahan aktif farmasi (API).[285] Meskipun pabrik-pabrik India menjalani audit kendali mutu internasional, proporsi hasil audit yang tidak memenuhi ketentuan turun dari 12 persen pada 2015 menjadi 8 persen pada 2025. Sebanyak 80% hasil tersebut terjadi pada perusahaan kecil, bukan pada 20 perusahaan terbesar.[286]
Total kapasitas pembangkit listrik terpasang India melebihi 532 GW, dengan sumber energi nonfosil dan terbarukan menyumbang lebih dari 283,5 GW, atau sekitar 53%.[287] Penggunaan batu bara merupakan salah satu penyebab utama emisi gas rumah kaca India, tetapi kapasitas energi terbarukannya terus bertambah.[288] India menghasilkan sekitar 7% emisi gas rumah kaca dunia. Jumlah ini setara dengan sekitar 2,5 ton karbon dioksida per orang per tahun, atau separuh rata-rata dunia.[289][290] Peningkatan akses terhadap listrik dan kegiatan memasak dengan energi bersih menggunakan elpiji menjadi prioritas sektor energi India.[291]
- Kebun teh di Sikkim. India, produsen teh terbesar kedua di dunia, memiliki satu miliar peminum teh yang mengonsumsi 70% produksi teh negara itu.
- Jaring ikan Tiongkok sedang diangkat di Kollam. Perikanan menyumbang 1,07% dari total PDB India[293] dan menopang lebih dari 28 juta orang, terutama dari kelompok masyarakat rentan.[294]
Demografi
Jumlah penduduk India mencapai 361 juta pada 1951.[66] Angka ini meningkat menjadi sekitar 1,464 miliar pada 2025,[67] setelah melampaui jumlah penduduk Tiongkok pada 2021.[21] Laporan sementara sensus 2011 mencatat 1.210.193.422 penduduk.[295] Usia median penduduk adalah 28,7 tahun pada 2020.[296] Kemajuan medis selama 50 tahun terakhir serta peningkatan produktivitas pertanian melalui "Revolusi Hijau" menyebabkan jumlah penduduk India bertambah pesat.[297] Meskipun demikian, laju pertumbuhan penduduk per dasawarsa menurun: jumlah penduduk tumbuh 17,64% pada 2001–2011,[298] dibandingkan dengan 21,54% pada dasawarsa sebelumnya, 1991–2001.[298] Sensus pertama setelah masa kolonial, yang diselenggarakan pada 1951, mencatat 361 juta penduduk.[299] Angka harapan hidup saat lahir meningkat dari 49,7 tahun pada 1970–1975 menjadi 72,0 tahun pada 2023.[300][301] Angka kematian anak di bawah usia lima tahun mencapai 113 per 1.000 kelahiran hidup pada 1994 dan turun menjadi 41,1 per 1.000 kelahiran hidup pada 2018.[300]
Sensus 2011 melaporkan rasio jenis kelamin sebesar 940 perempuan per 1.000 laki-laki.[295] Pembunuhan bayi perempuan di India dan, belakangan, pengguguran janin perempuan telah menyebabkan ketimpangan rasio gender. Jumlah perempuan yang hilang secara demografis meningkat empat kali lipat, dari 15 juta menjadi 63 juta, pada 1964–2014, lebih cepat daripada pertumbuhan penduduk dalam periode yang sama.[302] Menurut sebuah kajian pemerintah India, 21 juta anak perempuan lainnya tidak diinginkan dan tidak memperoleh perawatan yang memadai.[303] Meskipun pemerintah melarang pengguguran kandungan berdasarkan pemilihan jenis kelamin, praktik ini tetap berlangsung.[304]
Migrasi dari pedesaan ke perkotaan merupakan dinamika penting dalam sejarah India belakangan ini. Jumlah penduduk perkotaan meningkat 31,2% antara 1991 dan 2001.[305] Pada 2001, lebih dari 70% penduduk tinggal di pedesaan.[306][307] Tingkat urbanisasi meningkat lagi dari 27,81% dalam sensus 2001 menjadi 31,16% dalam sensus 2011. Laju pertumbuhan penduduk secara keseluruhan melambat karena pertumbuhan di pedesaan turun tajam setelah 1991.[308] Dalam sensus 2011, India memiliki 53 aglomerasi perkotaan berpenduduk lebih dari satu juta jiwa, di antaranya Mumbai, Delhi, Kolkata, Chennai, Bengaluru, Hyderabad, dan Ahmedabad, diurutkan dari jumlah penduduk terbesar.[309]
- Mumbai merupakan aglomerasi perkotaan terbesar di India. Gambar memperlihatkan Hotel Taj Mahal Palace di sebelah kiri dan Gerbang India.
- Panorama Bengaluru, aglomerasi perkotaan terbesar kelima. Pada 1980-an, ketika perusahaan multinasional pertama mulai mendirikan pusat kegiatan di India, mereka memilih Bengaluru karena banyaknya lulusan terampil di kawasan ini, yang didukung oleh banyaknya perguruan tinggi sains dan teknik di wilayah sekitarnya.[310]
Bahasa
Bahasa-bahasa di India termasuk dalam beberapa rumpun bahasa. Sensus India 2011, sensus terakhir yang diselenggarakan pemerintah India, memberikan perincian berikut:[311]
| Rumpun bahasa dan penuturnya di India[311] | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Peringkat | Rumpun bahasa | Subrumpun | Jumlah bahasa | Jumlah penutur | Persentase penutur |
| 1 | Indo-Eropa | Indo-Arya | 21 | 945.052.555 | 78,05% |
| Iran | 1 | 21.677 | 0%[ao] | ||
| Jermanik | 1 | 259.678 | 0,02% | ||
| 2 | Dravida | 17 | 237.840.116 | 19,64% | |
| 3 | Austroasia | 14 | 13.493.080 | 1,11% | |
| 4 | Tibet-Burma | 66 | 12.257.382 | 1,01% | |
| 5 | Semit-Hamit | 1 | 54.947 | 0% | |
Terdapat pula sejumlah kecil penutur bahasa Tai–Kadai, Andaman, rumpun bahasa kecil lainnya, dan bahasa isolat.[312]: 283

Majelis Konstituen India menetapkan bahasa resmi pemerintah federal India pada September 1949, setelah tiga tahun perdebatan antara dua kubu. Pendukung bahasa Hindi menghendaki Hindi dalam aksara Dewanagari menjadi satu-satunya "bahasa nasional" India, sedangkan delegasi India Selatan menginginkan bahasa Inggris mendapat tempat dalam konstitusi.[314][315] Kompromi yang dicapai menetapkan bahwa (i) Hindi menjadi "bahasa resmi" pemerintah federal India; (ii) Inggris menjadi bahasa resmi pendamping selama 15 tahun, sementara kosakata formal Hindi dikembangkan; dan (iii) bentuk internasional angka Hindu-Arab menjadi angka resmi.[314][315] Resolusi kompromi tersebut menjadi Pasal 343–351 Konstitusi India, yang mulai berlaku pada 26 Januari 1950.[314][315] Pada 1965, setelah penolakan keras dari India Selatan terhadap penetapan Hindi sebagai satu-satunya bahasa resmi, dicapai kompromi bahwa Inggris tetap menjadi "bahasa resmi pendamping" tanpa batas waktu.[316][317]
Ketetapan Kedelapan Konstitusi India juga mengakui 22 bahasa, termasuk Hindi tetapi tidak termasuk Inggris, yang wajib dikembangkan oleh pemerintah. Bahasa-bahasa ini terkadang disebut "bahasa terdaftar". Daftarnya mencakup bahasa-bahasa daerah utama serta bahasa lain—seperti Sanskerta, yang tidak lagi memiliki penutur bahasa ibu di India, dan Urdu, yang tidak terbatas pada wilayah tertentu—karena nilainya bagi warisan budaya India.[318][319][320] Pada 1950, terdapat 14 bahasa terdaftar: Assam, Bengali, Gujarat, Hindi, Kannada, Kashmir, Malayalam, Marathi, Oriya, Punjab, Sanskerta, Tamil, Telugu, dan Urdu.[311] Dalam beberapa dasawarsa berikutnya, amendemen konstitusi menambahkan Sindh (1967); Nepal, Manipuri, dan Konkan (1992); serta Maithili, Dogri, Santali, dan Bodo (2004).[311]
- Peta India menurut bahasa ibu yang dominan dituturkan
- Bahasa-bahasa utama India menurut perbandingan jumlah penutur
Agama
Agama Hindu merupakan agama mayoritas yang dianut hampir 80% penduduk, sedangkan Islam merupakan agama minoritas terbesar dengan penganut lebih dari 14% penduduk.[321] India juga memiliki puluhan juta umat Kristen dan Sikh, kurang dari 10 juta umat Buddha dan penganut Jainisme, serta komunitas historis penganut Zoroastrianisme yang berjumlah puluhan ribu dan Yahudi yang berjumlah kurang dari sepuluh ribu.
Menurut sensus 2011, sensus terakhir India, umat Hindu menjadi mayoritas di 28 dari 35 negara bagian dan wilayah persatuan India. Ini mencakup empat negara bagian berpenduduk terbanyak: Uttar Pradesh (jumlah penduduk 200 juta; umat Hindu 80% dari total penduduk negara bagian), Maharashtra (112 juta, 80%), Bihar (104 juta, 83%), dan Benggala Barat (91 juta, 71%).[322] Muslim menjadi mayoritas di Kepulauan Lakshadwip (60.000, 97%) dan Jammu dan Kashmir (8,6 juta, 68%).[322] Umat Kristen mencakup sekitar 2,3% penduduk India.[323] Umat Kristen Santo Tomas berjumlah sekitar 8,7 juta, sedangkan umat Katolik India berjumlah 11,8 juta.[324] Hampir 33% Adivasi, atau Suku Terdaftar menurut Konstitusi India, beragama Kristen. Mereka terkonsentrasi di tiga negara bagian perbukitan di timur laut, yaitu Mizoram, Meghalaya, dan Nagaland, tempat mereka mencakup 70–90% penduduk.[325] Menurut sensus 2011, umat Sikh mencakup kurang dari 2% penduduk India, tetapi menjadi mayoritas di negara bagian Punjab, tempat lebih dari 87% umat Sikh bekerja sebagai petani.[326] Umat Buddha India berjumlah 8,45 juta, dengan 77%, atau 6,5 juta, tinggal di Maharashtra.[322] Penganut Jainisme berjumlah 4,45 juta dan penganut Zoroastrianisme (Parsi) sekitar 60.000.[327] Pada 2019, terdapat 3.000 orang Yahudi di India, turun dari 28.000 pada 1950.[328] Agama lain di India, beserta jumlah penganutnya dalam sensus 2011, ialah Sarna (4,96 juta), Gondi-Koyapunem (1,03 juta), dan Sari dharma (510.000).[327]
Dalam sensus pertama setelah masa kolonial pada 1951, komposisi agama India adalah Hindu (84,1%), Islam (9,8%), Kristen (2,3%), Sikh (1,9%), Buddha (0,7%), dan Jain (0,5%). Enam puluh tahun kemudian, dalam sensus terakhir pada 2011, persentasenya adalah Hindu (79,8%), Islam (14,2%), Kristen (2,3%), Sikh (1,7%), Buddha (0,7%), dan Jain (0,4%).[329] Secara absolut, jumlah penganut agama selama 1951–2011 meningkat sebagai berikut: Hindu dari 304 juta menjadi 966 juta, Islam dari 35 juta menjadi 172 juta, Kristen dari 8,3 juta menjadi 28 juta, Sikh dari 6,82 juta menjadi 20,83 juta, Buddha dari 2,67 juta menjadi 8,44 juta, dan Jain dari 1,66 juta menjadi 4,45 juta.[327] Pada dasawarsa 1951–1961, pertumbuhan penduduk menurut agama adalah Hindu (20,7%), Islam (32,7%), Kristen (29%), Sikh (10,3%), Buddha (5,9%), dan Jain (3,7%). Pada 2001–2011, pertumbuhannya adalah Hindu (16,7%), Islam (24,7%), Kristen (15,7%), Sikh (16,1%), Buddha (4,8%), dan Jain (2,2%). Semua agama mencatat penurunan laju pertumbuhan.[329]
Angka kelahiran, pertumbuhan penduduk, dan akses pendidikan memengaruhi cara komunitas memobilisasi diri secara politik untuk mempertahankan tempat ibadah, mengelola lembaga amanah amal, dan melindungi hukum keluarga mereka.[330] Perbedaan undang-undang antarnegara bagian, terutama yang melarang perpindahan agama—biasanya dari Hindu ke agama lain—memengaruhi kehidupan sehari-hari komunitas minoritas.[331] Pemberian perlindungan konstitusional bagi kelompok minoritas di tengah tekanan mayoritarian tetap menjadi tantangan yang sarat ketegangan.[332] India merupakan negara sekuler dan menjamin hak dasar atas kebebasan beragama[333] ("kebebasan berpikir, berekspresi, berkeyakinan, beriman, dan beribadah").[334]
- Peziarah Jain di Shravanabelagola
- Bagian luar Gereja Santo Yudas, Chinnathurai
- Agiary Zoroastrianisme di Mumbai
- Bagian dalam Sinagoge Magen David, Kolkata
Pendidikan
Pada 1911, terdapat tiga sekolah dasar untuk setiap sepuluh desa di India Britania.[335] Tingkat melek huruf pada masa awal masih rendah: 5% pada 1891 (9% laki-laki dan 1% perempuan) serta 7% pada 1921 (12% laki-laki dan 2% perempuan). Secara historis, keragaman lokal membatasi peningkatan melek huruf di India karena keterpecahan berdasarkan kasta dan agama mengurangi belanja swasta.[336][337] Tingkat melek huruf meningkat menjadi 18% pada 1951 (27% laki-laki dan 9% perempuan) serta 41% pada 1981 (53% laki-laki dan 29% perempuan).[336][337] Pada 2011, tingkat melek huruf mencapai 74,04% (82,14% laki-laki dan 65,46% perempuan), dengan rentang dari 93,91% di Kerala hingga 63,82% di Bihar. Sementara itu, peningkatan di pedesaan mencapai dua kali peningkatan di perkotaan, sehingga kesenjangan desa–kota menyempit dari 21,2 poin persentase pada 2001 menjadi 16,1 pada 2011.[338]
Pendidikan di India dikelola oleh pemerintah pusat, negara bagian, dan pemerintah lokal.[339] Setiap anak berusia 6–14 tahun berhak memperoleh pendidikan yang gratis dan wajib.[340] Secara tradisional, anak menempuh delapan tahun pendidikan dasar sebelum melanjutkan ke sekolah menengah.[341] Pada 2020, Kebijakan Pendidikan Nasional mengubah pembagian ini menjadi tahapan berdasarkan perkembangan anak: tahap fondasi selama lima tahun, mencakup prasekolah dan kelas 1–2 untuk usia 3–8 tahun; tahap persiapan untuk kelas 3–5; tahap menengah pertama untuk kelas 6–8; serta tahap menengah untuk kelas 9–12.[341] Para pengkritik berpendapat bahwa meskipun progresif, rencana baru ini terkendala kekurangan pendanaan publik dan infrastruktur sekolah yang tidak memadai.[342]
Universitas-universitas pertama di India didirikan di Kolkata, Bombay, dan Madras pada 1857, tahun terakhir kekuasaan Perusahaan Hindia Timur.[343] India kini memiliki salah satu sistem pendidikan pascamenengah terbesar di dunia.[344] Reformasi perguruan tinggi belakangan ini merencanakan program gelar yang lebih fleksibel, pengembangan sarana pembelajaran daring, dan undangan bagi universitas asing untuk membuka kampus di India.[341] Namun, kesenjangan besar antara pedesaan dan perkotaan tetap ada.[345] Mutu sekolah, kondisi bangunan kampus, dan akses komputer sangat bervariasi menurut gender siswa dan kekayaan keluarganya.[346] Prospek kerja lulusan yang buruk dan penerapan aturan yang tidak merata antarnegara bagian mendapat kritik dari peneliti maupun masyarakat.[347]
- Anak-anak menunggu makan siang sekolah di Rayka (juga disebut Raika), sebuah desa di Gujarat. Salam Jai Bhim di papan tulis menghormati ahli hukum, pembaru sosial, dan pemimpin Dalit, Bhimrao Ramji Ambedkar.
- Madrasah di Masjid Masjid-i-Ala, Srirangapatna, Karnataka, yang dibangun pada 1786–1787, pada masa pemerintahan Tippu Sultan
- IIT Roorkee, dahulu Thomason College of Civil Engineering, merupakan perguruan tinggi teknik tertua di India.[348][349] Perguruan tinggi ini didirikan pada 1847, pada masa kekuasaan Perusahaan Hindia Timur, untuk melatih tenaga yang bekerja dalam pembangunan Kanal Gangga.[349][348]
- Para pelajar memprotes kebocoran soal ujian di India—penyebaran atau penjualan soal resmi secara ilegal sebelum ujian dimulai—di Delhi, Juli 2026.[350]
Kesehatan

Sejak merdeka pada 1947, India telah sangat mengurangi penyakit-penyakit yang secara historis bersifat endemik, meskipun sebagian masih sulit diatasi. India dinyatakan bebas cacar pada April 1977 setelah dua tahun pengawasan sejak kasus terakhir Cacar.[355][356] Pada 27 Maret 2014, Organisasi Kesehatan Dunia secara resmi menyatakan India bebas polio setelah tiga tahun berturut-turut tanpa kasus virus polio liar yang tercatat.[357][358] Sebaliknya, kolera tetap endemik di estuari Delta Gangga–Meghna,[359] dengan wabah musiman akibat muson dan kekurangan dalam jaringan penyediaan air.[360][361] Tuberkulosis merupakan masalah besar; India menanggung seperempat beban penyakit tuberkulosis dunia.[362][363] Jumlah kasus Malaria telah menurun dari jutaan menjadi ratusan ribu setiap tahun, tetapi India masih mengalami peningkatan musiman setempat akibat varian vektor Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax yang resistan terhadap obat.[364]
Pasien di India sering menghadapi pilihan sulit: menggunakan pelayanan kesehatan yang didanai publik dengan layanan dasar gratis atau membayar biaya langsung dari kantong sendiri yang tinggi untuk layanan dengan fasilitas lebih lengkap dari dokter dan rumah sakit swasta.[365] Kesenjangan ini sangat besar di luar perkotaan karena klinik publik di pedesaan jarang memiliki cukup dokter atau perawat untuk memenuhi kebutuhan setempat.[366] Ketika terjadi keadaan darurat medis yang serius, keluarga miskin sering terpaksa menjual tanah atau mengambil pinjaman berbunga tinggi untuk membayar perawatan swasta.[367] Utang medis yang timbul kemudian mendorong sekitar 55 juta orang jatuh miskin setiap tahun.[368]
Paparan jangka panjang terhadap polusi udara di dalam dan luar ruangan menjadi risiko lingkungan yang besar bagi kesehatan masyarakat India.[369] Emisi materi partikulat dari kendaraan dan pabrik dikaitkan dengan peningkatan penyakit pernapasan kronis, strok, dan penyakit kardiovaskular, yang secara keseluruhan diperkirakan menambah 1,7 juta kematian dini per tahun.[370] Pembatasan wilayah COVID-19 pada tahap awal memberi India waktu untuk meningkatkan kemampuan pengujian dan produksi alat pelindung dalam negeri secara cepat. Namun, gelombang virus berikutnya membuat sistem pelayanan kesehatan kewalahan dan menyebabkan kekurangan parah oksigen serta tempat tidur perawatan intensif.[371][372] Kajian epidemiologis setelah pandemi memperkirakan bahwa kelebihan kematian kumulatif di India mencapai antara 3,2[373] dan 4,7 juta.[374]
Budaya
Masyarakat
Meskipun terkadang juga diterapkan pada kebudayaan dan agama lain, kasta merupakan pranata sosial mendasar di India yang berkembang paling lengkap di kalangan umat Hindu.[375][ap] Secara umum, semua umat Hindu terbagi ke dalam empat kasta, atau warna: Brahmana, atau pendeta, di puncak; di bawahnya Kesatria, atau prajurit; kemudian Waisya, atau pedagang dan petani; serta Sudra, atau golongan pelayan, di tingkat terbawah. Di luar sistem kasta dan agama Hindu tradisional terdapat kelompok yang dahulu disebut "orang di luar kasta" atau "orang yang tak boleh disentuh", dan kini disebut Kasta Terdaftar—istilah dalam Konstitusi India—atau Dalit, sebutan yang kemudian mereka gunakan sendiri dengan kebanggaan, yang berarti "terpecah" atau "tertindas". Setiap kasta terbagi lagi menjadi subkasta, atau jāti, yang banyak di antaranya terkait dengan pekerjaan. Namun, adat endogami, yaitu perkawinan dalam subkasta sendiri, menjadikan kasta sebagai identitas turun-temurun, bukan hasil pilihan pekerjaan, dan telah mengukuhkan sistem kasta.[377] Majelis Konstituen India menghapus pantangan sentuh pada 1947,[378] Republik India melakukannya secara lebih resmi pada 1950, dan sejak itu India memberlakukan undang-undang antidiskriminasi serta program kesejahteraan sosial lain yang berkaitan dengan kasta. Meskipun demikian, ketimpangan, diskriminasi, segregasi, dan kekerasan berdasarkan kasta tetap berlangsung.[379][380]
Keluarga besar patrilineal yang terdiri atas beberapa generasi merupakan pola umum di India, meskipun keluarga inti semakin lazim di perkotaan.[381] Sebagian sangat besar penduduk India menikah melalui perjodohan yang diatur oleh orang tua atau tetua keluarga.[382] Perkawinan dipandang sebagai ikatan seumur hidup,[382] dan tingkat perceraian sangat rendah,[383] kurang dari satu per seribu.[384] Banyak perempuan menikah sebelum berusia 18 tahun, yaitu usia minimum perkawinan yang sah bagi mereka. Perkawinan anak tidak jarang terjadi, terutama di pedesaan.[385] Selain itu, di sebagian besar masyarakat Hindu India utara, berlaku eksogami teritorial: pengantin perempuan menikah ke luar desa kelahirannya, dan orang tuanya tidak mengunjunginya di rumah setelah menikah. Ritual tahunan raksha bandhan, ketika perempuan yang telah menikah kembali ke rumah asalnya, berfungsi untuk meneguhkan ikatan dengan keluarga asal sekaligus menyediakan tempat berlindung ketika mengalami kesulitan dalam perkawinan.[386][387]
Masyarakat Muslim India modern sangat beragam, terbagi menurut bahasa setempat, latar belakang budaya, dan kelas sosial internal.[388] Namun, tingkat partisipasi mereka dalam pendidikan tinggi jauh lebih rendah daripada rata-rata, demikian pula akses terhadap layanan perbankan dan pekerjaan formal.[389] Selain itu, kekhawatiran akan keselamatan dan praktik perumahan yang tidak adil memaksa banyak Muslim perkotaan pindah ke permukiman terpisah yang sering tidak memiliki layanan publik dasar.[390] Meskipun demikian, keluarga Muslim secara konsisten memiliki tingkat kelangsungan hidup anak yang lebih tinggi daripada kelompok agama dan sosial lainnya.[391] Umat Kristen Santo Tomas, juga dikenal sebagai Kristen Siria, menelusuri sejarah mereka hingga kedatangan Rasul Tomas di pesisir India Selatan pada abad pertama Masehi,[392] meskipun prasasti menempatkan asal-usul mereka pada pertengahan milenium pertama Masehi.[393] Mereka menyebar di sepanjang Pesisir Malabar di negara bagian Kerala[394] dan memiliki tradisi liturgi tersendiri.[392] Kehadiran umat Katolik India bermula pada 1500, tak lama setelah kedatangan Vasco da Gama di Kozhikode. Sikhisme merupakan tradisi monoteistis yang didirikan Nanak Dev di Punjab pada akhir abad ke-15. Tradisi ini berkembang menjadi persekutuan yang erat di bawah para guru berikutnya; guru terakhir menyerahkan kewenangan kepada kitab suci Guru Granth Sahib.[395]
Agama Buddha, yang didirikan Buddha pada pertengahan abad ke-5 SM di bagian tengah dataran Gangga, akhirnya menyebar ke luar India menuju Asia Tenggara dan Asia Timur, bahkan ketika pengaruhnya meredup di tanah asalnya. Meskipun demikian, arca-arca dan Stupa—perwujudan Buddha dalam batu—tetap menonjol di seluruh anak benua India dan menarik peziarah dari berbagai penjuru dunia.[396] Jainisme, yang telah ada sejak masa kuno sezaman dengan agama Buddha, memiliki dua aliran utama: Śvetāmbara, yang para biksu dan biksuninya mengenakan jubah serta menggunakan mangkuk untuk menerima derma, dan Digambara, yang para biksunya tidak berpakaian dan menangkupkan tangan untuk menerima derma.[397] Kini, para penganut Jainisme dari berbagai aliran menyelaraskan diri dengan gerakan lingkungan hidup.[398] Orang Parsi menganut Zoroastrianisme. Mereka tiba di pesisir barat India dari Iran menjelang akhir milenium pertama Masehi, lalu menonjol dalam perdagangan dan industri serta menjadi pemimpin awal nasionalisme India. Qissa-i Sanjan mencatat kisah legendaris kedatangan dan penyambutan mereka di India.[399] Agama Yahudi, yang telah berakar di India pada abad ke-8 M, tidak pernah mengalami antisemitisme dari umat Hindu, Kristen, atau Parsi, maupun ketegangan etnis dengan Muslim India, dan tetap mempertahankan adat Indo-Yahudi yang khas.[328][aq]
India memiliki sejarah panjang pluralisme agama yang membentuk masyarakat modernnya.[400][ar] Sebagian besar Muslim, umat Kristen, dan Sikh di India mengikuti adat atau menganut keyakinan yang dahulu khas agama Hindu, misalnya Karma.[403] Muslim, minoritas agama terbesar di India, memberikan sumbangan besar bagi perpaduan budaya keagamaan Indo-Islam.[404] Sufisme, gerakan mistik heterodoks dalam Islam, mendapat sambutan di kalangan penganut tradisi bakti Saiwa dan Waisnawa regional pada abad pertengahan.[405][as] Gurdwara Sikh dan dorgah sufi kerap menarik pengunjung maupun orang yang beribadah dari agama lain.[403] India memiliki tradisi monastik, seperti petapa Jain, yang sebagian di antaranya menjalankan bentuk ekstrem sikap tanpa kekerasan (Ahimsa), serta komunitas Buddha yang melestarikan tradisi kuno meditasi.[407] Keragaman agama ini hidup berdampingan dengan endogami agama: orang jarang menikah dengan penganut agama lain. Terdapat pula segregasi agama dalam permukiman, ketika kelompok agama mengelompok karena pilihan atau keterpaksaan. Karena itu, kehidupan keagamaan India memperlihatkan perpaduan yang kaya sekaligus batas-batas pemisahan yang jelas.[403]
- Anggota suku Gond dalam festival Dandari di Jainoor, Telangana. Suku Gond mencakup 13,45% penduduk Suku Terdaftar India.[408]
- Anggota Ramnami Samaj, gerakan di kalangan Dalit yang anggotanya memuja dewa Hindu Rama dan menato tubuh mereka dengan namanya.[409]
Seni rupa
India memiliki tradisi seni yang sangat tua dan telah saling bertukar pengaruh dengan wilayah lain di Eurasia, terutama pada milenium pertama. Pada masa ini, seni rupa Buddha menyebar bersama agama-agama India ke Asia Tengah, Asia Timur, dan Asia Tenggara; kawasan terakhir juga sangat dipengaruhi seni Hindu.[412] Ribuan cap dari Peradaban Lembah Indus pada milenium ketiga SM telah ditemukan, biasanya berukir hewan, tetapi sebagian juga menampilkan sosok manusia. Cap Pashupati, yang digali di Mohenjo-daro, Pakistan, pada 1928–1929, merupakan yang paling terkenal.[413][414] Hampir tidak ada karya seni yang bertahan dari periode panjang setelah Peradaban Lembah Indus.[414][415] Hampir seluruh seni India kuno dari masa berikutnya yang masih bertahan berupa patung keagamaan dalam berbagai bentuk dari bahan tahan lama, atau uang logam. Kemungkinan dahulu jauh lebih banyak karya berbahan kayu, yang kini telah hilang. Di India utara, seni Maurya merupakan gerakan seni kekaisaran pertama.[416][417][418]
Selama beberapa abad berikutnya, berkembang gaya pahatan sosok manusia yang khas India. Dibandingkan dengan seni pahat Yunani kuno, gaya ini kurang menitikberatkan ketepatan anatomi, tetapi menampilkan bentuk-bentuk luwes yang mengungkapkan prana, atau "napas" dan daya hidup.[419][420] Penggambaran ini sering menjadi lebih rumit karena sosok harus diberi banyak lengan atau kepala, atau menampilkan gender berbeda pada sisi kiri dan kanannya, seperti pada wujud Ardanariswara yang memadukan Siwa dan Parwati.[421][422]
Sebagian besar patung besar tertua bercorak Buddha, baik yang ditemukan melalui penggalian Stupa seperti Sanchi, Sarnath, dan Amaravati,[423] maupun Relief yang dipahat pada batu di situs seperti Ajanta, Karla, dan Gua Ellora. Situs Hindu dan Jain muncul agak belakangan.[424][425] Meskipun tradisi keagamaannya bercampur secara kompleks, gaya seni yang dominan pada suatu masa dan tempat umumnya digunakan bersama oleh kelompok-kelompok agama utama, dan para pemahat kemungkinan biasanya melayani semua komunitas.[426] Seni Gupta, yang mencapai puncaknya sekitar 300–500 M, sering dianggap sebagai periode klasik yang pengaruhnya bertahan selama berabad-abad. Pada masa ini, patung Hindu mulai mendominasi, seperti di Gua Elephanta.[427][428] Di seluruh wilayah utara, gaya tersebut menjadi agak kaku dan mengikuti pola baku setelah sekitar 800 M, meskipun tetap kaya akan detail ukiran halus di sekeliling arca.[429] Namun, di selatan, di bawah Dinasti Pallawa dan Chola, seni patung batu dan perunggu mengalami masa pencapaian besar yang berkelanjutan. Patung-patung perunggu besar Siwa sebagai Nataraja telah menjadi simbol ikonik India.[430][431]
Lukisan kuno hanya bertahan di beberapa situs; adegan kehidupan istana yang penuh tokoh di Gua Ajanta termasuk yang terpenting.[432][433] Naskah teks keagamaan berlukisan dari India Timur masih bertahan sejak abad ke-10 dan seterusnya; sebagian besar yang paling awal bercorak Buddha, kemudian Jain. Naskah-naskah ini sangat memengaruhi gaya seni berikutnya.[434] Seni lukis Dekkan yang berasal dari tradisi Persia, yang muncul sedikit lebih awal daripada lukisan miniatur Mughal, bersama-sama menghasilkan kumpulan besar pertama lukisan sekuler, dengan penekanan pada potret serta pencatatan kesenangan para penguasa dan peperangan.[435][436] Gaya ini menyebar ke istana-istana Hindu, terutama di kalangan Rajput, dan berkembang menjadi berbagai corak. Istana-istana yang lebih kecil kerap paling inovatif, dengan tokoh seperti Nihâl Chand dan Nainsukh.[437][438] Seiring berkembangnya pasar di kalangan penduduk Eropa, seniman India menghasilkan lukisan gaya Kompeni dengan pengaruh Barat yang kuat.[439][440] Pada abad ke-19, lukisan Kalighat berharga murah di atas kertas, yang menggambarkan dewa dan kehidupan sehari-hari, menjadi seni rakyat perkotaan dari Kolkata. Kota ini kemudian melahirkan Mazhab Seni Benggala, gerakan pertama dalam seni lukis India modern, yang mencerminkan pengaruh sekolah-sekolah seni yang didirikan Britania.[441][442]
- Yakshi Bhutesvara, relief Buddha dari Mathura, abad ke-2 M
- Kresna Meniup Seruling untuk Para Gadis Pemerah Susu, lukisan Kangra, 1775–1785
- Patung perunggu Chola yang menggambarkan Siwa sebagai Nataraja ("Raja Tari"), Tamil Nadu, abad ke-10 atau ke-11
Matematika
Perkembangan penting matematika di India dimulai pada milenium pertama SM. Śulba Sūtra—secara harfiah "Aforisme tentang Tali" dalam bahasa Sanskerta Weda—yang berasal dari sekitar 700–400 SM memuat perumusan verbal tertua teorema Pythagoras yang masih bertahan, meskipun teorema tersebut sangat mungkin telah dikenal oleh orang Babilonia Lama.[443][av] Semua karya matematika diwariskan secara lisan hingga sekitar 500 SM; setelah itu, pewarisannya berlangsung secara lisan maupun melalui naskah. Dokumen matematika tertua yang masih bertahan dan dibuat di anak benua India adalah manuskrip Bakhshali pada kulit kayu betula dari abad ke-7 M.[446][447]
Pada periode klasik matematika India (400–1200 M), Aryabhata, Brahmagupta, Bhāskara II, Varāhamihira, dan Madhava memberikan sumbangan penting. Sistem bilangan desimal yang digunakan saat ini[448] pertama kali tercatat dalam matematika India.[449] Matematikawan India memberikan sumbangan awal dalam kajian konsep nol sebagai bilangan,[450] bilangan negatif,[451] aritmetika, dan aljabar.[452] Trigonometri[453] dikembangkan lebih lanjut di India, dan definisi modern sinus serta kosinus juga dikembangkan di sana.[454] Konsep-konsep matematika ini diteruskan ke Timur Tengah, Tiongkok, dan Eropa.[452] Tonggak berikutnya ialah pengembangan ekspansi deret untuk fungsi trigonometri—sinus, kosinus, dan arktangen—oleh matematikawan mazhab Kerala pada abad ke-15 M. Karya mereka, yang diselesaikan dua abad sebelum penemuan kalkulus di Eropa, memberikan contoh pertama deret pangkat.[aw][455] Pada zaman modern, Srinivasa Ramanujan memberikan sumbangan mendasar bagi teori bilangan.[456]
Musik
India memiliki beragam praktik musik, termasuk berbagai musik rakyat dari daerah yang berbeda. Musik klasik India berakar pada tradisi Weda dan pada abad ke-13 terbagi menjadi dua tradisi utama, yaitu Hindustani dan Karnatik. Musik Hindustani berkaitan dengan India Utara dan lebih menekankan improvisasi, dengan alat musik seperti Sitar dan Tabla. Musik Karnatik berasal dari India Selatan dan lebih berfokus pada komposisi tertulis seperti kriti. Keduanya memiliki unsur bersama, seperti kerangka melodi raga dan pola ritme tala.[457] Musik India memengaruhi genre-genre Barat, termasuk musisi rok dan jaz pada masa kontrabudaya 1960-an.[458]
Musik film India merupakan musik yang ditulis untuk perfilman India, umumnya digubah oleh pengarah musik dan dinyanyikan oleh penyanyi bayangan. Musik pop India modern menyerap pengaruh musik klasik, musik rakyat, dan musik pop Barat.[459]
- M. S. Subbulakshmi, penyanyi musik Karnatik
- Ravi Shankar di Festival Musik Woodstock, 1969
Tari
Seni tari di India banyak bersumber dari tradisi tari klasik India, yang sebagian besar berawal di kuil atau lingkungan keagamaan lain. Namun, dukungan dan pengembangannya berlanjut di India modern yang sekuler.[460][ax] India juga memiliki tradisi tari lokal dan modern.[460] Status klasik suatu tarian ditentukan oleh Sangeet Natak Akademi, lembaga seni pertunjukan pemerintah India.[ay] Meskipun mungkin lebih banyak tarian yang memenuhi kriteria klasik, Akademi telah memilih delapan tarian.[az]
| Tari | Negara bagian asal | Kawasan | Jenis atau asal-usul | Iringan musik |
|---|---|---|---|---|
| Bharatanatyam | Tamil Nadu | India Selatan | Tari kuil | Cinna Melam, musik Karnatik |
| Kathak | Uttar Pradesh | India Utara | Tari historis | Musik Hindustani |
| Kathakali | Kerala | India Selatan | Drama tari | Ansambel genderang Madhalam; musik vokal Sopana |
| Kuchipudi | Andhra Pradesh | India Selatan | Drama tari | Ansambel musik Karnatik |
| Manipuri | Manipur | India Timur Laut | Tari kuil atau ritual | Ansambel yang terdiri atas Pung Cholom, seruling, terompet, tambura, pena, dan simbal |
| Mohiniyattam | Kerala | India Selatan | Drama tari | Ansambel Karnatik |
| Odissi | Odisha | India Timur | Tari kuil | Ansambel alat musik Hindustani: pakhavaj, Sitar, seruling, simbal, dan harmonium |
| Sattriya | Assam | India Timur Laut | Drama tari | Borgeet dengan iringan genderang khol dan simbal |
Tari klasik yang paling dikenal ialah Bharatanatyam, yang berawal sebagai tarian kuil oleh para Devadasi Tamil.[460] Karena dikaitkan dengan "pelacur dan perempuan penghibur istana", tarian mereka secara resmi dilarang pada 1947.[ba] Pada saat yang sama, tari ini dipulihkan kedudukannya sebagai bentuk seni "murni", dengan Rukmini Devi Arundale sebagai tokoh penting. Salah satu devadasi yang kemudian memperoleh ketenaran nasional dan internasional ialah Thanjavur Balasaraswati.[460] Sebagian sumber juga menggolongkan drama tari Chhau dari Jharkhand, Benggala Barat, dan Odisha, serta Yakshagana dari Karnataka, sebagai bagian dari tradisi klasik.[462]
Tradisi tari lokal sangat beragam di seluruh India. Selain drama tari Chhau dan Yakshagana, tradisi ini mencakup drama tari Raslila dari Uttar Pradesh barat dan Terukkuttu dari Tamil Nadu; tarian yang mengikuti kalender dan perayaan, seperti Bhangra dari Punjab, terutama pada Vaisakhi yang menandai awal musim semi, serta Garba dari Gujarat selama Navaratri; dan tarian suku atau Adivasi, seperti tarian Santhal dan orang Toda, yang terakhir antara lain untuk menghormati dewa Ön yang membawa kerbau ke bumi.[460]
Salah satu arah perkembangan pada abad ke-20 ialah tari modern Uday Shankar, yang menggunakan gaya klasik tanpa mengikutinya secara kaku. Contohnya adalah drama tari berdasarkan fabel binatang India kuno Pañcatantra dan renungan Nehru tentang sejarah India pada pertengahan abad tersebut, The Discovery of India.[460] Tari telah menjadi unsur penting film India sejak film bersuara pertama pada 1930-an. Tari tunggal maupun kelompok dalam Bollywood, misalnya, memperlihatkan beragam pengaruh, termasuk tari klasik, lokal, dan populer Barat.[460] Menjelang akhir abad ke-20, inovasi musik dan tari masyarakat Britania keturunan Asia Selatan, seperti Post-Bhangra, kembali memengaruhi tari di India.[460]
- Tari Kathakali dari Kerala
- Tari Bharatanatyam dari Tamil Nadu
- Tari Kathak dari India utara menyerap pengaruh Persia dan Asia Tengah pada masa kekuasaan Mughal.
Busana

Sejak zaman kuno hingga awal zaman modern, busana tradisional yang paling umum dikenakan di India berupa kain lilit.[463] Bagi perempuan, bentuknya adalah sari, sehelai kain panjang yang dapat mencapai beberapa yard.[463] Secara tradisional, sari dililitkan pada tubuh bagian bawah dan bahu.[463] Dalam bentuk modernnya, sari dipadukan dengan rok dalam, atau petikut India, dan diselipkan pada bagian pinggang agar lebih kuat terpasang. Sari juga lazim dikenakan bersama blus India, atau Choli, sebagai pakaian utama tubuh bagian atas. Ujung sari melewati bahu, menutupi bagian perut dan menyamarkan kontur tubuh bagian atas.[463] Bagi laki-laki, kain serupa yang lebih pendek, yakni Dhoti, digunakan sebagai pakaian tubuh bagian bawah.[464]
Penggunaan pakaian berjahit meluas setelah pemerintahan Muslim didirikan oleh Kesultanan Delhi sekitar 1300 M dan dilanjutkan oleh Kekaisaran Mughal sekitar 1525 M.[465] Pakaian yang diperkenalkan pada masa ini dan masih lazim dikenakan antara lain shalwar dan piama, keduanya merupakan jenis celana, serta tunik Kurta dan Kurta.[465] Shalwar sangat lebar di pinggang, tetapi menyempit hingga bagian bawah yang bermanset. Tali pengikat menahannya di pinggang sehingga membentuk lipatan-lipatan.[466] Celana yang dipotong cukup sempit dengan arah serong terhadap serat kain disebut churidar. Kameez merupakan kemeja panjang atau tunik,[467] dengan jahitan samping yang dibiarkan terbuka di bawah garis pinggang.[468] Kurta secara tradisional tidak berkerah dan terbuat dari katun atau sutra. Pakaian ini dikenakan polos atau dengan hiasan sulaman seperti chikankari, dan biasanya panjangnya mencapai tepat di atas atau di bawah lutut.[469]
Selama 50 tahun terakhir, busana di India banyak berubah. Di perkotaan India utara, sari semakin jarang menjadi pakaian sehari-hari, meskipun tetap populer untuk acara resmi. Perempuan muda perkotaan jarang mengenakan shalwar kameez tradisional dan lebih memilih churidar atau jins. Di lingkungan perkantoran, penggunaan pendingin udara yang meluas memungkinkan laki-laki mengenakan jas kasual sepanjang tahun. Untuk pernikahan dan acara resmi, laki-laki kelas menengah dan atas sering mengenakan bandhgala, atau jaket Nehru pendek, dengan celana panjang, sedangkan pengantin laki-laki dan para pengiringnya mengenakan sherwani dan churidar.[470]
- Perempuan mengenakan salwar kameez di Puducherry
Hidangan
Hidangan khas India bertumpu pada serealia tanpa banyak bumbu yang dilengkapi lauk bercita rasa gurih.[472] Olahan serealia tersebut dapat berupa nasi kukus; Chapati, roti tipis tanpa ragi;[473] Idli, kue kukus untuk sarapan; atau dosa, sejenis panekuk yang dimasak di atas pelat panas.[474] Lauknya dapat berupa Lentil, kacang-kacangan, sayuran, daging, unggas, dan ikan, yang biasanya dibumbui jahe dan bawang putih, serta ketumbar, jintan putih, kunyit, kayu manis, kapulaga, dan rempah lainnya.[472] Dalam beberapa hidangan, bahan-bahannya dicampurkan selama proses memasak.[475] India memiliki beragam tradisi hidangan vegetarian yang khas, masing-masing mencerminkan sejarah geografis dan budaya komunitasnya.[476] Sekitar 20–39% penduduk India merupakan vegetarian.[477][478] Meskipun daging dikonsumsi secara luas, proporsi konsumsinya rendah.[479]
Masuknya teknik memasak dari luar yang paling penting selama milenium terakhir terjadi pada masa Kekaisaran Mughal, ketika teknik-teknik tersebut menyebar ke India utara dari kawasan di barat lautnya,[480] bersama hidangan seperti Plov.[481][482] Bawang bombai, bawang putih, almon, dan rempah-rempah ditambahkan ke dalam rendaman yoghurt sederhana dari Persia.[480] Beras dimasak setengah matang dan disusun berlapis-lapis secara berselang-seling dengan daging tumis. Panci lalu ditutup rapat dan dimasak perlahan dengan teknik Persia lainnya untuk menghasilkan biryani,[480] yang menjadi hidangan khas perayaan di banyak wilayah India.[483]
Keragaman makanan India yang disajikan di seluruh dunia sebagian tertutupi oleh dominasi hidangan Punjab. Popularitas ayam tandoori bermula pada 1950-an dan banyak didorong oleh kegiatan wirausaha orang Punjab yang terusir akibat pemisahan India pada 1947. Ayam ini dimasak dalam oven tandoor, yang secara tradisional digunakan untuk memanggang roti di pedesaan Punjab dan kawasan Delhi, terutama di kalangan Muslim, tetapi asalnya dari Asia Tengah.[476]
- Thali, atau sepiring hidangan vegetarian, dari India Selatan
- Machher jhol, kari ikan pedas yang disantap di India timur, Nepal, dan Bangladesh
Olahraga
Olahraga di India modern mempertemukan tradisi asli yang kurang dikenal dengan ajang olahraga komersial berjangkauan global.[487] Olahraga tradisional seperti Kabaddi dan kho-kho mengalami kebangkitan dan menarik banyak penonton televisi.[488] Sementara itu, gulat kushti di akhara pedesaan—yang oleh para pelakunya sering dipandang lebih sebagai disiplin fisik dan moral daripada sekadar olahraga—tetap bertahan jauh dari sorotan siaran.[489] Kriket merupakan olahraga yang paling banyak ditonton di India dan menjadi industri bernilai miliaran dolar.[490] Popularitas catur yang meluas di kalangan pemuda India selatan berpuncak pada kemenangan Gukesh Dommaraju dari Chennai, yang berusia 18 tahun, dalam meraih gelar Juara Dunia Catur tak terbantahkan pada 2024.[491]
Campur tangan Britania membentuk ulang dunia olahraga India.[492] Britania memperkenalkan kriket, sepak bola, dan hoki lapangan, serta melembagakan Polo, olahraga yang sejarahnya menunjukkan arus perpindahan sebaliknya, dari India ke Barat.[493][494] Kini, di tingkat akar rumput pedesaan, program pemerintah seperti "Khelo India" telah membuka akses olahraga bagi pemuda yang sebelumnya kerap terabaikan.[495] Program sepak bola pedesaan menggunakan kerja sama tim untuk meruntuhkan sekat-sekat kasta lama.[496] Program negara seperti Skema Target Podium Olimpiade memperluas sumber daya bagi atlet perempuan. Sementara itu, kemenangan internasional tokoh seperti petinju Mary Kom dan pemain bulu tangkis P. V. Sindhu menantang stereotip gender tradisional dalam olahraga.[497]
India telah meraih delapan gelar turnamen ICC kriket putra: dua Piala Dunia Kriket, tiga Piala Dunia T20, dan tiga Trofi Champions.[498] India juga memegang rekor delapan medali emas hoki lapangan putra dalam Olimpiade Musim Panas, yang terakhir pada 1980.[499]
- Tim hoki India yang dikapteni Dhyan Chand (berdiri kedua dari kiri), setelah memenangi final Olimpiade Musim Panas 1936—medali emas ketiga dari enam emas Olimpiade berturut-turut[bc]
- Gukesh Dommaraju dari Chennai, juara dunia catur yang sedang menjabat sekaligus yang termuda sepanjang sejarah[500]
- P. V. Sindhu setelah meraih medali perak bulu tangkis dalam Olimpiade Musim Panas di Rio de Janeiro, Agustus 2016
- Atlet muda setelah memberi penghormatan kepada Mary Kom, peraih medali tinju Olimpiade Musim Panas London 2012, di New Delhi, 16 Agustus 2012
Lihat pula
Catatan
- ↑ Awalnya ditulis dalam bahasa Bengali yang banyak menyerap unsur Sanskerta dan ditetapkan sebagai lagu kebangsaan dalam terjemahan bahasa Hindi
- ↑ Ditulis dalam campuran bahasa Sanskerta dan bahasa Bengali yang banyak menyerap unsur Sanskerta
- ↑ "[...] Jana Gana Mana adalah lagu kebangsaan India, dengan perubahan lirik yang dapat disahkan Pemerintah apabila diperlukan; dan lagu Vande Mataram, yang telah memainkan peran bersejarah dalam perjuangan kemerdekaan India, harus dihormati setara dengan Jana Gana Mana dan memiliki kedudukan yang sama dengannya."[5]
- ↑ Menurut Bagian XVII Konstitusi India, bahasa Hindi dalam aksara Dewanagari merupakan bahasa resmi pemerintah pusat, dengan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi tambahan.[1][6][7] Negara bagian dan wilayah persatuan dapat menetapkan bahasa resmi masing-masing selain bahasa Hindi atau Inggris.
- ↑ Tidak semua bahasa resmi tingkat negara bagian tercantum dalam Ketetapan Kedelapan, dan tidak semua bahasa dalam ketetapan tersebut menjadi bahasa resmi tingkat negara bagian. Misalnya, bahasa Sindh tercantum dalam Ketetapan Kedelapan, tetapi bukan bahasa resmi tingkat negara bagian.
- ↑ Bahasa Kashmir dan bahasa Dogri merupakan bahasa resmi Jammu dan Kashmir, yang kini berstatus wilayah persatuan dan tidak lagi menjadi negara bagian seperti sebelumnya.
- ↑
- Menurut Ethnologue, di India terdapat 426 bahasa asli yang masih dituturkan dan 11 bahasa asli yang telah punah. Selain itu, terdapat 32 bahasa nonasli yang masih dituturkan.[10]
- Berbagai sumber memberikan angka yang sangat berbeda, terutama karena perbedaan definisi dan pengelompokan istilah "bahasa" dan "dialek".
- ↑ "Luas pasti negara ini masih diperdebatkan karena beberapa perbatasannya disengketakan. Pemerintah India mencantumkan luas keseluruhan sebesar 3.287.260 km2 (1.269.220 sq mi) dan luas daratan keseluruhan sebesar 3.060.500 km2 (1.181.700 sq mi); Perserikatan Bangsa-Bangsa mencantumkan luas keseluruhan sebesar 3.287.263 km2 (1.269.219 sq mi) dan luas daratan keseluruhan sebesar 2.973.190 km2 (1.147.960 sq mi)."[13]
- ↑ Lihat Penulisan tanggal dan waktu di India.
- ↑ ISO 15919: Bhārat Gaṇarājya
- ↑ Pemerintah India juga menganggap Afganistan sebagai negara tetangga yang berbatasan langsung karena menganggap seluruh Kashmir sebagai bagian dari India.[22] Namun, klaim ini disengketakan, dan wilayah yang berbatasan dengan Afganistan dikelola oleh Pakistan.
- ↑ Kepulauan Andaman dan Nikobar milik India memiliki perbatasan laut dengan Myanmar, Thailand, dan Indonesia.
- ↑ Jumlah penduduk India melampaui Tiongkok pada 2021.[21]
- ↑ Mereka menghuni kawasan ini dalam waktu yang panjang, pada awalnya sebagai pemburu-pengumpul dengan tingkat keterisolasian yang beragam. Hal ini menjadikan kawasan tersebut sangat beragam, hanya berada di bawah Afrika dalam hal keanekaragaman genetik manusia.[89] Namun, fosil manusia modern tertua yang diketahui di Asia Selatan berasal dari sekitar 30.000 tahun yang lalu.[90]
- ↑ Domestikasi tumbuhan penghasil biji-bijian, termasuk barli, dan hewan, termasuk sapi zebu berpunuk, berlangsung di sini.
- ↑ Jaringan kota kecil dan desa tumbuh di sekitar kota-kota tersebut dalam perekonomian baru yang memadukan pertanian dan peternakan.[93]
- ↑ Regweda disusun oleh suku-suku penutur bahasa Indo-Arya yang bermigrasi ke timur dari wilayah yang kini menjadi Afganistan utara dan melintasi kawasan Punjab.
- ↑ Pembukaan hutan ini terkadang dilakukan dengan pembakaran, atau pada masa berikutnya dengan menggunakan perkakas besi.
- ↑ Proses permukiman ini mungkin melibatkan pengusiran atau perbudakan penduduk yang telah lebih dahulu tinggal di sana.
- ↑ "Namun, semua pencapaian ini tampak kecil dibandingkan dengan tradisi linguistik Sanskerta yang berpuncak pada tata bahasa terkenal karya Pāṇini, yang dikenal sebagai Aṣṭhādhyāyī. Keanggunan dan kelengkapan susunannya belum tertandingi oleh tata bahasa mana pun dalam bahasa apa pun, dan metode-metodenya yang cerdik untuk membedakan penggunaan dan penyebutan, bahasa dan metabahasa, serta teorema dan metateorema mendahului penemuan-penemuan penting dalam filsafat Barat selama ribuan tahun."[95]
- ↑ Bahasa Sanskerta Klasik, dengan tata bahasa yang disempurnakan dan dibakukan, muncul pada pertengahan milenium pertama SM dan dikodifikasikan dalam Aṣṭādhyāyī ('Delapan bab') karya Pāṇini.[t] Akan tetapi, dua wiracarita besar berbahasa Sanskerta, Mahabharata dan Ramayana, disusun dalam ragam bahasa penceritaan lisan yang disebut Sanskerta Wiracarita, yang digunakan di India utara antara 400 SM dan 300 M, kurang lebih sezaman dengan bahasa Sanskerta Klasik.[96]
- ↑ Bentuk lanjutan agama Weda yang berkembang pada pertengahan milenium pertama SM dan menjadi pendahulu agama Hindu.
- ↑ Pencatatan riwayat hidup Buddha merupakan unsur penting pada awal penulisan sejarah di India.[97]
- ↑ Perekonomian Maurya ditunjang oleh berkembangnya agama Buddha dan Jainisme, yang mengajarkan sikap tanpa kekerasan, melarang kemewahan yang dipamerkan serta pengorbanan dan ritual berlebihan, dan menekan biaya transaksi ekonomi; penggunaan uang logam yang mempermudah kegiatan ekonomi di kawasan tersebut; serta penggunaan tulisan, yang mungkin mendorong transaksi usaha yang lebih rumit.[99]
- ↑ Untuk memperlancar perjalanan dan perdagangan, penguasa Maurya membangun jalan. Yang terpenting ialah Uttarapath, jalan yang terutama digunakan pada musim dingin dan menghubungkan Afganistan timur dengan ibu kota mereka, Pataliputra, pada waktu ketika muka air sungai-sungai yang melintanginya rendah sehingga mudah diseberangi dengan mengarung.[100]
- ↑ Karena maklumat-maklumat tersebut melarang pembunuhan satwa liar maupun perusakan hutan, sebagian sejarawan lingkungan modern memandang Asoka sebagai perwujudan awal etos tersebut.[102][103]
- ↑ Tidak ada penguasa pada masa ini yang mampu membangun kekaisaran dan secara konsisten menguasai wilayah yang jauh melampaui daerah intinya. Ketika Harsha dari Kannauj, yang menguasai sebagian besar Dataran Indo-Gangga pada 606–647 M, mencoba memperluas wilayah ke selatan, ia dikalahkan oleh penguasa Chalukya dari Dekkan. Ketika penerusnya berusaha memperluas wilayah ke timur, ia dikalahkan oleh raja Pala dari Benggala. Ketika Chalukya berusaha memperluas kekuasaan ke selatan, mereka dikalahkan oleh Pallawa dari wilayah yang lebih selatan. Pallawa sendiri menghadapi perlawanan Pandya dan Chola yang berada lebih jauh lagi ke selatan.[112]
- ↑ Kota-kota kuil dengan berbagai ukuran mulai bermunculan di berbagai tempat ketika India mengalami gelombang urbanisasi berikutnya.[115]
- ↑ Wilayah-wilayah yang kini menjadi bagian dari Thailand, Kamboja, Vietnam, dan Indonesia.
- ↑ Pedagang, cendekiawan, dan terkadang pasukan India terlibat dalam penyebaran ini. Penduduk Asia Tenggara juga mengambil prakarsa: banyak yang tinggal sementara di pusat-pusat pendidikan agama di India dan menerjemahkan teks Buddha dan Hindu ke dalam bahasa mereka.[116]
- ↑ Titik paling utara yang dikuasai India adalah Gletser Siachen yang disengketakan di Jammu dan Kashmir. Namun, Pemerintah India menganggap seluruh wilayah bekas negara kepangeranan Jammu dan Kashmir, termasuk Gilgit-Baltistan yang dikelola Pakistan, sebagai wilayahnya. Karena itu, pemerintah menetapkan 37°6′ LU sebagai titik paling utaranya.
- ↑ Titik panas keanekaragaman hayati adalah wilayah biogeografis yang memiliki lebih dari 1.500 spesies tumbuhan berpembuluh, tetapi habitat primernya tersisa kurang dari 30%.[218]
- ↑ Para penyusunnya memilih kerangka ganda ini untuk mengakomodasi keragaman bangsa yang sangat besar, warisan pemerintahan kolonial, dan sejarah regionalnya yang terpecah-pecah.[243]
- ↑ Tokoh-tokoh seperti Wakil Perdana Menteri Vallabhbhai Patel, Menteri Pendidikan Maulana Azad, Menteri Pertahanan Baldev Singh, dan Menteri Hukum Bhimrao Ramji Ambedkar—yang mengetuai panitia perancang konstitusi—tidak segan menyampaikan pandangan yang berbeda.
- ↑ Kekalahan memalukan India dalam Perang Tiongkok–India 1962 dikaitkan dengan kurangnya nasihat politik yang mengimbangi pengambilan keputusan.[251]
- ↑ Pada masa Singh, muncul struktur kekuasaan ganda yang membagi pengambilan keputusan antara perdana menteri dan Ketua Partai Kongres Sonia Gandhi.[251]
- ↑ Namun, munculnya mayoritas satu partai di Lok Sabha secara berturut-turut sejak 2014 telah sangat mengurangi pengaruh nasional dan jatah kursi kabinet partai-partai regional.[254]
- ↑ Partai-partai regional utama India antara lain Dravida Munnetra Kazhagam (DMK), Partai Negeri Telugu (TDP), Partai Negeri Telugu (YSRCP), dan Telangana Rashtra Samithi (BRS) di India Selatan; All India Trinamool Congress (TMC), Biju Janata Dal (BJK), Janata Dal (United) (JD(U)), dan Rashtriya Janata Dal (RJD) di India Timur dan Timur Laut; serta Partai Bahujan Samaj (BSP), Partai Samajwadi (SP), Shiv Sena, Partai Kongres Nasionalis (NCP), Partai Aam Aadmi (AAP), Shiromani Akali Dal (SAD), Konferensi Nasional Jammu dan Kashmir (JKNC), dan Partai Demokrat Rakyat Jammu dan Kashmir (JKPDP) di India barat dan utara.[254]
- ↑ Selama dua dasawarsa terakhir, posisi India dalam peringkat parlemen internasional terus merosot karena tidak memiliki kuota wajib.[256]
- ↑ Kini, sebagian besar penduduk Muslim India terkonsentrasi di hanya tiga negara bagian: Uttar Pradesh, Bihar, dan Benggala Barat. Komunitas yang cukup besar juga terdapat di Assam, Telangana, dan Kerala,[257] sedangkan Muslim hanya menjadi mayoritas di Kepulauan Lakshadwip serta Jammu dan Kashmir.[257]
- ↑ Angka 0% merupakan hasil pembulatan hingga dua angka di belakang koma.
- ↑ Kasta merupakan bentuk stratifikasi sosial yang ditandai oleh endogami, pewarisan pekerjaan, kedudukan ritual dalam suatu hierarki, serta interaksi atau pengucilan sosial menurut adat yang ditentukan oleh gagasan budaya tentang kemurnian dan pencemaran.[376]
- ↑ Sebagian sangat besar dari 1,4 miliar penduduk India beragama Hindu; 13,4 persen beragama Islam, dengan 80 persen di antaranya Muslim Sunni; 2,5 persen beragama Kristen; dan kurang dari 0,0004 persen beragama Yahudi. Sebagian besar dari 3.000 orang Yahudi yang kini tersisa di India tinggal di Maharashtra, yakni Mumbai, desa-desa Konkan, dan Pune. Komunitas kecil yang tersisa terdapat di Ahmedabad, New Delhi, dan Kolkata; hanya lima orang Yahudi masih tinggal di 'Jew Town' di Mattancherry, Cochin, dan sekitar selusin lainnya tersebar di Kerala. Bahkan pada masa kejayaannya sebelum 1950, ketiga kelompok Yahudi India—Yahudi Cochin, Bene Israel, dan Baghdadi—hanya berjumlah 28.000 jiwa. Mereka tidak mengalami antisemitisme dari sesama penduduk India, baik Hindu, Kristen, Parsi, maupun kelompok lain, dan tidak mengalami ketegangan etnis dengan Muslim India. Entah bagaimana, mereka menciptakan dan mempertahankan adat Indo-Yahudi yang unik, yang dijalankan dalam masyarakat India yang majemuk dan kompleks. Jumlah Yahudi Baghdadi tidak pernah melebihi 8.000 jiwa; kini hanya 70 orang tersisa di seluruh India.[328]
- ↑ Gavin Flood mendefinisikan agama Hindu sebagai "serangkaian praktik beserta sejarahnya" yang merujuk pada teks dan pengorbanan dalam Weda; para penganutnya tergabung dalam satuan sosial endogamis (jāti/warna), mengikuti ritual persembahan kepada dewa dan menerima berkat sebagai balasannya (puja), serta menganut politeisme secara lahiriah, tetapi terkadang juga monoteisme secara batiniah, dengan banyak dewa dipandang sebagai perwujudan satu wujud tertinggi.[401] Axel Michaels mengemukakan penilaian serupa: "Saya berpendapat bahwa India Hindu memiliki kekhasan karena ritual melampaui keyakinan ...."[401] Menurut Barbara D. Metcalf, kehidupan keagamaan Islam di India memiliki tradisi sufi yang penting, berpusat pada spiritualitas batin, "penanaman norma-norma etis", dan penghormatan kepada pembimbing suci. Terdapat pula tradisi keilmuan berbasis teks, terutama kajian riwayat kenabian dalam hadis.[402]
- ↑ Ajaran para mistikus Hindu dan Muslim cukup berdekatan sehingga sebagian umat Hindu menerima khotbah para guru sufi (pir), dan gerakan-gerakan sinkretis pun muncul.[406]
- ↑ "Menurut ritual tradisional Gujarat, pengantin perempuan lazim menyerahkan kelapa kepada pengantin laki-laki pada saat perkawinan, yang kemudian harus disimpan oleh suaminya sepanjang hidup. Kelapa diberikan sebagai lamaran perkawinan, tanda pertunangan, sambutan bagi pengantin perempuan, dan perlindungan dari kejahatan."[410]
- ↑ "Di India, Gerakan Al-Ameen membantu pendidikan kaum muda dari kelompok masyarakat yang kurang beruntung secara sosial dan ekonomi di kawasan Bengaluru."[411]
- ↑ Karya matematika India kuno dan abad pertengahan, yang semuanya disusun dalam bahasa Sanskerta, biasanya terdiri atas dua bagian: Sutra (sastra), yang menyatakan serangkaian aturan atau soal secara ringkas dalam bentuk syair, serta ulasan prosa yang menjelaskan soal lebih terperinci dan memberikan pembenaran atas penyelesaiannya.[444][445]
- ↑ Selain deret geometri.
- ↑ Misalnya, di kalangan perempuan muda kelas menengah perkotaan, kemahiran tari klasik terkadang menjadi pencapaian sosial yang diinginkan.[460]
- ↑ Status klasik membuat suatu tarian lebih dikenal dan menarik lebih banyak pendanaan dari lembaga serta pembelian tiket oleh penonton.[460]
- ↑ Dilihat dari persebaran geografis dan ragam gayanya, pemilihan ini dapat dipandang sebagai salah satu wujud etos integrasi nasional India.[460]
- ↑ Berdasarkan Undang-Undang Devadasi Madras (Pencegahan Persembahan Diri), setelah desakan kelas menengah dan atas India.[460]
- ↑ Kajian genetik menunjukkan bahwa mangga pertama kali didomestikasi di kawasan antara India timur laut, Myanmar barat laut, dan Bangladesh.[485][486]
- ↑ Berdiri dari kiri ke kanan: Earnest Goodsir-Cullen (gelandang tengah); Mayor Dhyan Chand (kapten dan penyerang tengah); Syed Mohammad Jaffar (wakil kapten dan sayap kiri); Peter Paul Fernandes (penyerang kiri/penyerang dalam kiri); Richard John Allen (penjaga gawang), berdiri tepat di tengah; Baburao Narsoo Nimal (gelandang tengah); dan Carlyle Carroll Tapsell (bek). Duduk dari kiri ke kanan: Joseph Philips (penyerang dalam kanan); Roop Singh (penyerang dalam kiri); Mirza Nasir-ud-din Masud (penyerang dalam); dan Ali Iqtidar Shah Dara (penyerang dalam kanan).
Referensi
- 1 2 3 National Informatics Centre 2005.
- 1 2 3 "National Symbols | National Portal of India". India.gov.in. Diarsipkan dari asli tanggal 4 Februari 2017. Diakses tanggal 1 Maret 2017.
Lagu kebangsaan India, Jana Gana Mana, yang semula digubah dalam bahasa Bengali oleh Rabindranath Tagore, ditetapkan dalam versi bahasa Hindinya sebagai lagu kebangsaan India oleh Majelis Konstituante pada 24 Januari 1950.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "National anthem of India: a brief on 'Jana Gana Mana'". News18. 14 Agustus 2012. Diarsipkan dari asli tanggal 17 April 2019. Diakses tanggal 7 Juni 2019.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Wolpert 2003, hlm. 1.
- ↑ Constituent Assembly of India 1950.
- ↑ Ministry of Home Affairs 1960.
- 1 2 "Profile | National Portal of India". India.gov.in. Diarsipkan dari asli tanggal 30 Agustus 2013. Diakses tanggal 23 Agustus 2013.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Constitutional Provisions – Official Language Related Part-17 of the Constitution of India". Departemen Bahasa Resmi via Pemerintah India. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 April 2021. Diakses tanggal 18 April 2021.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "50th Report of the Commissioner for Linguistic Minorities in India (July 2012 to June 2013)" (PDF). Komisaris untuk Minoritas Bahasa, Kementerian Urusan Minoritas, Pemerintah India. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 8 Juli 2016. Diakses tanggal 26 Desember 2014.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Eberhard, David M.; Simons, Gary F.; Fennig, Charles D. (2025). "India". Ethnologue: Languages of the World (Edisi 28). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 Maret 2025. Diakses tanggal 10 November 2024.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "RGI releases Census 2011 data on Population by Religious Communities" (Rilis pers). Biro Informasi Pers, Kementerian Dalam Negeri, Pemerintah India. 25 Agustus 2015. Release ID: 126326.
{{cite press release}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Office of the Registrar General & Census Commissioner, India. "C-01: Population by religious community, India – 2011". 2011 Census of India.
- 1 2 Library of Congress 2004.
- ↑ "India population 2026". Statista (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 April 2026. Diakses tanggal 4 Mei 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Population Enumeration Data (Final Population)". 2011 Census Data. Kantor Panitera Jenderal dan Komisaris Sensus India. Diarsipkan dari asli tanggal 22 Mei 2016. Diakses tanggal 17 Juni 2016.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "A – 2 Decadal Variation in Population Since 1901" (PDF). 2011 Census Data. Kantor Panitera Jenderal dan Komisaris Sensus India. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 30 April 2016. Diakses tanggal 17 Juni 2016.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 "World Economic Outlook Database (October 2026 Edition)". www.imf.org. Dana Moneter Internasional. 13 Oktober 2026. Diakses tanggal 13 Oktober 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Gini index (World Bank estimate) – India". Bank Dunia. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 September 2025. Diakses tanggal 31 Januari 2022.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Human Development Report 2025" (PDF). Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa. 6 Mei 2025. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 6 Mei 2025. Diakses tanggal 6 Mei 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑
- John Da Graça (2017), Heads of State and Government, London: Macmillan, hlm. 421, ISBN 978-1-349-65771-1 "Nama resmi: Republik India; Bharat Ganarajya (Hindi)";
- Bradnock, Robert W. (2015), The Routledge Atlas of South Asian Affairs, Routledge, hlm. 108, ISBN 978-1-317-40511-5 "Nama resmi: bahasa Inggris: Republic of India; bahasa Hindi: Bharat Ganarajya"
- 1 2 3 4 Poston, Dudley L.; Sullivan, Teresa A. (2026). Population and Society: An Introduction to Demography (Edisi 3). Cambridge, Britania Raya dan New York, NY: Cambridge University Press. hlm. 76. ISBN 978-1-009-69695-1.
Hingga beberapa tahun lalu, Tiongkok merupakan negara berpenduduk terbesar di dunia. Namun, pada 2021, India melampaui Tiongkok dan menjadi negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia
- ↑ "Ministry of Home Affairs (Department of Border Management)" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 17 Maret 2015. Diakses tanggal 1 September 2008.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2
- Petraglia & Allchin 2007, hlm. 10: "Data kromosom Y dan DNA mitokondria mendukung penghunian Asia Selatan oleh manusia modern yang berasal dari Afrika. [...] Waktu koalesensi sebagian besar populasi non-Eropa rata-rata berkisar antara 73 dan 55 ribu tahun lalu."
- Dyson 2018, hlm. 1: "Manusia modern—Homo sapiens—berasal dari Afrika. Kemudian, secara berselang-seling, pada suatu waktu antara 60.000 dan 80.000 tahun lalu, kelompok-kelompok kecil mulai memasuki bagian barat laut anak benua India. Tampaknya, pada awalnya mereka datang melalui pesisir. [...] hampir dapat dipastikan bahwa Homo sapiens telah ada di anak benua itu 55.000 tahun lalu, meskipun fosil tertua mereka yang ditemukan baru berasal dari sekitar 30.000 tahun sebelum sekarang."
- Fisher 2018, hlm. 23: "Para ilmuwan memperkirakan bahwa perluasan pertama jangkauan Homo sapiens yang berhasil ke luar Afrika dan melintasi Jazirah Arab terjadi paling awal 80.000 tahun lalu hingga paling akhir 40.000 tahun lalu, meskipun mungkin ada perpindahan sebelumnya yang tidak berhasil. Sebagian keturunan mereka memperluas jangkauan manusia lebih jauh pada setiap generasi, menyebar ke setiap wilayah layak huni yang mereka temui. Salah satu jalur manusia melewati pesisir yang hangat dan produktif di Teluk Persia dan Samudra Hindia bagian utara. Pada akhirnya, berbagai kelompok memasuki India antara 75.000 dan 35.000 tahun lalu."
- Mattern 2019, hlm. 146–147 Semua populasi manusia non-Afrika memiliki leluhur bersama pada masa lalu yang relatif dekat, sekitar 80.000 hingga 50.000 tahun lalu. Pada suatu waktu dalam kurun ini, sekelompok manusia modern bermigrasi dari Afrika, melintasi Asia selatan, dan menyeberangi laut ke benua purba Sahul (kini Australia, Tasmania, dan Papua Nugini), dengan memperoleh gen Neanderthal dan Denisova sepanjang perjalanan; cabang-cabangnya mencapai Eropa agak kemudian, dan Amerika paling akhir. Ini bukan migrasi pertama manusia modern secara anatomis ke luar Afrika. ... Namun, sebagian besar populasi manusia yang lebih awal di Eurasia berangsur menghilang, kembali ke Afrika, atau digantikan oleh manusia dari migrasi terakhir ke luar Afrika.
- 1 2
- Dyson 2018, hlm. 4–5.
- Fisher 2018, hlm. 33.
- 1 2
- Jamison & Brereton 2014, hlm. 5 "Di wilayah barat laut, yang merupakan cakrawala geografis Regweda, besi mulai diproduksi sekitar 1200–1000 SM. Karena itu, himne-himne Regweda pastilah digubah paling lambat pada masa tersebut ... Regweda merupakan lapisan permukaan dari suatu tradisi yang sangat panjang."
- Lowe 2015, hlm. 1–2 "Kitab ini terdiri atas 1.028 himne (sūkta), gubahan puisi yang digarap dengan sangat cermat dan pada awalnya dimaksudkan untuk dibacakan dalam ritual serta untuk menyeru dan berkomunikasi dengan dewa-dewa Indo-Arya. Pendapat ilmiah modern umumnya sepakat bahwa himne-himne ini digubah antara sekitar 1500 SM dan 1200 SM, selama migrasi suku-suku Indo-Arya ke arah timur dari pegunungan di wilayah yang kini menjadi Afghanistan utara, melintasi Punjab menuju India utara."
- Witzel 2003, hlm. 68–70: "Teks RV digubah sebelum pengenalan dan penggunaan besi secara besar-besaran, yaitu sebelum sekitar 1200–1000 SM."
- 1 2
- Jamison & Brereton 2020, hlm. 2, 4–5: "Regweda merupakan salah satu dari empat Weda, yang bersama-sama menjadi teks tertua dalam bahasa Sanskerta dan bukti paling awal tentang apa yang kelak menjadi Hinduisme. [...] Meskipun agama Weda dalam banyak hal sangat berbeda dari apa yang dikenal sebagai Hinduisme Klasik, benih-benihnya telah ada."
- Flood 2020, hlm. 4, lihat catatan 4: "Saya menggunakan istilah 'Hinduisme' untuk secara bermakna merujuk pada suatu ragam dan sejarah praktik yang ditandai oleh sejumlah ciri, terutama rujukan pada asal-usul tekstual dan pengurbanan Weda, ..."
- Michaels 2017, hlm. 86: "Hampir semua keluarga Hindu tradisional hingga kini menjalankan setidaknya tiga samskara (inisiasi, perkawinan, dan ritual kematian). ... Meskipun samskara berbeda menurut daerah, golongan (varna), dan kasta, unsur-unsur intinya tetap sama karena berasal dari sumber yang sama, yaitu Weda, dan tradisi kependetaan bersama yang dilestarikan para pendeta Brahmana."
- Fisher 2018, hlm. 59–60 "Bagian-bagian utama dari apa yang kini dikenal sebagai Hinduisme sebagian besar berlandaskan dasar Weda ini; sejumlah himne Weda masih dilantunkan sebagai unsur penting ritual Hindu Brahmanis, termasuk perkawinan dan pemakaman. Karena itu, Weda merupakan kumpulan teks suci yang digunakan secara terus-menerus paling lama dalam sejarah manusia dan menjadi sumber yang tidak tertandingi bagi sejarah lingkungan pada masa awal ini."
- Truschke 2025, hlm. 18 "Ritual Weda, organisasi sosial, hubungan dengan hewan-hewan tertentu, dan bahasa berkembang serta menyebar pada abad-abad berikutnya, hingga akhirnya menjadi sebagian dari banyak sumber bagi apa yang kini kita sebut Hinduisme."
- 1 2
- Dyson 2018, hlm. 25. "Bahasa-bahasa Dravida dahulu dituturkan di sebagian besar anak benua tersebut. ... patut diperhatikan bahwa batas yang memisahkan wilayah penutur Indo-Arya dari wilayah penutur Dravida masih membentang dengan kemiringan kecil dari barat daya ke timur laut. ... Namun, proses perluasan Indo-Arya ini mungkin telah bermula sebelum milenium pertama SM."
- Truschke 2025, hlm. 22 "Regweda menggambarkan dua komunitas berbeda yang saling berbaur: para pendatang yang memuliakan himne dan ritual Weda serta mereka yang disebut dasa atau dasyu, penduduk asli India utara. ... Bahasa memberikan bukti paling nyata tentang pertukaran lintas budaya. Banyak, mungkin semua, kelompok dasa menuturkan bahasa-bahasa Dravida dan Munda, dua rumpun bahasa yang mendahului bahasa-bahasa Indo-Eropa di anak benua tersebut."
- 1 2
- Dyson 2018, hlm. 16–17 "... kaum Arya menggunakan api untuk membantu pembukaan hutan, dan pengenalan kapak besi pada masa berikutnya tentu juga membantu. ... proses urbanisasi yang meluas ... mulai terjadi di lembah Gangga antara sekitar 600 SM dan 400 SM. Dengan demikian, pada akhir kurun tersebut, sejumlah kota penting—kebanyakan di tepi sungai—telah tersebar di seluruh lembah itu ... kota-kota tersebut menjadi pusat perkembangan sosial, ekonomi, politik, dan keagamaan. Kota-kota itu juga menjadi tempat dengan pembedaan sosial yang nyata. Jadi, pada 400 SM, ciri-ciri struktural utama sistem kasta telah ada."
- Kulke & Rothermund 2016, hlm. 64 "... penduduk asli yang ditaklukkan bangsa Arya memiliki keterampilan tinggi sebagai perajin. Diskriminasi ras terhadap orang-orang berkulit gelap ini juga mengakibatkan diskriminasi terhadap pekerjaan yang mereka tekuni. Ketiadaan keterampilan semacam itu pada awalnya di kalangan bangsa Arya Weda mungkin merupakan salah satu sebab terpenting munculnya sistem kasta, yang dirancang untuk mempertahankan keunggulan sosial dan politik bangsa Arya. ... Stratifikasi sosial pada akhir zaman Weda menjadi pendahulu hierarki varna dan gender yang kaku pada abad-abad berikutnya, ketika kasta dan penundukan perempuan menjadi dua sisi dari mata uang yang sama."
- Truschke 2025, hlm. 76 "Tiga perkembangan yang saling berkaitan—yang terjadi antara sekitar 300 SM dan 150 M—membantu menjelaskan bagaimana Mahabharata karya Vyasa muncul di India utara sekitar 100 atau 200 M: perluasan geografis dan politik bahasa Sanskerta, sistem kasta turun-temurun yang lebih kuat, dan penggabungan gagasan non-Weda ke dalam tradisi Brahmanis."
- 1 2
- Fisher 2018, hlm. 67–68. "Kedua gerakan keagamaan ini menganjurkan struktur sosial yang serupa bagi manusia, dengan pencapaian individu berupa sikap tanpa kekerasan sepenuhnya dan welas asih kepada semua makhluk hidup sebagai dasar kedudukan. ... Karena itu, siapa pun yang mempraktikkan sikap tanpa kekerasan dan dana dapat meningkat secara sosial maupun moral."
- 1 2 3
- Dyson 2018, hlm. 16–17 "Pataliputra menjadi pusat 'Kekaisaran' Maurya yang ikatan antarwilayahnya longgar".
- Ludden 2014, hlm. 29–30. "Bentuk geografis Kekaisaran Maurya menyerupai laba-laba dengan tubuh kecil yang padat dan kaki-kaki panjang yang kurus."
- Fisher 2018, hlm. 67 "Bahkan di Dataran Gangga, ... sebagian besar wilayah yang luas ini diperintah oleh raja-raja yang sebagian besar otonom dan hanya secara nominal mengakui atau sekadar membayar upeti kepada kaisar Gupta."
- Robb 2011, hlm. 56–57 "Meskipun demikian, Kekaisaran Gupta tetap lebih menyerupai konfederasi daripada negara terpusat."
- 1 2
- Ludden 2014, hlm. 28–29 "Ledakan kreativitas dalam segala bidang seni merupakan ciri paling menonjol dari perubahan pada zaman kuno ini, suatu warisan budaya yang abadi. Wilayah Maurya pada masanya dibentuk oleh angkatan perang yang menggetarkan dan peperangan yang mengerikan, tetapi generasi berikutnya akan menghargai pilar, prasasti, uang logam, patung, bangunan, upacara, dan teksnya yang indah, terutama para penulis Buddhis pada masa kemudian."
- Van Brummelen 2014, hlm. 46–48 "Kisah perkembangan aritmetika dari warisan kuno hingga kekayaan pengetahuan yang diteruskan kepada Renaisans berlangsung dramatis dan melintasi beberapa kebudayaan. Pencapaian yang paling membuka jalan baru ialah perkembangan sistem bilangan posisional, ... Secara garis besar, hal ini bermula di India, diteruskan ke dunia Islam, lalu ke Barat Latin."
- 1 2
- Dyson 2018, hlm. 20 "Karena itu, pada masa Kekaisaran Maurya, kedudukan perempuan dalam masyarakat Indo-Arya arus utama tampaknya telah merosot."
- Stein 2010, hlm. 90 "Dapat dikatakan bahwa kegelapan menyelimuti satu aspek masyarakat selama abad-abad di antara masa kekaisaran: merosotnya kedudukan perempuan."
- Ramusack 1999, hlm. 27–29 "Hak-hak hukum maupun gambaran ideal tentang perempuan semakin dibatasi pada zaman Gupta."
- Truschke 2025, hlm. 115 "Pada awal hingga pertengahan milenium pertama M, kehidupan banyak orang India—terutama perempuan dan golongan bawah—memburuk seiring dengan semakin sistematis dan mengakarnya ketimpangan."
- 1 2
- Kulke & Rothermund 2016, hlm. 125–126 "Faxian ... juga mencatat bukti sistem kasta sebagaimana yang dapat diamatinya. Menurut bukti ini, perlakuan terhadap kaum yang dianggap tidak boleh disentuh, seperti kaum Chandala, sangat mirip dengan yang mereka alami pada masa-masa berikutnya. Hal ini bertentangan dengan pernyataan bahwa bentuk sistem kasta yang kaku tersebut baru muncul di India sebagai reaksi terhadap penaklukan Islam."
- Truschke 2025, hlm. 124 "Meski demikian, kaum Brahmana dan kasta atas lainnya sering menegakkan batas-batas kesucian, yang melahirkan praktik keras yang pertama kali terbukti ada pada pertengahan milenium pertama M dan masih bertahan di sejumlah komunitas Asia Selatan hingga kini: ketidaktersentuhan. ... memiliki dua bentuk utama: sementara (misalnya, perempuan yang sedang menstruasi) dan permanen (misalnya, mereka yang lahir dalam kasta rendah atau di luar sistem kasta, ...). Keduanya menindas, dan bentuk yang kedua mengakibatkan pemisahan tempat tinggal."
- 1 2
- Asher & Talbot 2022, hlm. 20"Kemenangan armada Chola ... merupakan puncak pengaruh India di Asia Tenggara, yang telah menyerap banyak unsur peradaban India selama enam abad atau lebih sebelumnya, termasuk bahasa Sanskerta, aksara India Selatan, serta agama Hindu dan Buddha."
- Dyson 2018, hlm. 40 "Di pesisir timur, kerajaan Pallawa dan Chola berperan penting dalam ... 'Indianisasi' Asia Tenggara. ... kemunculan 'kerajaan-kerajaan India' di wilayah yang kini menjadi Kamboja, Indonesia, Thailand, dan Vietnam."
- Fisher 2018, hlm. 83 "Raja-raja, perdagangan, dan kebudayaan India Selatan terus meluas ke seberang laut hingga ke Jawa di sebelah timur (kini di Indonesia), tempat arsitektur serta unsur budaya Buddha dan Hindu masih bertahan."
- Truschke 2025, hlm. 176 "Bersama perdagangan, berbagai unsur kebudayaan dan agama India terus beredar di Asia Tenggara. Artefak Hindu telah ditemukan di Vietnam selatan, termasuk ratusan lempeng emas kecil dan arca dewa yang dibuat sepanjang sebagian besar milenium pertama M. Yang lebih spektakuler, penguasa Kamboja abad ke-12, Suryavarman II, yang menjalin hubungan diplomatik dengan Chola, membangun kompleks kuil besar Angkor Wat yang hingga kini masih menarik banyak pengunjung. Ramayana Jawa tertua ditulis pada abad ke-10, terutama berdasarkan penceritaan kembali kisah Rama dalam bahasa Sanskerta dari sekitar tahun 600.”
- 1 2
- Ludden 2014, hlm. 52 "Di sepanjang pesisir Samudra Hindia, penganut Zoroastrianisme, umat Kristen, orang Arab, dan orang Yahudi membentuk komunitas yang mapan."
- Asher & Talbot 2022, hlm. 91–92 "... perdagangan laut di sepanjang pesisir Malabar selalu berada di tangan komunitas pedagang pendatang. Dua di antaranya ... ialah umat Kristen Siria dan orang Yahudi, yang mungkin telah tinggal di Kerala ratusan tahun sebelum ... masing-masing abad ke-9 dan akhir abad ke-10."
- Fisher 2018, hlm. 88–89 "Komunitas Yahudi, Kristen, dan Muslim di kota-kota pelabuhan sering mencapai kemakmuran melalui jaringan diaspora perdagangan Samudra Hindia."
- Truschke 2025, hlm. 155, 178 "(hlm. 155) Sekitar 700 M, pengikut dua agama tambahan, yaitu orang Parsi dan Muslim, telah memasuki anak benua tersebut. Orang Parsi menganut agama kuno Zoroastrianisme, yang usianya kurang lebih sama dengan tradisi Weda. (hlm. 178) Pada abad ke-9, pesisir Malabar telah menjadi tempat tinggal komunitas Arab Muslim, Yahudi, Persia, dan India."
- 1 2
- Ludden 2014, hlm. 86 "Para prajurit Asia Tengah memperoleh keunggulan selama peralihan abad pertengahan di Asia Selatan dengan mengerahkan pasukan berkuda cepat yang mahir melepaskan anak panah sambil berpacu kencang, satu rentetan demi rentetan berikutnya; ..."
- Asher & Talbot 2022, hlm. 22, 31–32."(hlm. 22) Berkat latar belakang nomaden mereka, bangsa-bangsa Turkik mahir dalam peperangan berkuda. (hlm. 31–32) Dengan menggunakan taktik nomaden klasik dari stepa Asia Tengah, kavaleri ringan mereka dapat menyebar dan menyerang sisi-sisi musuh dari segala arah, ..."
- Truschke 2025, hlm. 182 "Dinasti Ghuriyah diuntungkan oleh kemajuan teknologi militer pada abad ke-11–12. Khususnya, penggunaan tapal kuda berpaku dan sanggurdi yang lebih luas membuat kuda lebih lincah dalam peperangan."
- 1 2
- Asher & Talbot 2022, hlm. 60 "Namun, dalam jangka panjang, pengayaan budaya dan sosial yang dihasilkan dari keterlibatan dalam peradaban paling kosmopolitan di dunia pada abad pertengahan akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kebesaran India"
- Truschke 2025, hlm. 164 "Apa pun istilah yang kita gunakan untuk menggambarkan tokoh politik Muslim dan, kemudian, Indo-Muslim, kelompok-kelompok ini membawa bahasa, adat budaya, dan sumber sejarah baru—selain agama baru—ke anak benua India yang telah beragam.”
- 1 2
- Asher & Talbot 2022, hlm. 62, 75, 85. "(hlm. 62) Wijayanagara ... sering dianggap telah melestarikan cara hidup yang khas Hindu di India selatan yang telah hilang di utara, suatu kesalahpahaman yang mengabaikan kreativitas maupun sifat kosmopolitan elite Wijayanagara. (hlm. 75) Raja-raja Wijayanagara tidak memandang diri mereka sedang terlibat dalam pertarungan hidup-mati demi kelangsungan Hinduisme dan masyarakat India Selatan. Namun, para penguasa Wijayanagara memang berusaha bertindak sebagai raja yang adil menurut dharma, yaitu memenuhi harapan tradisional India terhadap penguasa. ... (hlm. 85) Sebagian besar peningkatan kosmopolitanisme India Selatan terjadi karena orang semakin banyak berpindah di dalam wilayah luas yang berada di bawah kekuasaan Wijayanagara."
- Fisher 2018, hlm. 97–98 "Di dataran tinggi yang kering di Dekkan barat daya, negara penakluk Wijayanagara ('Kota Kemenangan'), yang ditopang kekuatan militer dan fiskal, berkuasa selama berabad-abad. ... Ibu kota Wijayanagara (di Sungai Tungabhadra) memiliki istana kerajaan dan kuil-kuil yang memberi wibawa serta mengikat masyarakat secara budaya kepada pemerintahannya melalui pertunjukan ketundukan ritual oleh para penguasa dan pedagang di sekitarnya."
- Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 47 "Wijayanagara, yang berpusat di Karnataka tetapi segera meluas ke Andhra dan sekitarnya, didirikan oleh dua bersaudara yang ... menganut tradisi Saiwa yang kuat, yakni pemujaan kepada Dewa Siwa, sebagai ideologi ... Kerajaan itu meniru teknologi militer Kesultanan, ..."
- ↑
- Asher & Talbot 2022, hlm. 343 " ... pendiri Sikhisme, Guru Nanak (1469–1539). Seperti Kabir, Guru Nanak merupakan bagian dari tradisi Sant ... yang menolak bentuk-bentuk agama yang dilembagakan."
- Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 13 "Seperti para sufi, guru-guru bhakti menekankan pengabdian pribadi seseorang kepada yang ilahi. … Kabir dan Nanak menekankan pemujaan kepada Tuhan personal yang tidak berwujud. Dengan demikian, mereka menjauhkan diri dari simbol-simbol khas Hindu dan Islam."
- Stein 2010, hlm. 170 “Sikhisme … didirikan oleh Guru Nanak dalam kebangkitan keagamaan pada abad ke-15 dan ke-16. Ia mengajarkan toleransi universal serta pencarian hal-hal yang baik dan sama dalam semua agama, dan menghimpun pengikut dari kalangan Hindu maupun Muslim….”
- Kulke & Rothermund 2016, hlm. 232–233 "Sekitar abad ke-14, sejumlah Sant atau penyair suci muncul di India utara. Mereka mempertanyakan kegunaan kaum Brahmana/pendeta, ritual, dan sistem kasta. … Guru Nanak, pendiri Sikhisme, juga berasal dari latar sosial-keagamaan yang serupa, dan gagasannya diperkaya oleh arus pemikiran Hindu maupun Islam."
- Gilbert 2017, hlm. 79 "... seorang pemimpin agama di bagian barat laut anak benua tersebut, Guru Nanak (1469–1539), menerima wahyu dari Tuhan yang mendesaknya untuk menyatukan umat Hindu dan Muslim. Ajarannya dan ajaran para penerus langsungnya melahirkan sebuah agama egaliter yang disebut Sikhisme."
- ↑ Asher & Talbot 2022, hlm. 187 "Yang terutama, masa damai relatif yang panjang, yang dimulai oleh kekuasaan Akbar dan dipertahankan para penerusnya sepanjang abad ke-17, turut mendorong perluasan ekonomi India."
- ↑ Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 54–55 "Kunci lain keberhasilan Akbar ialah reformasi administrasi yang membentuk kerangka pemerintahan yang bertahan lama. ... Para bangsawan dianugerahi pangkat, yang disebut mansab, dengan tingkatan berdasarkan kelipatan sepuluh, dan diharapkan menyediakan prajurit berkuda bagi kaisar sesuai dengan angka pangkat mereka. Mereka diangkat ke jabatan dalam dua hierarki sejajar, satu dengan tanggung jawab sipil dan satu lagi militer—sehingga saling mengawasi—pada tingkat distrik, provinsi, hingga pusat di seluruh kekaisaran. ... Namun, bahkan kekaisaran yang relatif terpusat seperti ini pun memiliki jangkauan terbatas ke masyarakat setempat. Pejabat Mughal biasanya merundingkan penyerahan pendapatan yang dituntut dengan para kepala garis keturunan dan kepala suku, yang diseragamkan dalam istilah Mughal sebagai zamindar (pemegang tanah)."
- ↑
- Asher & Talbot 2022, hlm. 178 "Kronik, baik visual maupun tertulis, memberi tahu kita bahwa pemain alat musik dari Khurasan dan Asia Tengah serta penyanyi dari India tinggal di istana Akbar. ... Penyanyi yang jauh paling terkenal ialah Tansen yang legendaris (w. 1586), yang diperoleh Akbar dari seorang penguasa bawahannya pada awal masa pemerintahannya, pada 1562."
- Truschke 2025, hlm. 255 "Terjemahan Mughal memberi banyak umat Hindu akses ke teks-teks keagamaan mereka antara abad ke-16 dan ke-19. Hanya sedikit orang pada awal zaman modern yang menguasai bahasa Sanskerta, bahasa yang tidak pernah menjadi bahasa sehari-hari masyarakat umum dan yang, bahkan sebagai bahasa sastra, telah lama terbatas pada kalangan elite terpelajar. Sebaliknya, banyak orang India dari beragam latar agama mempelajari bahasa Persia untuk bekerja bagi negara Mughal."
- Naim 1978 "Puisi-puisi Ghālib dan Mīr mewakili karya terbaik ghazal Urdu; dan ghazal Urdu, sebagaimana pernah dikatakan seorang pengamat jenaka yang tidak disebutkan namanya, merupakan sumbangan terbesar umat Muslim kepada India setelah Tāj Mahal."
- Fisher 2018, hlm. 106 "Selama hampir empat abad, Taj Mahal telah berdiri sebagai mahakarya arsitektur, terkenal di seluruh dunia karena teknologi pembangunannya dan, terlebih lagi, mutu pengerjaannya serta keseimbangan dan proporsi bentuknya yang indah."
- Asher 1992, hlm. 250–251 "Dibandingkan penguasa lainnya, Shah Jahan paling berupaya menggunakan arsitektur untuk menampilkan sifat resmi dan setengah ilahi seorang kaisar. ... Hal ini paling jelas terlihat di kota yang dibangunnya dari awal, Shahjahanabad, ... Banyaknya bangunan yang masih bertahan mengingatkan kita bahwa mekanisme ekonomi Mughal mendorong pembelanjaan dan perputaran uang yang terus-menerus. ... selera kekaisaran yang anggun ... banyak ditiru di seluruh India."
- ↑ Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 127–128 "Perubahan-perubahan yang penting bagi negara modern, termasuk penyatuan kedaulatan, ... diperkenalkan pada masa yang sama ... Tahun 1848 sebagai titik awal 'negara modern' di India ..."
- ↑
- Asher & Talbot 2022, hlm. 368 "Di sisi lain, semakin banyak sejarawan menganggap dasawarsa 1820-an atau 1830-an sebagai awal sesungguhnya masa kolonial, sebab baru pada saat itulah terjadi perubahan mendasar dalam struktur ekonomi dan politik."
- Fisher 2018, hlm. 120 "India menjadi wilayah pinggiran utamanya, menyediakan modal ... tenaga kerja, barang kerajinan, dan bahan mentah, sekaligus menjadi pasar bagi barang jadi hasil manufaktur Britania."
- ↑ Truschke 2025, hlm. 333 "Kolonialisme Britania memiliki dua tahap utama di Asia Selatan: pemerintahan Perusahaan (1757–1858) dan Kemaharajaan Britania (1858–1947)."
- ↑ Taylor, Miles (2016), "The British royal family and the colonial empire from the Georgians to Prince George", dalam Aldrish, Robert; McCreery, Cindy (ed.), Crowns and Colonies: European Monarchies and Overseas Empires, Manchester University Press, hlm. 38–39, ISBN 978-1-5261-0088-7 "Ketika pemerintahan India dialihkan dari Perusahaan Hindia Timur kepada Kerajaan pada 1858, ia (Ratu Victoria) dan Pangeran Albert turun tangan dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menjadikan proklamasi pengalihan kekuasaan itu sebuah dokumen toleransi dan pengampunan. ... dikenal di anak benua India sebagai 'Magna Carta kebebasan India', sebuah ungkapan yang kemudian digunakan kaum nasionalis India seperti Gandhi ketika mereka berupaya menguji kesetaraan di bawah hukum kekaisaran" (halaman 38–39)"
- ↑ Peers 2013, hlm. 76 "... (proklamasi itu) tetap berpegang pada prinsip-prinsip imperialisme liberal dan tampak menjanjikan bahwa pemerintahan Britania akan menguntungkan orang India maupun Britania. Namun, sebagaimana terlalu sering terjadi ... kegagalan pihak Britania memenuhi bunyi proklamasi itu kemudian digunakan kaum nasionalis India sebagai bukti kehampaan prinsip-prinsip kekaisaran"
- ↑ Roy 2020, hlm. 242–243 "... kebanyakan negara (kepangeranan) pada akhir abad ke-19 memahami kemakmuran ekonomi dengan konsep yang sangat mirip dengan pandangan India Britania tentang pembangunan ekonomi—pertumbuhan perdagangan dan budidaya pertanian. Kereta api dan irigasi merupakan sarana utama untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Namun, mendorong perdagangan, membangun jalur kereta api, dan memasok air irigasi kepada petani merupakan tantangan yang lebih sulit dipenuhi di negara-negara itu. Penyebabnya ialah kebanyakan negara tersebut berukuran kecil, terletak di daerah berbukit, kering dan terkurung daratan, serta tidak memiliki sungai yang mengalir sepanjang tahun. Apabila memungkinkan, mereka membangun jalur kereta api dan menghubungkannya dengan jaringan yang menghubungkan kota-kota pelabuhan India Britania. Globalisasi abad ke-19, bersama perbedaan awal dalam kondisi geografis, lebih menguntungkan India Britania daripada negara-negara kepangeranan."
- ↑ Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 127–128 "Perubahan teknologi modern, termasuk kanal, kereta api, dan telegraf, diperkenalkan di India hanya beberapa tahun setelah diperkenalkan di Eropa"
- ↑ Embree, Ainslie Thomas; Hay, Stephen N.; Bary, William Theodore De (1988), "Nationalism Takes Root: The Moderates", Sources of Indian Tradition: Modern India and Pakistan, Columbia University Press, hlm. 85, ISBN 978-0-231-06414-9 "Dalam keadaan ini, tidak lama kemudian benih gagasan nasionalisme, yang ditanam oleh bacaan mereka atas buku-buku Barat, mulai berakar dalam pikiran orang-orang India yang cerdas dan penuh semangat."
- ↑ Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 158 "setelah 1857 ... dasawarsa-dasawarsa ini ditandai oleh menjamurnya dan berkembangnya organisasi sukarela; lonjakan penerbitan surat kabar, pamflet, dan poster; serta penulisan fiksi dan puisi maupun nonfiksi politik, filsafat, dan sejarah. Melalui kegiatan ini, muncul taraf baru kehidupan publik, mulai dari pertemuan dan arak-arakan hingga teater jalanan bermuatan politik ..."
- ↑ Marshall, P. J. (2001), The Cambridge Illustrated History of the British Empire, Cambridge University Press, hlm. 179, ISBN 978-0-521-00254-7,
Gerakan nasionalis modern pertama yang muncul di wilayah kekaisaran di luar Eropa, dan yang menjadi inspirasi bagi banyak gerakan lainnya, ialah Kongres India.
- ↑ Chiriyankandath, James (2016), Parties and Political Change in South Asia, Routledge, hlm. 2, ISBN 978-1-317-58620-3,
Partai-partai Asia Selatan mencakup sejumlah partai tertua di dunia pascakolonial, terutama Kongres Nasional India yang berusia 129 tahun dan yang memimpin India menuju kemerdekaan pada 1947
- ↑ Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 202: "Tahun 1919 merupakan titik balik dalam sejarah modern India. [...] Menjelang akhir tahun itu, reformasi Montagu–Chelmsford ... diberlakukan. [...] Namun, tahun itu juga membawa rancangan undang-undang Rowlatt yang represif dan bencana pembantaian Amritsar. Bagi banyak orang India, jika bukan sebagian besarnya, reformasi itu telah menjadi cawan beracun. Sebagai gantinya, mereka memilih jalan baru tindakan politik, yaitu 'nonkooperasi tanpa kekerasan', dan seorang pemimpin baru, Mohandas K. Gandhi, yang baru kembali setelah dua puluh tahun di Afrika Selatan. Gandhi akan terus menjadi simbol kepemimpinan moral bagi seluruh masyarakat dunia."
- ↑ Stein 2010, hlm. 289: "Gandhi merupakan tokoh pemikir utama dalam perjuangan kemerdekaan India pada tahap berikutnya yang akhirnya berhasil"
- ↑
- Copland 2001, hlm. 71–78.
- Metcalf & Metcalf 2006, hlm. 222.
- 1 2 Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 267 "Semua sepakat bahwa India yang baru harus menjadi negeri demokratis, dengan hak pilih universal serta kebebasan pers dan berbicara"
- 1 2 Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 268–269. "Partai Kongres di bawah kepemimpinan Nehru berkomitmen ... pada prinsip-prinsip sekularisme ... dan Nehru bertekad agar India menjadi negara sekuler. ... Sekularisme India berupaya merangkul, dan dengan demikian menopang, seluruh agama yang beragam di India."
- 1 2 Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 267–268 "Konstitusi yang baru ... melarang praktik ketidaktersentuhan, tetapi yang lebih penting ... ialah pencadangan kursi di badan legislatif bagi kaum yang sebelumnya dianggap tidak boleh disentuh, serta suku-suku penghuni hutan yang tertindas. Kelompok-kelompok ini dicantumkan dalam daftar khusus di konstitusi sehingga dikenal sebagai 'Kasta dan Suku Terdaftar' ... Anggota kasta-kasta ini mengikuti pemilihan di daerah pemilihan biasa yang hanya mengizinkan mereka menjadi calon. ... pencadangan ini berkembang hingga mencakup akses istimewa ke lembaga pendidikan dan dinas administrasi."
- 1 2 Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 275–276 "Menghadapi penolakan keras Nehru, pemimpin Andhra, Potti Sriramalu, memulai puasa sampai mati pada Oktober 1952. Pada Desember, Sriramalu meninggal; tiga hari kemudian, pemerintah menyetujui pembentukan negara bagian Andhra. Setelah dimulai, proses penataan ulang itu tidak dapat dihentikan. Komisi Penataan Ulang Negara Bagian dibentuk, dan laporannya, yang dilaksanakan pada 1956, menghasilkan penataan menyeluruh India menjadi empat belas negara bagian berdasarkan bahasa. ... Penataan ulang negara bagian mendorong politik kebahasaan regional yang baru, tetapi pada saat yang sama, dengan mengakomodasi secara damai perasaan rakyat yang sangat kuat, langkah itu membantu membendung semangat separatisme."
- 1 2 Raghavendra 2026 "Setelah penataan ulang negara bagian berdasarkan bahasa, berbagai perfilman bahasa daerah memiliki khalayak dari masyarakat yang terkait dengan bahasa masing-masing. Perfilman Tamil dan Malayalam masing-masing melayani masyarakat Tamil Nadu dan Kerala, sedangkan perfilman Kannada melayani masyarakat negara bagian Karnataka. … Namun, negara bagian itu terdiri atas berbagai daerah berbahasa Kannada yang disatukan pada 1956 … Perfilman Kannada sebelum 1956 berasal dari wilayah yang berpadanan dengan negara kepangeranan Mysore …"
- ↑ Gupta 2025, hlm. 43 "Kemandekan pertanian baru berbalik setelah kemerdekaan, melalui investasi dalam infrastruktur pertanian dan dimulainya Revolusi Hijau."
- ↑ Tomlinson 2013, hlm. 206 "India mencapai tujuan ketahanan pangan pada dasawarsa 1970-an."
- 1 2 Talbot 2016, hlm. 200–201 "Pecahnya Pakistan bukan hanya menggeser keseimbangan strategis secara tegas untuk keuntungan India, tetapi juga menghentikan dukungan Islamabad terhadap pemberontakan Naga dan Mizo di wilayah pinggiran timur laut yang bergolak. Ancaman 'campur tangan asing' di sana juga mendorong pengambilalihan Sikkim oleh (Ny.) Gandhi pada 1975, yang menyimpang dari kebijakan ayahnya."
- 1 2 Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 288 "Dengan semangat yang diperoleh dari kemenangan pemilihan ini, Ny. Gandhi ... menghapus tunjangan pribadi yang diberikan kepada para pangeran India pada 1947 untuk melunakkan dampak penggabungan negara-negara kepangeranan mereka."
- 1 2 3 Dyson 2018, hlm. 172 "Tabel 8.1 Estimasi demografis India 1921–1971. 1951: 361,0 juta, 1961: 439,1 juta, 1971: 548,2 juta."
- 1 2 3 "India Population 2025 - United Nations Population Fund". Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa. 2025. Diakses tanggal 6 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 Tomlinson 2013, hlm. 204a "Dampak kumulatif reformasi dasawarsa 1990-an ialah menggeser India dari cita-cita kemandirian menuju keterpaduan yang lebih besar dengan ekonomi dunia; mengurangi pengendalian terhadap kegiatan usaha swasta, terutama di bidang manufaktur; serta menurunkan secara berarti hambatan masuk bagi perusahaan baru, baik domestik maupun asing."
- 1 2 3 Tomlinson 2013, hlm. 204b "Gabungan reformasi-reformasi ini sebagai paket liberalisasi selama dua puluh tahun, dari pertengahan dasawarsa 1980-an hingga awal dasawarsa 2000-an, ... menciptakan peluang bagi pertumbuhan pesat dan berkelanjutan pada masa belakangan."
- 1 2 Talbot 2016, hlm. 268–269 "Selama lebih dari tiga dasawarsa sejak pembunuhan Indira Gandhi, India telah mengalami perubahan politik dan ekonomi yang berarti. Negara ini menjadi lebih makmur, dengan kelas menengah konsumtif yang besar. Revolusi komunikasi telah memperbaiki kehidupan sejumlah besar orang yang tinggal di kota maupun pedesaan."
- 1 2 3 Tomlinson 2013, hlm. 209 "Namun, ... kesenjangan pendapatan antara negara bagian yang lebih kaya dan lebih miskin tetap besar; tujuh negara bagian termiskin—Bihar, Chhattisgarh, Jharkhand, Madhya Pradesh, Orissa, Rajasthan, dan Uttar Pradesh—masih menjadi tempat tinggal lebih dari separuh penduduk miskin India. Produktivitas tenaga kerja, pendidikan, dan ketersediaan tenaga terampil yang lebih rendah menjadi ciri negara bagian miskin, sementara kesenjangan regional melebar selama masa reformasi."
- 1 2 Fisher 2018, hlm. 207–209 "Bihar atau Uttar Pradesh, ... memperlihatkan ketimpangan gender dalam akses terhadap peluang hidup yang lebih besar daripada sebagian besar negara di Afrika sub-Sahara"
- 1 2 3 Fisher 2018, hlm. 230–231 "Perubahan iklim bumi semakin memengaruhi India, yang sangat rentan (seperti Pakistan dan Bangladesh). Banyak spesies fauna dan flora menghadapi kepunahan, dan persebaran spesies yang bertahan hidup sedang bergeser."
- 1 2
- Talbot 2016, hlm. 269–270 "India juga tidak bersinar bagi penduduk Muslim perkotaan yang semakin terkurung dalam kawasan-kawasan tersegregasi."
- Jaffrelot 2019, hlm. 209–210 "Meskipun umat Kristen menjadi sasaran stigmatisasi dan kebijakan represif, keadaan umat Muslim bahkan lebih rentan ... sebab kaum nasionalis Hindu secara lebih sistematis menyangkal kedudukan mereka sebagai warga negara India. Bagi penganut Hindutva, umat Muslim merupakan perwujudan 'Yang Lain'"
- ↑ "UN Membership: Founding Member States". Perserikatan Bangsa-Bangsa: Perpustakaan Dag Hammarskjöld. Diakses tanggal 9 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) " ... Negara Anggota Pendiri: India; Tanggal Penandatanganan: 26 Juni 1945; Tanggal Ratifikasi: 30 Oktober 1945; ..." - ↑ "Ancient Buddhist Site of Sarnath inscribed on UNESCO World Heritage List". UNESCO. 25 Juli 2026. Diakses tanggal 9 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) "Busan, Republik Korea, 25 Juli 2026: Situs Buddhis Kuno Sarnath di Uttar Pradesh, India, telah dimasukkan ke Daftar Warisan Dunia UNESCO dalam sidang ke-48 Komite Warisan Dunia ... Dengan pencatatan ini, India kini memiliki 45 situs Warisan Dunia." - ↑ Butler, Rhett Ayers (25 Mei 2025). "Ranking the world's biodiversity". Mongabay. Diakses tanggal 1 Oktober 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) "Keanekaragaman Hayati menurut Negara: Pangsa Keanekaragaman Hayati. DARAT + LAUT: Negara/wilayah dengan rata-rata pangsa spesies tertinggi di antara amfibi, burung, ikan air tawar dan laut, mamalia, reptil, serta tumbuhan berpembuluh: (Peringkat Negara Pangsa Rata-rata) 1. Brasil 12,61%, 2. Indonesia 10,04%, ... 7. Australia 7,80%, 8. India 7,29%, 9. Ekuador 7,23%, 10. Amerika Serikat (AS) 7,21% ...." - ↑ Karanth & Gopal 2005, hlm. 374"... etos sosial tradisional di sebagian besar India sangat toleran terhadap kerusakan yang ditimbulkan satwa liar dibandingkan dengan tempat lain ..."
- ↑ "India (n)". Oxford English Dictionary (Edisi daring). Oxford University Press. (Subscription or participating institution membership required.)
- ↑ Kuiper 2010, hlm. 86.
- 1 2 3 Clémentin-Ojha 2014.
- ↑ The Constitution of India (PDF), Kementerian Hukum dan Kehakiman, 1 Desember 2007, diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 9 September 2014, diakses tanggal 3 Maret 2012,
Pasal 1(1): India, yaitu Bharat, merupakan suatu Persatuan Negara-Negara Bagian.
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Jha, Dwijendra Narayan (2014), Rethinking Hindu Identity, Routledge, hlm. 11, ISBN 978-1-317-49034-0
- ↑ Singh 2017, hlm. 253.
- 1 2 Barrow 2003.
- ↑ Paturi, Joseph; Patterson, Roger (2016). "Hinduism (with Hare Krishna)". Dalam Hodge, Bodie; Patterson, Roger (ed.). World Religions & Cults Volume 2: Moralistic, Mythical and Mysticism Religions. Amerika Serikat: New Leaf Publishing Group. hlm. 59–60. ISBN 978-0-89051-922-6.
Istilah Hindu sendiri pertama kali muncul sebagai istilah geografis Persia untuk orang-orang yang tinggal di seberang Sungai Indus. Istilah Hindu bermula sebagai istilah geografis dan tidak merujuk pada suatu agama. Kemudian, Hindu diserap oleh bahasa-bahasa Eropa dari istilah Arab al-Hind, yang merujuk pada orang-orang yang tinggal di seberang Sungai Indus. Istilah Arab ini sendiri diambil dari istilah Persia Hindū, yang merujuk pada semua orang India. Pada abad ke-13, Hindustan muncul sebagai nama alternatif yang populer untuk India, yang berarti "negeri orang Hindu".
- ↑ "Hindustan", Encyclopædia Britannica, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 Juli 2011, diakses tanggal 17 Juli 2011
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Lowe, John J. (2017). Transitive Nouns and Adjectives: Evidence from Early Indo-Aryan. Oxford University Press. hlm. 58. ISBN 978-0-19-879357-1.
Istilah 'Sanskerta Wiracarita' merujuk pada bahasa dua wiracarita besar berbahasa Sanskerta, Mahābhārata dan Rāmāyaṇa. ... Karena itu, kemungkinan besar unsur-unsur yang menyerupai wiracarita dalam sumber-sumber Weda dan kedua wiracarita yang kita miliki tidak berhubungan langsung, tetapi keduanya mengambil bahan dari sumber yang sama, yaitu tradisi lisan penceritaan yang telah ada sebelum, sepanjang, dan setelah zaman Weda.
- ↑ Dyson 2018, hlm. 28
- ↑ Dyson 2018, hlm. 1: "Manusia modern—Homo sapiens—berasal dari Afrika. Kemudian, secara berselang-seling, pada suatu waktu antara 60.000 dan 80.000 tahun lalu, kelompok-kelompok kecil mulai memasuki bagian barat laut anak benua India. Tampaknya, pada awalnya mereka datang melalui pesisir. [...] hampir dapat dipastikan bahwa Homo sapiens telah ada di anak benua itu 55.000 tahun lalu, meskipun fosil tertua mereka yang ditemukan baru berasal dari sekitar 30.000 tahun sebelum sekarang."
- ↑ Wright 2010, hlm. 45–51.
- 1 2 Wright 2010, hlm. 107.
- ↑ Wright 2010, hlm. 145–146.
- ↑ Dyson 2018, hlm. 16, 25.
- ↑ Evans, Nicholas (2009). Dying Words: Endangered languages and what they have to tell us. John Wiley & Sons. hlm. 27–. ISBN 978-0-631-23305-3.
- ↑ Lowe, John J. (2017). Transitive Nouns and Adjectives: Evidence from Early Indo-Aryan. Oxford University Press. hlm. 58. ISBN 978-0-19-879357-1.
Istilah 'Sanskerta Wiracarita' merujuk pada bahasa dua wiracarita besar berbahasa Sanskerta, Mahābhārata dan Rāmāyaṇa. ... Karena itu, kemungkinan besar unsur-unsur yang menyerupai wiracarita dalam sumber-sumber Weda dan kedua wiracarita yang kita miliki tidak berhubungan langsung, tetapi keduanya mengambil bahan dari sumber yang sama, yaitu tradisi lisan penceritaan yang telah ada sebelum, sepanjang, dan setelah zaman Weda.
- ↑ Stein 2010, hlm. 21, 61–62.
- ↑ Dyson 2018, hlm. 16–17.
- ↑ Roy 2012, hlm. 28.
- ↑ Iori 2023, hlm. 184, 219.
- ↑ Stein 2010, hlm. 73.
- ↑ Elverskog, Johan (2020). The Buddha's Footprint: An Environmental History of Asia. Philadelphia: University of Pennsylvania Press. hlm. 56. ISBN 978-0-8122-5183-8.
Maklumat kekaisaran Asoka mencerminkan pandangan terhadap pohon sebagai komoditas ini. Dalam Maklumat Pilar V, Asoka menetapkan bahwa "hutan tidak boleh dibakar tanpa alasan". Komunitas Buddhis melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa, untuk melindungi hutan dari kebakaran semacam itu, para biksu diperbolehkan menyalakan api tandingan
- ↑ Fisher 2018, hlm. 72.
- ↑ Kulke & Rothermund 2016, hlm. 118, 126.
- ↑ Robb 2011, hlm. 68–69.
- ↑ Stein 2010, hlm. 93–94.
- ↑ Gilbert 2017, hlm. 54–55.
- ↑ Kulke & Rothermund 2016, hlm. 122–123.
- ↑ Stein 2010, hlm. 98.
- ↑ Stein 2010, hlm. 100–101.
- ↑ Stein 2010, hlm. 99.
- 1 2 Stein 2010, hlm. 115–116.
- 1 2 Stein 2010, hlm. 116–117.
- 1 2 Stein 2010, hlm. 118.
- 1 2 Stein 2010, hlm. 118–119.
- 1 2 Stein 2010, hlm. 121–123.
- ↑
- Ludden 2014, hlm. 85 "Muhammad Ghuri meninggal pada 1206. Jenderal kepercayaannya ..., Qutb ud din Aibak, gubernur Delhi, menyatakan kemerdekaan. Dinastinya menjadi yang pertama dalam rangkaian dinasti yang kemudian dikenal sebagai Kesultanan Delhi. ... Kesultanan Delhi menjadi dinasti India yang menandai suatu zaman dengan memukul mundur bangsa Mongol, yang tidak terbendung di tempat lain di Asia."
- ↑
- Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 41 "Rakyat dinasti-dinasti itu terutama terdiri atas non-Muslim, yang disebut zimmi, 'orang-orang yang dilindungi', dan dibiarkan menjalankan hukum serta adat mereka sendiri. Pada prinsipnya, mereka wajib membayar pajak kepala (jizya), tetapi tidak dikenai wajib militer. Hukum pada umumnya diterapkan menurut hukum para pihak atau, apabila berbeda, hukum pihak tergugat."
- (Asher & Talbot 2022, hlm. 54 "Sebagian besar penduduk non-Muslim India umumnya dibiarkan menjalankan agama mereka dengan damai karena telah digolongkan sebagai zimmi atau rakyat yang dilindungi oleh penguasa Islam pertama di anak benua tersebut, yaitu orang Arab di Sind pada abad ke-8, dan praktik ini diikuti oleh raja-raja Muslim berikutnya."
- ↑
- Ludden 2014, hlm. 85 "Kesultanan Delhi menjadi dinasti India yang menandai suatu zaman dengan memukul mundur bangsa Mongol, yang tidak terbendung di tempat lain di Asia."
- ↑
- Asher & Talbot 2022, hlm. 58–59 "Hasil terpenting dari berdirinya Kesultanan Delhi ialah masuknya Asia Selatan ke dalam lingkup geografis Islam yang terus berkembang. Hubungan antara India utara dan dunia Persia bagian timur diperkuat ... Melalui penyatuannya ke dalam kawasan yang luas ini, tempat agama dan budaya bersama beredar secara luas, India sendiri menjadi tempat yang jauh lebih kosmopolitan."
- ↑
- Asher & Talbot 2022, hlm. 62 "Hasil penting lain dari ekspedisi militer Delhi ialah hancurnya kerajaan-kerajaan regional yang telah ada di selatan. Hal ini membuka jalan bagi munculnya Wijayanagara, sebuah negara baru yang diperintah oleh para prajurit pribumi dan yang membentuk masyarakat serta kebudayaan India selatan selama berabad-abad berikutnya."
- ↑ Robb 2011, hlm. 97–98.
- ↑ Stein 2010, hlm. 159.
- ↑ Asher & Talbot 2022, hlm. 136.
- ↑ Robb 2011, hlm. 108–109.
- ↑ Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 15.
- ↑ Asher & Talbot 2022, hlm. 136, 151–152.
- 1 2 Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 17.
- ↑ Asher & Talbot 2022, hlm. 195.
- ↑ Stein 2010, hlm. 164.
- ↑ Asher & Talbot 2022, hlm. 187.
- ↑ Asher & Talbot 2022, hlm. 187 "Kebijakan ekonomi Akbar mendorong pertumbuhan kegiatan perdagangan, yang menghubungkan berbagai bagian Asia Selatan dalam jaringan yang semakin erat. Ketentuannya agar pajak tanah dibayar dengan uang tunai memaksa petani masuk ke jaringan pasar tempat mereka dapat memperoleh uang yang diperlukan, sedangkan penyeragaman mata uang kekaisaran mempermudah pertukaran barang dengan uang. Yang terutama, masa damai relatif yang panjang, yang dimulai oleh kekuasaan Akbar dan dipertahankan para penerusnya sepanjang abad ke-17, turut mendorong perluasan ekonomi India."
- ↑ Asher & Talbot 2022, hlm. 231.
- 1 2 3 Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 58–59.
- ↑ Asher & Talbot 2022, hlm. 330.
- 1 2 Asher & Talbot 2022, hlm. 331–335.
- ↑ Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 78–82.
- ↑ Robb 2011, hlm. 115–117.
- ↑ Asher & Talbot 2022, hlm. 365.
- ↑ Ludden 2014, hlm. 151–154.
- ↑ Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 85–90.
- ↑ Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 103–110.
- ↑ Asher & Talbot 2022, hlm. 368.
- ↑ Asher & Talbot 2022, hlm. 369.
- ↑
- Stein 2010, hlm. 231 "Meski demikian, India tetap merupakan masyarakat yang sebagian besar bersifat pedesaan pada abad ke-19, dan ketika sensus provinsi pertama mulai disusun sekitar pertengahan abad itu, tempat perkotaan didefinisikan secara sederhana sebagai permukiman dengan penduduk lebih dari 5.000 jiwa."
- 1 2 3 4
- Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 127–128 "Perubahan teknologi modern, termasuk kanal, kereta api, dan telegraf, diperkenalkan di India hanya beberapa tahun setelah diperkenalkan di Eropa. Perubahan yang penting bagi negara modern mencakup penyatuan kedaulatan, pendataan dan pengawasan penduduk oleh kepolisian, serta lembaga-lembaga yang dimaksudkan untuk membentuk warga terdidik; secara umum, hal-hal ini juga diperkenalkan pada masa yang sama di India dan di sebagian Eropa."
- Robb 2011, hlm. 159–160 "Contoh perubahan mendasar yang diperkenalkan, baik dengan maupun tanpa persetujuan orang India, mencakup rasionalisasi birokrasi menurut teori terbaik abad ke-19. ... Auckland mulai mendorong pembangunan kanal setelah bencana kelaparan parah di India utara pada dasawarsa 1830-an. Dalhousie meneruskan perhatian sebelumnya terhadap jalan dan angkutan sungai, serta merintis telegraf dan kereta api."
- Brown 1994, hlm. 83 "Yang lebih jelas berhasil ialah reformasi kantor pos oleh Dalhousie dan, atas dorongannya, penyelesaian 4.000 mil jaringan telegraf. Ketika pekerjaan umum dikembangkan, alasan resmi yang dikemukakan sering kali ialah keamanan. Kepentingan dagang terutama mengejar keuntungan pribadi, meskipun alasan mereka dikemukakan dalam kerangka keamanan kekaisaran dan manfaat moral bagi India. Pada 1848, misalnya, East India Railway Company mendesak Perdana Menteri dengan menyatakan bahwa pembangunan kereta api dapat membawa pengaruh baik yang mendalam bagi kehidupan semua orang India."
- Peers 2006, hlm. 50 "Pembangunan kereta api melonjak pada dasawarsa 1850-an, sebagian besar berkat upaya Lord Dalhousie ... ia datang ke India dengan keyakinan bahwa koloni itu perlu dimodernisasi, dan teknologi menjadi salah satu unsur utama rencananya. Meskipun pembangunan dan pengoperasian kereta api tetap berada di tangan swasta, modal yang dibutuhkan hanya dapat diperoleh melalui jaminan investasi dari pemerintah. Pada 1849, Dalhousie mengatur imbal hasil sebesar 6 persen bagi investor Britania yang bersedia menanamkan modal dalam pembangunan kereta api di India."
- ↑ Brown 1994, hlm. -89 "Lebih jauh ke barat, di Distrik Muzaffarnagar, yang berbatasan dengan Meerut, tempat pemberontakan sepoy bermula, keadaan relatif tenang, terutama di daerah dataran tinggi yang makmur dan diairi Kanal Gangga."
- ↑ Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 132–133 "Meskipun dampaknya terbatas pada daerah tertentu, Dalhousie dengan giat mendorong perluasan sistem kanal irigasi. Selama masa jabatannya, sekitar 500 mil Kanal Gangga diselesaikan, menjadi sumber air irigasi bagi wilayah pedalaman yang luas, dengan segala perubahan besar, baik positif maupun negatif, yang ditimbulkan sumber daya semacam itu. Dalam jangka panjang, akibat negatif yang paling jelas ialah penggaraman wilayah yang luas karena kelebihan air menarik garam ke permukaan lahan beririgasi."
- ↑
- Peers 2006, hlm. 64 "Ungkapan paling dramatis ketidakpuasan India terhadap pemerintahan kolonial terjadi pada 1857–1858, ketika sebagian besar India utara diguncang serangkaian pemberontakan tentara dan rakyat yang akhirnya mengguncang sebagian besar Dataran Gangga tengah dan meluas hingga India Tengah."
- ↑ Metcalf & Metcalf 2006, hlm. 100–103.
- ↑ Brown 1994, hlm. 85–86.
- ↑ Peers 2006, hlm. 67 "Para misionaris Kristen menjadi lebih aktif di India utara, sehingga memperbesar kekhawatiran bahwa praktik-praktik keagamaan India terancam. Tindakan Britania seperti pemberlakuan Undang-Undang Perkawinan Kembali Janda ... memperkuat kecurigaan ini."
- ↑ Peers 2006, hlm. 67 "Dampak pengaturan pajak tanah juga perlu diperhitungkan, sebab bukan hanya tuntutan pajak secara keseluruhan meningkat dan sangat membebani banyak orang, tetapi meningkatnya komersialisasi ekonomi India juga menguntungkan sebagian pihak dengan merugikan pihak lain. Para zamindar dan taluqdar yang dirugikan oleh pemerintahan Britania sering bergabung dengan pemberontak sebagai cara memulihkan kekayaan dan kedudukan mereka ..."
- ↑ >Peers 2006, hlm. 67 "Kalangan elite India juga semakin kecewa terhadap pemerintahan Britania. Apa yang dipandang banyak orang sebagai kesombongan dan tidak dihormatinya hak-hak adat mereka seolah ditegaskan secara mencolok ketika Lord Dalhousie memperkenalkan doktrin pengambilalihan karena ketiadaan ahli waris. Dalam ketergesaannya memodernisasi India, Dalhousie menjalankan rencana ambisius untuk mencaplok wilayah para pangeran India karena ia percaya bahwa princely state merupakan salah satu hambatan utama bagi kemajuan India."
- ↑ Brown 1994, hlm. 89, 91 "(hlm. 89) Ambil, misalnya, gagasan bahwa Provinsi-Provinsi Barat Laut dan Oudh dilanda keresahan karena kekhawatiran akan ancaman terhadap agama dari reformasi tertentu dan penyebaran pendidikan baru. ... Bukti dari berbagai daerah tidak menunjukkan bahwa ketakutan akan serangan terhadap agama merupakan penyebab utama ketidakpuasan. Distrik Etawah, tempat pajak sekolah baru-baru ini dikenakan dan hampir 200 sekolah dibuka dalam dua tahun, tetap, menurut hakim dan pemungut pajak distrik, 'menonjol dalam kesetiaannya'. ... (hlm. 91) Namun, tampaknya tidak ada hubungan yang sederhana atau otomatis antara penetapan pajak yang tinggi, kemiskinan dan kehilangan tanah yang baru dialami, jeratan utang, dan terjadinya pemberontakan."
- ↑
- Brown 1994, hlm. 94 "(mereka) tidak menghasilkan ideologi atau program yang padu untuk membangun tatanan baru."
- Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 100 "Tidak pernah ada strategi yang padu untuk mengusir Britania dari India. ... retorika keagamaan sering digunakan untuk membenarkan perlawanan terhadap apa yang dipandang sebagai tatanan moral yang rusak, tetapi tidak ada ideologi pemersatu dalam bentuk apa pun."
- ↑
- Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 102–103 :Banyak pihak tetap setia sepanjang masa itu, dan dengan demikian memastikan kekalahan pemberontakan pada akhirnya. Salah satu yang terpenting ialah para prajurit dari Punjab yang baru ditaklukkan, yang tidak bersimpati kepada sepoy Benggala yang telah mengalahkan mereka. Selain itu, Angkatan Darat Bombay maupun Angkatan Darat Madras tidak memberontak, sehingga memastikan India selatan tetap tenang. Di antara pihak yang paling tampak 'setia' ialah mereka yang, seperti kaum intelektual Benggala, telah memperoleh pendidikan Barat, bersama para zamindar Benggala yang terikat kepada Kemaharajaan oleh Pengaturan Permanen yang menjamin kemakmuran mereka."
- Marriott 2013, hlm. 195 "... dukungan kaum Sikh, yang dibina dengan cermat oleh Britania sejak berakhirnya Perang Inggris–Sikh, serta keengganan kaum intelektual Benggala untuk berpihak pada apa yang mereka anggap sebagai pemberontakan zamindar yang terbelakang, terbukti menentukan jalannya perjuangan itu."
- ↑ Stein 2010, hlm. 227 "Pada 1858, setelah pemberontakan dan tampaknya sebagai akibat langsungnya, Perusahaan Hindia Timur dibubarkan dan wewenang pemerintahannya diserahkan langsung kepada Kerajaan Britania. Dalam banyak hal, ini tidak lebih dari penataan yang terlambat atas keadaan yang telah lama berkembang. Setelah kehilangan kekuasaan monopoli ekonominya pada 1813 dan seluruh kegiatan perdagangannya pada 1833, kedudukan politik Perusahaan dibatasi oleh pengawasan Westminster yang dijalankan melalui Dewan Pengawas. Pada 1850, hanya sedikit yang tersisa dari Perusahaan Terhormat yang dahulu perkasa itu selain para pemegang sahamnya."
- ↑ Stein 2010, hlm. 227 "... ketika mengalihkan wewenang dari perusahaan dagang berpiagam, pihak Britania juga menegaskan bahwa wilayah-wilayah India mereka merupakan dan harus diperintah sebagai sebuah negara kesatuan. Mereka telah membentuk kekuasaan yang pada masa depan dapat diambil alih secara utuh oleh lembaga lain. Karena itu, meskipun pada awalnya perubahan tersebut tampaknya tidak membawa perubahan dramatis dalam kenyataan di India, hal itu menandai peralihan dari negara modern ke negara kontemporer di sana."
- ↑ Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 103–108.
- ↑ Robb 2011, hlm. 199–200 "Banyak profesional baru, serta pedagang perkotaan yang terlibat dalam perdagangan ekspor dan produksi pabrik, mulai berperan dalam kehidupan publik dengan bekerja erat bersama atau sejajar dengan orang Eropa. Mereka terbiasa mewakili kepentingan tertentu dalam berbagai dewan pendidikan dan badan amal, serta lembaga semipublik … Dengan meningkatnya pendapatan dan ambisi, mereka membentuk kelompok penekan sendiri untuk melayani komunitas dan melobi pemerintah, dengan meniru anggaran dasar, iuran, pengurus, rapat, dan notula perkumpulan Eropa. Pada awal dasawarsa 1880-an, mereka menyaksikan pertentangan sengit di kalangan orang Eropa di luar pemerintahan mengenai Rancangan Undang-Undang Ilbert dan Undang-Undang Penyewaan Tanah Benggala, dan kembali melihat bagaimana kebijakan pemerintah dapat diubah melalui kampanye yang terorganisasi; mereka percaya kaum Liberal Britania dapat dipengaruhi oleh tekanan serupa dari orang India."
- ↑ Robb 2011, hlm. 200–201 "… Semua itu disusul oleh 'awal yang sesungguhnya', yaitu pendirian Kongres Nasional India pada 1885. Kongres merupakan organisasi kaum intelektual dan profesional baru, dengan sejumlah dukungan dari pangeran dan pedagang. Organisasi itu tidak mungkin ada tanpa bahasa Inggris, telegraf, dan kereta api; sejumlah pemimpin intinya telah berkenalan ketika belajar di London. Kongres menyatakan kesetiaan kepada kekaisaran serta kekaguman terhadap teknologi Barat dan kebebasan Britania. Organisasi ini memperjuangkan kepentingan golongan yang menginginkan pekerjaan di pemerintahan dan suara dalam pembuatan undang-undang. Kongres juga mengajukan cita-cita keterwakilan, tanggung jawab elite kepada masyarakat, dan kepentingan nasional, terutama dalam kebijakan fiskal dan ekonomi—misalnya dengan menekankan tanggung jawab pemerintah atas bencana kelaparan serta menentang tingginya biaya angkatan darat dan biaya yang dibayarkan kepada pemerintah pusat di Britania."
- ↑ Stein 2010, hlm. 249 "Jalan, kanal, dan kereta api semuanya mempercepat komersialisasi di India Britania, dan lonjakan ekspor pada dasawarsa 1860-an membawa kemakmuran, terutama di wilayah yang dapat ditanami kapas. Pada awal dasawarsa 1860-an, luas lahan kapas berkembang pesat sebagai tanggapan terhadap kenaikan harga kapas lima kali lipat ketika pasokan yang berkurang akibat Perang Saudara Amerika digantikan. Ketika perang itu berakhir, harga kapas turun, demikian pula harga gandum ekspor dari India utara, akibat persaingan dari Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Argentina, tempat mekanisasi produksi gandum telah dimulai. Pada dasawarsa 1890-an, kereta api mengangkut sebagian besar serealia pangan yang tahan simpan dan murah ke pasar jauh, dan para produsen terjerat tekanan kredit yang sebelumnya tidak dikenal. Dengan berakhirnya keterisolasian pasar setempat, petani kecil harus membiayai utang mereka melalui perdagangan ekspor yang berisiko atau kehilangan tanah."
- ↑ Stein 2010, hlm. 251 "... Selama tiga puluh tahun terakhir abad itu, jumlah korban yang mengerikan meningkat: 1873–1874 di Benggala dan India timur, yang menimpa seperempat juta orang; 1876–1878, yang melibatkan 36 juta orang di sebagian Dataran Gangga lagi, serta Madras, Bombay, Mysore, dan Hyderabad, dengan 3,5 juta kematian. Abad itu berakhir dengan dua gelombang besar kelaparan dan penyakit lainnya di hampir seluruh anak benua, dengan jumlah kematian yang lebih mengerikan: 1896–1897, yang menimpa 96 juta orang dan menyebabkan lebih dari 5 juta kematian berlebih, lalu kembali pada 1899–1900, dengan 60 juta orang terdampak dan 5 juta orang lainnya meninggal sebelum waktunya."
- ↑ Stein 2010, hlm. 247–248 "Mereka yang memerintah India pada akhir abad ke-19 yakin bahwa pasar akan menetapkan harga, menentukan pasokan, dan membagikan manfaat. Mereka juga yakin bahwa hanya sedikit yang perlu dilakukan negara; bahkan penyediaan pendidikan diserahkan kepada orang India sendiri dan badan-badan misionaris. Seperti di Britania, kereta api dan kanal angkutan pada awalnya dibangun oleh perusahaan swasta, tetapi jika risiko usaha semacam itu di Britania ditanggung investor Britania, di India risiko tersebut ditanggung para petani India, pembayar pajak utama, yang tidak menikmati keuntungannya."
- ↑ Metcalf & Metcalf 2006, hlm. 126 "Salah satu kisah keberhasilan ialah pengembangan besar-besaran 'koloni kanal' di Punjab, tempat pasokan air yang terjamin pada lahan yang baru dibudidayakan memungkinkan peningkatan besar produksi gandum, tebu, dan jagung. Penanaman tanaman komersial mencakup bagian produksi yang semakin besar, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun pasar ekspor."
- 1 2 Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 132 "Namun, biaya pengangkutan barang turun drastis; peranan kereta api dalam menyediakan bantuan kelaparan sangat menentukan"
- ↑ Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 160–161 "Namun, jalur kereta api juga memungkinkan munculnya industri milik orang India."
- ↑ Dreze, Jean, "Famine Prevention in India", dalam Dreze, Jean; Sen, Amartya (ed.), The Political Economy of Hunger, Volume 2: Famine Prevention, Clarendon Press; Oxford University Press, hlm. 13–122, ISBN 978-0-19-828636-3
- ↑ Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 163 "India melakukan pengorbanan luar biasa untuk mendukung perang. Jauh lebih dari satu juta orang India direkrut menjadi tentara, bertugas di Prancis dan terutama di Timur Tengah, dengan korban jiwa besar di semua front. Sumbangan dari pendapatan India juga besar, dengan tuntutan yang meningkat sekitar 10 hingga 15 persen setiap tahun dari 1916 hingga 1918. Pasar luar negeri terganggu. Pada 1918, hujan muson tidak turun sebagaimana mestinya, sehingga terjadi kelangkaan pangan. Harga serealia pangan hampir berlipat dua; harga barang impor hampir berlipat tiga. Tahun-tahun perang menguntungkan beberapa industri pribumi utama India, terutama tekstil kapas serta besi dan baja. Namun, bagi penduduk secara keseluruhan, masa ini merupakan periode penderitaan berat, yang diperparah oleh penyebaran pandemi influenza dunia pada 1918."
- ↑ Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 174–175 "Gandhi menawarkan kepada elite politik India … strategi tindakan politik yang meyakinkan. Meskipun beberapa tokoh moderat masih berpegang pada protes konstitusional, kegagalan strategi itu setelah pembantaian Amritsar sudah sangat jelas. Demikian pula, politik populis 'jalanan' telah kehilangan kegunaannya. … Selain itu, sebagai moralis yang mengupayakan keharmonisan antargolongan, Gandhi memberikan jaminan penting bagi elite terdidik. Para pemimpin Kongres bukanlah Marxis, dan mereka tidak berani mempertaruhkan dominasi mereka sendiri dengan membangkitkan permusuhan antarkelas. Bersama Gandhi, mereka memiliki pemimpin yang sekaligus mampu menarik dukungan secara efektif dari luar kelompok kecil kaum terdidik dan membendung potensi ancaman terhadap kedudukan dominan mereka sendiri dalam masyarakat."
- ↑
- Misra, Maria (2008), Vishnu's Crowded Temple: India Since the Great Rebellion, Yale University Press, hlm. 174, ISBN 978-0-300-14523-6,
Pada 1928, Tentara Republik Sosialis Hindustan (HSRA), yang tumbuh dari tradisi revolusioner Punjab yang lebih lama, didirikan di Lahore. Dipimpin oleh seorang mahasiswa karismatik berusia 22 tahun, Bhagat Singh, organisasi ini meninggalkan warisan terorisme pra-perangnya dengan menganut ateisme militan Marxis sebagai ideologi. HSRA mendukung tindakan kekerasan revolusioner yang 'memberi teladan'.
- Raza, Ali (2020), Revolutionary Pasts: Communist Internationalism in Colonial India, Cambridge University Press, hlm. 107, ISBN 978-1-108-48184-7,
Penggantungan Bhagat Singh semakin mengobarkan politik radikal dan nasionalistis militan yang telah bergolak sejak pertengahan dasawarsa 1920-an. Peristiwa itu juga menambah desakan pada gerakan pembangkangan sipil yang sedang berlangsung.
- Misra, Maria (2008), Vishnu's Crowded Temple: India Since the Great Rebellion, Yale University Press, hlm. 174, ISBN 978-0-300-14523-6,
- ↑ Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 194–195 "... Keputusan Komunal 1932 berupaya memberikan perlakuan khusus, termasuk kelompok pemilih terpisah, kepada berbagai kelompok yang disebut 'minoritas'. Kelompok-kelompok ini terutama mencakup kaum yang dianggap tidak boleh disentuh, yang telah mulai mengorganisasi diri di bawah B. R. Ambedkar … dengan menentang Gandhi … tercapai kompromi yang mengganti kelompok pemilih terpisah khusus kaum tersebut dengan kursi yang dicadangkan bagi mereka di berbagai badan legislatif India. … Keputusan Komunal disusul oleh Undang-Undang Pemerintah India 1935. … Undang-undang itu mengatur pusat pemerintahan federal dan, dengan menghapus diarki, sangat memperluas otonomi provinsi, dengan para menteri yang bertanggung jawab kepada badan legislatif setempat kini menguasai seluruh cabang pemerintahan.”
- ↑ Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 196 "Melalui pemilihan berdasarkan Undang-Undang 1935, Kongres mulai mengubah diri dari gerakan massa menjadi partai politik. Dalam kemenangan gemilang, dengan meraih 758 dari sekitar 1.500 kursi di berbagai badan legislatif provinsi, Kongres pada 1937 membentuk pemerintahan di tujuh provinsi, termasuk Madras, Bombay, Provinsi-Provinsi Tengah, Bihar, dan UP."
- ↑ Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 203–204 "Pernyataan perang sepihak, suatu tindakan provokatif yang begitu sering mencirikan kebijakan Britania di India, merupakan kesalahan taktis. Dapat dikatakan bahwa pengunduran diri pemerintahan-pemerintahan Kongres juga demikian, karena memicu rangkaian panjang perundingan dan tindakan pembangkangan sipil yang berpuncak pada 'pemberontakan' Agustus 1942. Pada akhir dasawarsa 1930-an, Britania dan India perlahan bergerak menuju perpisahan yang bersahabat. Kepentingan Britania di India telah menyusut seiring menguatnya nasionalisme ekonomi di seluruh dunia, sementara di bidang politik, setelah 1937, politikus Kongres telah menunjukkan kemampuan memerintah yang memberi harapan baik bagi India merdeka. Datangnya perang, disertai pengunduran diri pemerintahan-pemerintahan Kongres, mengubah segalanya."
- ↑ Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 207 "Munculnya kembali ketidakpuasan Kongres, mulai dari pengunduran diri pemerintahan-pemerintahannya, melalui perundingan yang kemudian gagal, hingga pergolakan terakhir 'Quit India', memaksa Britania mencari dukungan perang dari pihak lain, bahkan, menurut sebagian orang, membuka kesempatan untuk merebut kembali prakarsa politik dan mengatur pengalihan kekuasaan kepada kelompok yang lebih bersedia bekerja sama daripada Kongres. Penerima manfaat yang paling menonjol ialah Liga Muslim. Pada 1940, ketika Liga menetapkan Pakistan sebagai tujuan perkembangan politik komunitasnya, gagasan itu baru ada selama satu dasawarsa."
- ↑ Copland 2001, hlm. 71 "Salah satu ukuran keberhasilan Jinnah menghidupkan kembali Liga Muslim ialah pencapaian partai itu dalam pemilihan sela untuk majelis-majelis provinsi. Antara 1937 dan 1945, partai itu memenangi lima puluh lima dari lima puluh tujuh pemilihan sela di daerah pemilihan yang dikhususkan bagi Muslim. ... Namun, titik balik sesungguhnya bagi Liga Muslim yang baru terjadi dalam pemilihan umum Desember 1945 dan Januari 1946. Meskipun menghadapi Kongres yang kembali bersemangat, Liga meraih empat perlima dari seluruh kursi khusus Muslim yang diperebutkan, cukup untuk membawanya memerintah di Sind dan Benggala serta nyaris meraih kekuasaan politik di Punjab. Hasil itu menghapus keraguan siapa pun, terutama Britania, mengenai letak pusat kekuasaan dalam komunitas Muslim saat itu. (hlm. 72) Dalam banyak hal, keberhasilan Liga dalam pemilihan 1945–1946 dapat ditafsirkan sebagai mandat Muslim yang jelas bagi Pakistan."
- ↑
- Fisher 2018, hlm. 173–174: "Pemisahan Asia Selatan yang menghasilkan India serta Pakistan Barat dan Timur merupakan akibat dari bertahun-tahun perundingan sengit dan saling tuduh ... Pihak Britania yang akan pergi juga menetapkan bahwa ratusan pangeran, yang memerintah sepertiga anak benua dan seperempat penduduknya, menjadi merdeka secara hukum, dengan status yang akan ditentukan kemudian. Letak geografis, perasaan pribadi dan rakyat, serta tekanan dan insentif besar dari pemerintahan-pemerintahan baru akhirnya mendorong hampir semua pangeran menggabungkan wilayah mereka ke Pakistan atau India. ... Setiap pemerintahan baru menegaskan kedaulatan eksklusif di dalam perbatasannya, menetapkan kembali seluruh wilayah, hewan, tumbuhan, mineral, serta semua sumber daya alam dan buatan manusia lainnya sebagai milik Pakistan atau India untuk digunakan dalam pembangunan nasionalnya ... Pada saat yang sama, dinas sipil dan militer pusat serta lembaga peradilan terpecah kurang lebih menurut garis 'komunal' keagamaan, sembari membagi aset bergerak pemerintah menurut rumus yang disepakati: 22,7 persen untuk Pakistan dan 77,3 persen untuk India."
- Chatterji, Joya; Washbrook, David (2013), "Introduction: Concepts and Questions", dalam Chatterji, Joya; Washbrook, David (ed.), Routledge Handbook of the South Asian Diaspora, London dan New York: Routledge, ISBN 978-0-415-48010-9,
Joya Chatterji menjelaskan bagaimana pemisahan Kekaisaran India Britania menjadi negara-bangsa baru India dan Pakistan menghasilkan diaspora baru dalam skala besar yang belum pernah terjadi sebelumnya, tetapi mengisyaratkan bahwa besarnya perpindahan pengungsi di Asia Selatan setelah 1947 harus dipahami dalam konteks arus migrasi yang telah ada di wilayah-wilayah yang dipisahkan itu (lihat pula Chatterji 2013). Ia juga menunjukkan bahwa negara-bangsa baru India dan Pakistan segera terseret ke dalam upaya membendung migrasi tersebut. Ketika keduanya memberlakukan undang-undang yang dirancang untuk membatasi kepulangan emigran akibat pemisahan, timbul dilema baru bagi kedua negara dalam memperlakukan 'orang India di luar negeri'; banyak di antara mereka kehilangan hak untuk kembali ke tempat asalnya di anak benua tersebut, sekaligus kehilangan klaim atas kewarganegaraan penuh di negara tempat mereka tinggal.
- Talbot, Ian; Singh, Gurharpal (2009), The Partition of India, Cambridge University Press, ISBN 978-0-521-85661-4, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Desember 2016, diakses tanggal 15 November 2015,
Ketika Britania membagi dan meninggalkan India pada Agustus 1947, mereka bukan hanya memisahkan anak benua itu dengan munculnya dua negara, India dan Pakistan, tetapi juga membagi provinsi Punjab dan Benggala. ... Bahkan, bagi banyak orang, pemisahan anak benua India pada Agustus 1947 dipandang sebagai peristiwa unik yang sulit dijangkau oleh analisis perbandingan sejarah dan konseptual
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Khan, Yasmin (2017) [2007], The Great Partition: The Making of India and Pakistan (Edisi 2), New Haven dan London: Yale University Press, hlm. 1, ISBN 978-0-300-23032-1,
Penduduk Asia Selatan mengetahui pada 3 Juni 1947 bahwa Kekaisaran India Britania akan dipisahkan. Mereka mendengarnya melalui radio, kerabat dan teman, surat kabar, lalu pamflet pemerintah. Di tengah penduduk yang berjumlah hampir empat ratus juta, yang sebagian besarnya tinggal di pedesaan dan mengolah tanah sebagai petani tanpa lahan atau petani penggarap bagi hasil, tidaklah mengherankan bahwa ribuan, mungkin ratusan ribu orang, baru mendengar kabar itu berminggu-minggu kemudian. Bagi sebagian orang, pembantaian dan pemindahan paksa pada bulan-bulan musim panas 1947 mungkin menjadi saat pertama mereka mengetahui pembentukan dua negara baru dari Kekaisaran Britania di India yang terpecah dan melemah hingga tak dapat dipulihkan
- ↑ Fisher 2018, hlm. 198 "Ia menasionalisasi empat belas bank besar, berusaha menghapus tunjangan pribadi para pangeran (untuk sementara dihalangi oleh Mahkamah Agung), dan mendesak provinsi-provinsi membagikan kembali tanah dari pemilik besar kepada penggarap. Dalam pemilihan parlemen 1971, ia meraih kemenangan telak berdasarkan janjinya tentang Garibi hatao ('hapuskan kemiskinan'). Ia kemudian memperkuat kedudukannya melalui kemenangan militer India yang dramatis dalam perang Desember 1971, yang membentuk Bangladesh dari Pakistan Timur."
- 1 2 Tomlinson 2013, hlm. 235–236 "Pertumbuhan sektor jasa merupakan ciri paling khas ekonomi India selama tiga puluh tahun terakhir. Pangsa sektor ini dalam PDB meningkat dari kurang dari 40 persen pada 1980 menjadi hampir 60 persen pada 2010, dan bidang-bidang teknologi tinggi mengalami pertumbuhan pesat."
- 1 2
- Bunce et al. 2025 "Dalam ... kemerosotan demokrasi di India, ... pola ketundukan, pengabaian, dan campur tangan kelembagaan telah melemahkan kemampuan Mahkamah Agung, Komisi Pemilihan Umum, dan lembaga federal lainnya untuk menegakkan pengawasan dan keseimbangan terhadap cabang eksekutif serta partai berkuasa yang cenderung pada nasionalisme Hindu yang mengecualikan kelompok lain."
- Beissinger 2025, hlm. 209 "India, misalnya, mengalami gelombang protes besar-besaran sebagai tanggapan terhadap langkah-langkah Modi yang anti-Muslim dan antidemokratis, meskipun hal itu hanya sedikit mengurangi popularitasnya atau membendung langkah BJP (Bharatiya Janata Party) menuju otoritarianisme (Basu 2021). Sebaliknya, BJP justru memperkuat cengkeramannya atas berbagai lembaga, menguasai universitas, menyerang lembaga peradilan, dan merevisi undang-undang kewarganegaraan. Jelas bahwa popularitas (yang dalam kasus Modi berkisar sekitar 70 persen pada 2023) melindungi pemimpin yang memundurkan demokrasi dari pencopotan atau kemunduran."
- 1 2 3 Ali & Aitchison 2005.
- ↑ Molnar 2015, hlm. 117.
- ↑ Molnar 2015, hlm. 118.
- ↑ Molnar 2015, hlm. 128.
- ↑ Dikshit & Schwartzberg 2023, hlm. 7.
- ↑ Prakash et al. 2000.
- ↑ Kaul 1970, hlm. 160, " Pegunungan Aravalli menandai dengan tegas batas timur zona kering dan semikering. Kondisi yang lebih lembap di sekitar Aravalli mungkin mencegah perluasan kekeringan ke arah timur dan Lembah Gangga. Patut diperhatikan bahwa di setiap celah pegunungan ini, pasir telah bergerak ke sebelah timurnya."
- ↑ Prasad 1974, hlm. 372, " Topografi Gurun India didominasi oleh Pegunungan Aravalli di batas timurnya, yang sebagian besar terdiri atas batuan Arkean yang terlipat rapat dan mengalami metamorfosis kuat."
- ↑ Fisher 2018, hlm. 83, " Di sebelah timur hilir Indus terbentang Rann Kutch dan Gurun Thar yang tidak ramah bagi kehidupan. Di sebelah timur hulu Indus terdapat koridor yang lebih menjanjikan tetapi sempit, di antara kaki Himalaya di utara serta Gurun Thar dan Pegunungan Aravalli di selatan. Pada titik sempit yang strategis, tepat sebelum mencapai Dataran Gangga yang subur dan berair cukup, terletak Delhi. Di lokasi ini, tempat aliran-aliran air pemberi kehidupan dari tonjolan paling utara punggungan berbatu Aravalli bermuara ke Sungai Jumna, dan tempat jalur perdagangan kuda perang serta gajah perang berpotongan, serangkaian dinasti membangun ibu kota berbenteng."
- ↑ Dikshit & Schwartzberg 2023, hlm. 8.
- ↑ Dikshit & Schwartzberg 2023, hlm. 9–10.
- ↑ Ministry of Information and Broadcasting 2007, hlm. 1.
- ↑ Dikshit & Schwartzberg 2023, hlm. 15.
- ↑ Duff 1993, hlm. 353.
- ↑ Basu & Xavier 2017, hlm. 78.
- ↑ Dikshit & Schwartzberg 2023, hlm. 16.
- ↑ Dikshit & Schwartzberg 2023, hlm. 17.
- 1 2 Kumar et al. 2006.
- ↑ Dikshit & Schwartzberg 2023, hlm. 12.
- ↑ Dikshit & Schwartzberg 2023, hlm. 13.
- ↑ Mcgrail et al. 2003, hlm. 257.
- ↑ Barry & Hall-McKim 2018, hlm. 149 "Untuk seluruh India, muson menyumbang 78 persen dari total curah hujan rata-rata."
- ↑ Barry & Hall-McKim 2018, hlm. 149 "Pada musim dingin, angin baratan lapisan atas terbelah oleh Dataran Tinggi Tibet, dan arus jet subtropis mengalir ke timur di selatan Himalaya, sedangkan arus jet front kutub berada jauh di utara, di atas Siberia."
- ↑ Barry & Hall-McKim 2018, hlm. 150 "Udara turun di bawah bagian keluaran arus jet subtropis akibat konvergensi di lapisan atas ketika udara melambat, dan udara yang turun ini menimbulkan angin timur laut di lapisan bawah yang mengalir keluar dari India di atas Samudra Hindia."
- ↑ Barry & Hall-McKim 2018, hlm. 150 "Selama September–Oktober, angin timuran lapisan atas melemah dan menghilang seiring melemahnya antisiklon lapisan atas di atas Tibet, sehingga memungkinkan kembalinya arus jet subtropis di atas India utara. Pada musim dingin, sistem tekanan rendah yang diarahkan oleh arus jet baratan subtropis dari Laut Tengah dan Timur Tengah memasuki Pakistan, Kashmir, dan India barat laut, membawa hujan dan salju ke Pegunungan Karakoram"
- ↑ Barry & Hall-McKim 2018, hlm. 150 "Pada Mei, arus jet subtropis mulai bergeser ke utara, dan pada Juni, pemanasan Dataran Tinggi Tibet (yang rata-rata berada pada ketinggian 4.500 m, atau sekitar 600 mb) membentuk tekanan rendah termal yang dangkal dan antisiklon di lapisan atas."
- ↑ Barry & Hall-McKim 2018, hlm. 150 "Antisiklon itu menimbulkan angin timuran lapisan atas di atas India dan membentuk Arus Jet Timuran Tropis pada sekitar 150 mb (13,5 km), di sekitar 15° LU. Di lapisan bawah, aliran barat daya yang hangat dan lembap di atas Samudra Hindia bergerak ke timur laut menuju India."
- ↑ Barry & Hall-McKim 2018, hlm. 150 "Angin barat daya membawa hujan ke Ghat Barat di sepanjang pesisir barat India."
- ↑ Barry & Hall-McKim 2018, hlm. 150 "... muson mulai berlangsung di Burma dan Assam karena sistem pembawa hujannya ialah depresi muson yang bergerak ke barat dan barat laut, diarahkan oleh angin timuran lapisan atas."
- ↑ Barry & Hall-McKim 2018, hlm. 150 "... depresi muson dan sesekali siklon tropis dari Teluk Benggala menyebarkan hujan ke utara dan barat, sehingga pada Juli mencapai Pakistan selatan dan Himalaya barat. ... Bangalore di India tengah-selatan menerima sekitar 100 mm hujan per bulan selama Mei–Agustus, tetapi kemudian 300 mm pada September ketika muson mundur, sebab depresi Teluk Benggala saat itu melintasi India pada lintang yang lebih rendah."
- ↑ Barry & Hall-McKim 2018, hlm. 150 "Muson memiliki selang aktif dan jeda yang tidak teratur di India. Fase konveksi aktif terjadi ketika palung muson berada di sebelah utara, sedangkan jeda terjadi ketika palung itu bergerak ke selatan. Periode aktif biasanya terjadi dengan selang 15–20 hari dan berlangsung sekitar 10–15 hari. Frekuensi periode aktif selama musim panas menentukan banyaknya presipitasi yang turun selama muson."
- ↑ Megadiverse Countries, Biodiversity A–Z, Pusat Pemantauan Konservasi Dunia UNEP, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 September 2014, diakses tanggal 17 Oktober 2021
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Animal Discoveries 2011: New Species and New Records" (PDF). Survei Zoologi India. 2012. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 16 Januari 2013. Diakses tanggal 20 Juli 2012.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Puri, S. K., "Biodiversity Profile of India", ces.iisc.ernet.in, diarsipkan dari asli tanggal 21 November 2011, diakses tanggal 20 Juni 2007
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Basak 1983, hlm. 24.
- ↑ India, Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN), 2019, diarsipkan dari asli tanggal 1 November 2020, diakses tanggal 21 Mei 2019
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Venkataraman, Krishnamoorthy; Sivaperuman, Chandrakasan (2018), "Biodiversity Hotspots in India", dalam Sivaperuman, Chandrakasan; Venkataraman, Krishnamoorthy (ed.), Indian Hotspots: Vertebrate Faunal Diversity, Conservation and Management, Springer, hlm. 5, ISBN 978-981-10-6605-4
- 1 2 Jha, Raghbendra (2018), Facets of India's Economy and Her Society Volume II: Current State and Future Prospects, Springer, hlm. 198, ISBN 978-1-349-95342-4
- 1 2 "Forest Cover in States/UTs in India in 2019". Institut Penelitian Kehutanan melalui Pusat Informatika Nasional. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 Oktober 2021. Diakses tanggal 16 Oktober 2021.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Tritsch 2001, hlm. 11–12.
- ↑ Tritsch 2001, hlm. 12. Kutipan: “India memiliki dua zona alami hutan berduri, satu di wilayah bayangan hujan Dataran Tinggi Dekkan di sebelah timur Ghat Barat, dan satu lagi di bagian barat Dataran Indo-Gangga. Pertumbuhan di wilayah-wilayah ini hanya dibatasi oleh ketersediaan air, sehingga dengan irigasi, tanah aluvial yang subur di Punjab dan Haryana telah diubah menjadi kawasan pertanian utama India. Sebagian besar hutan berduri yang menutupi dataran itu kemungkinan memiliki ciri menyerupai sabana yang kini tidak lagi terlihat.”
- ↑ Goyal, Anupam (2006), The WTO and International Environmental Law: Towards Conciliation, Oxford University Press, hlm. 295, ISBN 978-0-19-567710-2 Kutipan: "Pemerintah India berhasil mengemukakan argumen bahwa pohon mimba yang berkhasiat obat merupakan bagian dari pengetahuan tradisional India. (halaman 295)"
- ↑ Hughes, Julie E. (2013), Animal Kingdoms, Harvard University Press, hlm. 106, ISBN 978-0-674-07480-4,
Pada saat yang sama, pohon-pohon pipal yang rimbun dan kelimpahan relatif yang menjadi ciri bentang alam Mewar memungkinkan berkembangnya kehalusan budaya yang tidak dapat dicapai di negeri-negeri lain.
- ↑ Ameri, Marta (2018), "Letting the Pictures Speak: An Image-Based Approach to the Mythological and Narrative Imagery of the Harappan World", dalam Ameri, Marta; Costello, Sarah Kielt; Jamison, Gregg; Scott, Sarah Jarmer (ed.), Seals and Sealing in the Ancient World: Case Studies from the Near East, Egypt, the Aegean, and South Asia, Cambridge University Press, hlm. 156–157, ISBN 978-1-108-17351-3 Kutipan: "Sentaur yang terakhir memiliki tanduk markhor yang panjang, bergelombang, dan mendatar, wajah manusia, tubuh kekar yang tampak seperti sapi, serta ekor kambing ... Sosok ini sering digambarkan sendirian, tetapi juga secara konsisten muncul dalam adegan yang tampaknya mencerminkan pemujaan terhadap sosok di pohon pipal atau para-para, dan yang dapat disebut ritual. Adegan-adegan ini mencakup penggambaran lengkap seperti yang terlihat pada segel besar 'pemujaan ilahi' dari Mohenjo-daro."
- ↑ Paul Gwynne (2011), World Religions in Practice: A Comparative Introduction, John Wiley & Sons, hlm. 358, ISBN 978-1-4443-6005-9,
Pohon tempat Sakyamuni menjadi Buddha ialah pohon pipal (Ficus religiosa).
- ↑ Crame & Owen 2002, hlm. 142.
- ↑ Karanth 2006.
- ↑ Tritsch 2001, hlm. 14.
- ↑ Fischer, Johann. "Semnopithecus johnii". ITIS. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Agustus 2018. Diakses tanggal 27 Agustus 2018.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Singh, M.; Kumar, A.; Molur, S. (2008). "Semnopithecus johnii". IUCN Red List of Threatened Species (dalam bahasa Inggris). 2008 e.T44694A10927987. doi:10.2305/IUCN.UK.2008.RLTS.T44694A10927987.en. Diakses tanggal 26 April 2025.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Biju, S.D.; Dutta, S.; Ravichandran, M.S.; Vasudevan, K.; Vijayakumar, S.P.; Srinivasulu, C.; Dasaramji Buddhe, G. (2016) [errata version of 2004 assessment]. "Duttaphrynus beddomii". IUCN Red List of Threatened Species (dalam bahasa Inggris). 2004 e.T54584A86543952. doi:10.2305/IUCN.UK.2004.RLTS.T54584A11155448.en. Diakses tanggal 26 April 2025.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Frost, Darrel R. (2015). "Duttaphrynus beddomii (Günther, 1876)". Amphibian Species of the World: an Online Reference. Version 6.0. Museum Sejarah Alam Amerika. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 Juli 2015. Diakses tanggal 13 September 2015.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ International Union for Conservation of Nature (IUCN) (2026). "The IUCN Red List of Threatened Species: Summary Statistics (Table 5: Threatened species in each country)". 2026-1. Diakses tanggal 6 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Lovette, Irby J.; Fitzpatrick, John W. (2016), Handbook of Bird Biology, John Wiley & Sons, hlm. 599, ISBN 978-1-118-29105-4
- ↑ Tritsch 2001, hlm. 15. Kutipan: “Sebelum dihuni begitu padat dan dimanfaatkan secara intensif, Punjab didominasi hutan berduri yang diselingi padang rumput bergelombang, tempat jutaan antelop india merumput bersama predator utamanya, citah. Para pangeran Mughal yang gemar berburu memelihara citah jinak untuk mengejar dan menjatuhkan antelop india. Kini citah telah punah di India, dan antelop india yang sangat terancam tidak lagi terdapat di Punjab.”
- ↑ Ministry of Environment and Forests 1972.
- ↑ Department of Environment and Forests 1988.
- ↑ "Biosphere" (PDF). Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 26 Maret 2023. Diakses tanggal 28 Juni 2023.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Annotated List of Wetlands of International Importance | India" (PDF). rsis.ramsar.org. Ramsar Sites Information Service. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 3 Juli 2025. Diakses tanggal 16 April 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Reviving the Roar: India's Tiger Population Is On the Rise, 13 April 2023, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 April 2023, diakses tanggal 15 April 2023
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 Spear 1990, hlm. 242.
- 1 2 Saxena 2024.
- 1 2 3 Spear 1990, hlm. 243.
- ↑ Sen 2024.
- ↑ Bora 2024.
- ↑ Mathew 2024.
- 1 2 3 4 5 Jayal 2024.
- 1 2 Madhavan 2024.
- 1 2 3 Shastri 2024.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Mehra 2024.
- 1 2 3 4 Jaffrelot 2024.
- 1 2 3 Hasan 2024.
- 1 2 3 4 5 Ziegfeld 2024.
- 1 2 3 Palshikar 2024.
- 1 2 3 4 Spary 2024.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 Farooqui 2024.
- 1 2 Verma 2024.
- 1 2 3 4 5 Staniland 2024.
- ↑ Sharma 2007, hlm. 49.
- ↑ "India". Forum Pemerintahan Daerah Persemakmuran. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 Juli 2019. Diakses tanggal 7 September 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Dinkel, Jürgen (2018). The Non-Aligned Movement: Genesis, Organization and Politics (1927–1992). Brill. hlm. 92–93. ISBN 978-90-04-33613-1.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Ganguly 2024.
- 1 2 3 Tarapore 2024.
- ↑ Kampani 2024.
- 1 2 3 4 Chaudhary, Roy & Swamy 2026, hlm. 1–2
- 1 2 3 Chaudhary, Roy & Swamy 2026, hlm. 3–4
- 1 2 3 Chaudhary, Roy & Swamy 2026, hlm. 6
- 1 2 3 4 5 Chaudhary, Roy & Swamy 2026, hlm. 7–8
- 1 2 3 4 5 6 7 Chaudhary, Roy & Swamy 2026, hlm. 8–9
- ↑ "Employment in agriculture (% of total employment) (modeled ILO estimate)", The World Bank, 2019, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 Agustus 2019, diakses tanggal 26 Maret 2022
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Employment in agriculture, female (% of female employment) (modeled ILO estimate)", The World Bank, 2019, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 Agustus 2019, diakses tanggal 26 Maret 2022
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Press Information Bureau (29 Januari 2026). From Stability to New Frontiers: India's Services Exports Growth More Than Doubled (Laporan). Kementerian Keuangan, Pemerintah India.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ India Brand Equity Foundation (15 Mei 2026). "Indian Information Technology Sector and Its Growth". Kementerian Perdagangan dan Industri, Pemerintah India.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ NASSCOM (24 Februari 2026). Technology Sector in India: Strategic Review – 2026 (Laporan). Asosiasi Nasional Perusahaan Perangkat Lunak dan Jasa.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ D'Costa, Anthony P. (Maret 2025). "State, Business Association, and Diaspora: The Structure of Governance in the Indian IT-BPM Sector". Studies in Comparative International Development. 60 (2): 412–440. doi:10.1007/s12116-025-09459-1.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Helms, Benjamin; Lim, Junghyun (29 Desember 2025). "Globalization, internal migration, and public goods provision in emerging economies". American Journal of Political Science: 1–19. doi:10.1111/ajps.70029.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Chaminade, Cristina; Vang, Jan (2008). "Globalisation of knowledge production and regional innovation policy: Supporting specialized hubs in the Bangalore software industry". Research Policy. 37 (10): 1684–1696. doi:10.1016/j.respol.2008.08.014. "Bangalore telah muncul sebagai salah satu kelompok industri perangkat lunak terbesar dan paling cepat tumbuh di luar AS. Kota ini bukan hanya pusat industri terkait perangkat lunak, tetapi juga menampung beberapa kelompok industri teknologi tinggi (misalnya pertahanan dan aeronautika) ..."
- ↑ CBRE India (27 Mei 2025). Bengaluru Joins Top 12 Global Tech Hubs as Tech Talent Market Surpasses 1 Million (Laporan). CBRE Group. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Biro Informasi Pers (14 April 2025). "Powering India's Participation in Global Value Chains (GVCs)". Kementerian Informasi dan Penyiaran, Pemerintah India. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Perhimpunan Produsen Mobil India (SIAM) (3 September 2026). "Auto industry remains key driver of India's economic growth". DD News. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Rampal, Nikhil (27 Mei 2022). "Only 8% Indian families own cars, NFHS finds. Over 50% still use bicycles, bikes, and scooters". The Print. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) "Survei Kesehatan Keluarga Nasional (NFHS)-5 menunjukkan bahwa hanya sekitar 8 persen rumah tangga India—atau 1 dari 12 rumah tangga—memiliki mobil. ... sebanyak 55 persen rumah tangga India memiliki sepeda, sedangkan pemilik skuter dan sepeda motor menyusul dengan selisih tipis, sebesar 54 persen" - ↑ Shah, Aditi (20 Juli 2026). "Insight: Suzuki's no-frills cars once ruled India. Then buyers demanded frills". Reuters. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Indian Brand Equity Foundation (Mei 2026). "Indian Pharmacy: Pharma Companies in India". IBEF. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Shah, Kinjal (Desember 2025). "India's API strength endures, China reliance persists". Pharmaceutical Ingredients Review. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Singh, Anjali (22 Februari 2026). "Indian drugmakers notch cleaner USFDA inspections as global outcomes worsen". Business Standard. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Ministry of Power (Mei 2026). "Power Sector at a Glance "ALL INDIA"" (PDF). Otoritas Listrik Pusat (CEA), Pemerintah India. Diakses tanggal 6 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Rowlatt, Justin (12 Mei 2020). "India's carbon emissions fall for first time in four decades". BBC News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 Januari 2021. Diakses tanggal 3 Desember 2020.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ USAID (September 2018). "Greenhouse Gas Emissions in India" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 14 Februari 2020. Diakses tanggal 10 Juni 2021.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ UN Environment Programme (2019). "Emissions Gap Report 2019". UNEP – UN Environment Programme. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 April 2020. Diakses tanggal 10 Juni 2021.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "India 2020 – Analysis". Badan Energi Internasional. 9 Januari 2020. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 Maret 2021. Diakses tanggal 3 Desember 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "India surpasses Japan to become 3rd largest auto market globally". The Hindu. 2023-01-08. Diakses tanggal 2026-07-27.
- ↑ "India's Blue Economy net getting bigger". Financial Express. 14 Februari 2020. Diakses tanggal 18 Juli 2020.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Page 279 - economic_survey_2021-2022". www.indiabudget.gov.in. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 Februari 2025. Diakses tanggal 2022-07-18.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Provisional Population Totals Paper 1 of 2011 India, hlm. 160.
- ↑ Central Intelligence Agency.
- ↑ Rorabacher 2010, hlm. 35–39.
- 1 2 Provisional Population Totals Paper 1 of 2011 India, hlm. 165.
- ↑ "Population Of India (1951–2001)" (PDF). Sensus India. Kementerian Keuangan India. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 12 Agustus 2011. Diakses tanggal 13 Februari 2013.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Rosling. "Gapminder". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 September 2018. Diakses tanggal 5 September 2018.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Life expectancy at birth: World, India". Our World in Data. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 November 2025. Diakses tanggal 7 September 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Kapoor, Mudit; Shamika, Ravi (10 Februari 2014). "India's missing women". The Hindu. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 Maret 2021. Diakses tanggal 17 November 2019.
Dalam 50 tahun terakhir demokrasi India, jumlah absolut perempuan yang hilang telah meningkat empat kali lipat dari 15 juta menjadi 68 juta. Ini bukan sekadar cerminan pertumbuhan penduduk secara keseluruhan, melainkan memburuknya kecenderungan berbahaya tersebut dari waktu ke waktu. Sebagai persentase dari pemilih perempuan, jumlah perempuan yang hilang meningkat secara berarti—dari 13 persen menjadi sekitar 20 persen
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "More than 63 million women 'missing' in India, statistics show". Associated Press via The Guardian. 30 Januari 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 Maret 2021. Diakses tanggal 17 November 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Kutipan: "Lebih dari 63 juta perempuan 'hilang' secara statistik di seluruh India, dan lebih dari 21 juta anak perempuan tidak diinginkan oleh keluarganya, menurut pejabat pemerintah. Perbandingan laki-laki dan perempuan yang timpang sebagian besar disebabkan oleh aborsi selektif berdasarkan jenis kelamin serta gizi dan layanan kesehatan yang lebih baik bagi anak laki-laki, menurut survei ekonomi tahunan pemerintah yang diterbitkan pada Senin. Selain itu, survei tersebut menemukan bahwa 'keluarga yang memiliki anak laki-laki lebih cenderung berhenti memiliki anak daripada keluarga yang memiliki anak perempuan'. - ↑ Trivedi, Ira (15 Agustus 2019). "A Generation of Girls Is Missing in India – Sex-selective abortion fuels a cycle of patriarchy and abuse". Foreign Policy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 Maret 2021. Diakses tanggal 17 November 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Kutipan: "Meskipun sejak Undang-Undang Teknik Diagnostik Prakonsepsi dan Pranatal 1994 dokter dilarang mengungkapkan jenis kelamin janin di seluruh negeri, kemudahan memesan alat ultrasonografi yang murah dan portabel, terutama secara daring, telah membuat praktik aborsi selektif berdasarkan jenis kelamin terus berlangsung." - ↑ Garg 2005.
- ↑ Dyson & Visaria 2005, hlm. 115–129.
- ↑ Ratna 2007, hlm. 271–272.
- ↑ Chandramouli 2011.
- ↑ "Urban Agglomerations/Cities having population 1 lakh and above" (PDF). Kantor Panitera Jenderal dan Komisaris Sensus, India. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 17 Oktober 2013. Diakses tanggal 12 Mei 2014.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Scott, Allen J.; Garofoli, Gioacchino (2007), Development on the Ground: Clusters, Networks and Regions in Emerging Economies, Routledge, hlm. 208, ISBN 978-1-135-98422-9
- 1 2 3 4 Jolad, Shivakumar; Agarwal, Aayush (2024). "Mapping India's Linguistic Diversity and Exclusion in the Indian Census 1". Dalam Dodd, Maya; Menon, Nirmala (ed.). Practices of Digital Humanities in India: Learning by Doing. Routledge India. doi:10.4324/9781003325239. ISBN 978-1-003-32523-9.
- ↑ Moseley, Christopher (10 Maret 2008). Encyclopedia of the World's Endangered Languages. Routledge. ISBN 978-1-135-79640-2.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Gautam, Vanya (5 Januari 2024), Did You Know? Indian Rupee Notes Feature 15 Languages, Here's The List, India Times
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 Lerner, Hanna (2016), "The Indian Founding: A Comparative Perspective", dalam Choudhry, Sujit; Khosla, Madhav; Mehta, Pratap Bhanu (ed.), The Oxford Handbook of the Indian Constitution, Oxford University Press, hlm. 63–64, ISBN 978-0-19-870489-8,
Pada akhirnya, pendekatan pragmatis yang mengupayakan konsensuslah yang berhasil. Pada 14 September 1949, setelah tiga tahun perdebatan, majelis dengan suara mayoritas besar menyetujui resolusi kompromi yang dikenal sebagai rumus Munshi–Ayyangar, yang kemudian menjadi Pasal 343–351 Konstitusi India. Alih-alih menetapkan suatu 'bahasa nasional', Hindi disebut sebagai 'bahasa resmi Persatuan', sementara bahasa Inggris tetap digunakan 'untuk semua keperluan resmi'. Diputuskan bahwa pengaturan ini berlaku selama lima belas tahun, dan dalam masa tersebut bahasa Hindi secara bertahap diperkenalkan untuk penggunaan resmi. Apa yang akan terjadi pada akhir masa peralihan ini tidak ditentukan, dengan Konstitusi mengatur pembentukan komite parlemen untuk mengkaji persoalan itu pada masa mendatang. Selain itu, Konstitusi mengakui empat belas bahasa lain untuk penggunaan resmi (yang dicantumkan dalam Ketetapan Kedelapan Konstitusi). ... Lima belas tahun setelah Konstitusi diberlakukan, bahasa Hindi masih belum digunakan secara luas oleh pemerintah Persatuan. Setelah serangkaian kerusuhan dengan kekerasan di negara-negara bagian yang tidak berbahasa Hindi pada dasawarsa 1960-an, Parlemen meninggalkan cita-cita bahasa nasional India. Pada 1965, ketika masa peralihan lima belas tahun yang ditetapkan Konstitusi berakhir, pemerintah mengumumkan bahwa bahasa Inggris akan tetap menjadi bahasa formal de facto India.
- 1 2 3 Isaka, Riho (2021), Language, Identity, and Power in Modern India: Gujarat, c. 1850–1960, Routledge New Horizons in South Asian Studies, Routledge, hlm. 126–197, ISBN 978-1-000-46858-8,
Pemisahan mungkin telah 'membunuh' bahasa Hindustan, tetapi sangat memengaruhi perdebatan mengenai kedudukan bahasa Inggris dan bahasa-bahasa provinsi dalam Konstitusi. Para pendukung Hindi semakin bersikeras menetapkan Hindi sebagai satu-satunya bahasa nasional dan memberlakukannya di wilayah-wilayah yang tidak berbahasa Hindi demi memperkuat 'persatuan nasional'. Selain itu, para pemimpin ini bahkan mulai berpendapat bahwa bentuk angka Dewanagari harus digunakan sebagai pengganti bentuk internasional. Hal ini ditentang keras oleh para anggota dari India Selatan. Untuk menyelesaikan perselisihan yang berlarut-larut di antara anggota Majelis, (K. M.) Munshi dan N. Gopalaswami Ayyangar, seorang anggota Majelis dari kalangan Tamil, menyusun ketentuan bahasa secara terperinci. Menurut kata-kata Ayyangar, ketentuan itu merupakan 'kompromi antara pendapat-pendapat yang tidak mudah dipertemukan' (Constituent Assembly Debates 1X 1966: 1319). Ketentuan tersebut diajukan kepada Kongres pada 2 September 1949 dan memicu perdebatan sengit. Akhirnya diputuskan bahwa ketentuan itu akan diajukan dalam Majelis oleh Munshi, Ayyangar, dan Bhimrao Ambedkar (Ketua Panitia Perumus) dalam kapasitas pribadi mereka, bukan sebagai usulan resmi atas nama Panitia Perumus.
- ↑ Forrester, Duncan B. (1966). "The Madras Anti-Hindi Agitation, 1965: Political Protest and its Effects on Language Policy in India". Pacific Affairs. 39 (1/2): 19–36. doi:10.2307/2755179. ISSN 0030-851X. JSTOR 2755179.
- ↑ Sharma, Sandipan (26 Januari 2026). "1965: When Republic Day became a morning of mourning in Madras". India Today (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 Januari 2026. Diakses tanggal 19 April 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Annamalai, E. (2008). "Contexts of multilingualism". Dalam Braj B. Kachru; Yamuna Kachru; S. N. Sridhar (ed.). Language in South Asia. Cambridge University Press. hlm. 223–. ISBN 978-1-139-46550-2.
Sebagian bahasa yang berpindah ... seperti bahasa Sanskerta dan Inggris, tetap bertahan terutama sebagai bahasa kedua, meskipun penutur aslinya telah hilang.
- ↑ Gazzola, Michele; Wickström, Bengt-Arne (2016). The Economics of Language Policy. MIT Press. hlm. 469–. ISBN 978-0-262-03470-8.
Ketetapan Kedelapan mengakui bahasa-bahasa nasional India yang mencakup bahasa-bahasa daerah utama serta bahasa lain, seperti Sanskerta dan Urdu, yang menyumbang pada warisan budaya India. ... Daftar awal empat belas bahasa dalam Ketetapan Kedelapan ketika Konstitusi ditetapkan pada 1949 kini telah berkembang menjadi dua puluh dua.
- ↑ Groff, Cynthia (2017). The Ecology of Language in Multilingual India: Voices of Women and Educators in the Himalayan Foothills. Palgrave Macmillan UK. hlm. 58–. ISBN 978-1-137-51961-0.
Sebagaimana dikatakan Mahapatra: "Secara umum diyakini bahwa arti penting Ketetapan Kedelapan terletak pada penyediaan daftar bahasa yang darinya bahasa Hindi diarahkan untuk mengambil bentuk, gaya, dan ungkapan yang sesuai demi memperkaya dirinya" ... Namun, pengakuan dalam Konstitusi memiliki arti penting bagi kedudukan dan fungsi suatu bahasa.
- ↑ Padilla y Sotelo, Lilia Susana; Acharya, Arun Kumar (2006). "Religion and India's Growing Population: Evidence from Some Selected States of India". Caminhos de Geografia. 6 (15): 1–12. doi:10.14393/RCG61515382.
- 1 2 3 Kramer 2021c
- ↑ Lindenfeld 2021, hlm. 205 "Menurut sensus 2011, ... beragama Kristen, dibandingkan dengan 2,3 persen penduduk India secara keseluruhan."
- ↑ Lindenfeld 2021, hlm. 209 "Umat Kristen Tomas tetap kuat, berjumlah sekitar 8,69 juta, terbagi ke dalam delapan gereja terpisah (dibandingkan dengan 11,8 juta umat Katolik Roma)."
- ↑ Lindenfeld 2021, hlm. 204–205 "Kelompok di India yang terbukti paling terbuka terhadap Kekristenan ialah kaum minoritas etnis yang dikenal sebagai Adivasi (penduduk asli), atau masyarakat suku. Diakui secara resmi sebagai 'suku terdaftar' dalam Konstitusi India, mereka sering tinggal di daerah terpencil atau berhutan lebat, mempertahankan bahasa dan budaya khas mereka, dan kerap berhasil menolak asimilasi ke dalam budaya India yang lebih luas. Menurut sensus 2011, 32,8 persen Adivasi beragama Kristen, ... Mereka terutama terkonsentrasi di sejumlah provinsi bergunung-gunung di timur laut—Mizoram, Meghalaya, dan Nagaland—tempat mereka mencakup antara 70 dan 90 persen penduduk."
- ↑ Singh, Joginder (2014). "Sikhs in Independent India". Dalam Singh, Pashaura; Fenech, Louis E. (ed.). The Oxford Handbook of Sikh Studies. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-969930-8. "Umat Sikh di India merdeka mencakup kurang dari 2 persen jumlah penduduk. Hanya di Punjab mereka menjadi mayoritas. ... Di Punjab, lebih dari 87 persen penduduk Sikh bekerja dalam pertanian dan kegiatan yang berkaitan dengannya."
- 1 2 3 Kramer 2021b
- 1 2 3 Weil, Shalva (2019). "1. Super-diversity among Baghdadi Jews of India". Dalam Weil, Shalva (ed.). The Baghdadi Jews of India: Maintaining Communities, Negotiating Identities and Creating Super-Diversity. Routledge South Asian Religion Series. Routledge. ISBN 978-0-367-20325-2.
- ↑ Kramer, Stephanie (21 September 2021). Causes of Religious Change (Laporan). Pew Research Center.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ USCIRF (Maret 2023). India's State-Level Anti-Conversion Laws (Laporan). Komisi Amerika Serikat untuk Kebebasan Beragama Internasional.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Bhargava, Rajeev (2008). "Political Secularism". Dalam Dryzek, John S.; Honig, Bonnie; Phillips, Anne (ed.). The Oxford Handbook of Political Theory. Oxford University Press. hlm. 636–655. ISBN 978-0-19-954843-9.
- ↑ Smith, Donald Eugene (2015) [2008]. India as a Secular State. Princeton University Press. hlm. 100–115. ISBN 978-0-691-62324-5.
- ↑ "Preamble: The Constitution of India". Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Chaudhary, Latika (Maret 2009). "Determinants of Primary Schooling in British India". The Journal of Economic History. 69 (1): 269–302. doi:10.1017/S0022050709000400.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Pathania, Rajni (Januari 2020). "Literacy in India: Progress and Inequality" (PDF). bangladeshsociology.org. 17 (1). Bangladesh e-Journal of Sociology. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 10 Oktober 2021. Diakses tanggal 18 Oktober 2021.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Natarajan, Dandapani (1971). "Extracts from the All India Census Reports on Literacy" (PDF). Kantor Panitera Jenderal dan Komisaris Sensus India. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 28 Juni 2021. Diakses tanggal 18 Oktober 2021.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Provisional Population Totals Paper 1 of 2011 India, hlm. 163.
- ↑ NITI Aayog (Mei 2026). School Education System in India (PDF) (Laporan). Pemerintah India. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Right to Education". 27 Agustus 2009. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 Kementerian Pengembangan Sumber Daya Manusia (2020). National Education Policy 2020 (PDF) (Laporan). Pemerintah India. hlm. 11–12. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Jha, P.; Parvati, P. (2020). "National Education Policy, 2020: Long on Rhetoric and Short on Substance". Economic and Political Weekly. 55 (34): 14–17.
- ↑ Metcalf & Metcalf 2012, hlm. 154 "Sebagian di antaranya merupakan hasil Surat Pendidikan Sir Charles Wood tahun 1854, bukti lebih lanjut dari dorongan modernisasi Dalhousie yang juga mendirikan tiga universitas pertama India, masing-masing satu di ibu kota presidensi, yang diresmikan pada tahun 1857 yang menentukan itu."
- ↑ Ministry of Education (Januari 2024). All India Survey on Higher Education 2022–2023 (PDF) (Laporan). Pemerintah India. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Aneesh MR; Maya K; Aneesh KA (2024). "Education Inequality in India: An Empirical Analysis Using National Sample Survey Data". Indian Journal of Human Development. 18 (2). SAGE Publications: 267–279. doi:10.1177/09737030241280145.
- ↑ Srivastava, A.; Roy, A. (2022). "Intersectional inequalities in digital access and school infrastructure across Indian households". Frontiers in Education. 7. Frontiers Media. doi:10.3389/feduc.2022.871043.
- ↑ Agrawal, Tushar (2014). "Educational inequality in rural and urban India". International Journal of Educational Development. 34. Elsevier: 11–19. doi:10.1016/j.ijedudev.2013.05.002.
- 1 2 Headrick, Daniel R. (1988), The Tentacles of Progress: Technology Transfer in the Age of Imperialism, 1850–1940, New York: Oxford University Press, hlm. 317, ISBN 0-19-505115-7,
Perguruan tinggi teknik pertama tumbuh dari proyek Kanal Gangga. Dinamai menurut wakil gubernur Provinsi-Provinsi Barat Laut yang mendirikannya pada 1847, Thomason Engineering College di Roorkee melatih pegawai untuk bagian irigasi Departemen Pekerjaan Umum. Perguruan tinggi ini menawarkan kurikulum berbeda bagi kelompok mahasiswa yang berbeda: kelas teknik bagi orang Eropa yang menetap dan sejumlah kecil orang India, kelas pegawai bawahan tingkat atas untuk melatih bintara Britania sebagai mandor konstruksi, serta kelas pegawai bawahan tingkat bawah untuk melatih juru ukur India. Pada pertengahan dasawarsa 1880-an, sekolah ini memiliki seratus mahasiswa, bangunan-bangunan yang cukup besar, dan reputasi sebagai pusat penting kajian teknik hidraulik.
- 1 2 Subramanian, Ajantha (2019), The Caste of Merit: Engineering Education in India, Cambridge, MA and London: Harvard University Press, hlm. 30–31, ISBN 978-0-674-98788-3,
Sebelum surat tahun 1854, sudah ada satu perguruan tinggi teknik yang beroperasi: Thomason College of Civil Engineering di Roorkee.
- ↑ Pragati, K. B.; Sengupta, Somini (2026-07-28). "'We Are Not Learning Anything': India's Gen Z Rage Is a Test for Modi". The New York Times. Diakses tanggal 2026-09-04.
- ↑ Petrikova, Ivica; Kumar, Narender (30 September 2025). "Progress in child nutrition outcomes: insights from India's recent experience". BMC Public Health. 25 3179. doi:10.1186/s12889-025-24436-y.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Rao, N; Bala, M; Ranganathan, N; Anand, U; Dhingra, S; Costa, JC (2023). "Trends in the prevalence and social determinants of stunting in India, 2005–2021 :findings from three rounds of the National Family Health Survey". BMJ Nutrition, Prevention & Health. 6 (2).
- ↑ Mondal, A; Manivannan, J.R.; Bhatnagar, G. (2026). "Evaluation of India's Supplementary Nutrition Programme for children aged 36–72 months and opportunities for improvement using linear programming" (PDF). Journal of Nutritional Science. 13: e6.
- ↑ Singh, Shri Kant; Gudakesh; Vishwakarma, Deepanjali (6 Februari 2024). "Malnutrition among children in India: exploring the contribution of the integrated child development service scheme". SN Social Sciences. 4 49. doi:10.1007/s43545-023-00811-7.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Bhattacharya, S. (2004). "Uncertain advances: a review of the final phases of the smallpox eradication program in India, 1960–1980". American Journal of Public Health. 94 (11): 1875–1883.
- ↑ Bhattacharya, S.; Dasgupta, R. (2009). "A tale of two global health programs: Smallpox eradication's lessons for the antipolio campaign in India". American Journal of Public Health. 99 (7): 1174–1184. doi:10.2105/AJPH.2008.135624. PMC 2696658. PMID 19528668.
- ↑ John, T. J.; Vashishtha, V. M. (2013). "Eradicating poliomyelitis: India's journey from hyperendemic to polio-free status". Indian Journal of Medical Research. 137 (6): 1041–1048. PMC 3734678. PMID 23852285.
- ↑ Solomon, Roma (Oktober 2019). "Involvement of Civil Society in India's Polio Eradication Program: Lessons Learned". The American Journal of Tropical Medicine and Hygiene. 101 (4 Suppl): 15–20. doi:10.4269/ajtmh.18-0931. PMC 6776100. PMID 31760980.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Alam, Munirul; Sultana, M; Nair, G.B.; Sack, R.B.; Sack, R.B.; Sack, D.A.; Siddique, A.K.; Ali, A.; Huq, A; Colwell, Rita R. (November 2007). "Biofilms comprise a component of the annual cycle of Vibrio cholerae in the Bay of Bengal estuary". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. 104 (47): 18742–18747. doi:10.1073/pnas.0709947104.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Kanungo, S.; Sah, B. K.; Ali, M. (2021). "Spread and Endemicity of Cholera in India: Factors Beyond the Numbers". Frontiers in Public Health. 9 783054. doi:10.3389/fpubh.2021.783054. PMC 8687089. PMID 34957018.
- ↑ Tantadas, M.; Deb, A.; Kanungo, S. (2022). "Cholera Outbreaks in India, 2011–2020: A Systematic Review". International Journal of Environmental Research and Public Health. 19 (9): 5738. doi:10.3390/ijerph19095738. PMC 9099871. PMID 35565132.
- ↑ "1.1 TB incidence". Global tuberculosis report 2025 (Laporan). Jenewa: Organisasi Kesehatan Dunia. 12 November 2025. ISBN 978-92-4-011692-4. Diakses tanggal 25 Agustus 2026.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Chakraborty, Biswajit; Laskar, Amaj A.; Baruah, Anamika; Kumar, Rinki; Barbhuiya, Mustafa A. (2024). "Critical Perspectives on Global Health Policy, Diagnostic Access and Practice Gaps towards a Tuberculosis Free India". Annals of Clinical & Laboratory Science. 54 (6): 721–738. PMID 39855743.
- ↑ Bhowmick, I. (2025). "Mapping malaria risk in India between 2019 and 2023: a tool for the public to track malaria". Scientific Reports. 15. doi:10.1038/s41598-025-25671-4.
- ↑ Kumar, A.; Prasad, S.; Shivananda, S. (2024). "Private hospitals generally offer better treatment and facilities: A qualitative analysis of out-of-pocket expenditure and healthcare preferences in South Karnataka". International Journal of Environmental Research and Public Health. 21 (10): 1287. doi:10.3390/ijerph21101287.
- ↑ Thiagarajan, K. (2021). "How to fix India's depleted rural workforce". BMJ. 373: 1564.
- ↑ Thomas, A.R; Sahu, S.K; Dash, U (2025). "Illness to poverty in India: a qualitative exploration of hardship financing for healthcare" (PDF). International Journal for Equity in Health. 24 (1): 307.
- ↑ Sriram, Shyamkumar (20 Juli 2026). "Can a bigger budget shrink the bill at the bedside? Public health financing as a route to lower out-of-pocket spending in India". Frontiers in Public Health. 14 1903360. doi:10.3389/fpubh.2026.1903360.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Saraf, S.; Khanna, A.; Dharmadhikari, A. (2024). "Estimating the effect of annual PM2·5 exposure on mortality in India: a nationwide 1-km spatial cohort study". The Lancet Planetary Health. 8 (12): e941–e949. doi:10.1016/S2542-5196(24)00248-1.
- ↑ Romanello, M.; Walawender, M; Hsu, S.C.; Moskeland, A.; Palmeiro-Silva, Y; Scamman, F (2025). "The 2025 report of the Lancet Countdown on health and climate change: climate change action offers a lifeline". The Lancet. 406 (10521): 2804–2857.
- ↑ Kaur, A.; Singh, H.; Asghar, A. (2023). "Impact of COVID-19 on healthcare system in India: A systematic review". Journal of Family Medicine and Primary Care. 12 (7): 1242–1244. doi:10.4103/jfmpc.jfmpc_2321_22. PMC 10345816.
- ↑ Patel, V.; Kalita, A.; Melo Furtado, K. (2026). "The Lancet Commission on a citizen-centred health system for India" (PDF). The Lancet. 407 (10526): 392–398.
- ↑ Jha, P.; Deshmukh, Y.; Tumbe, C. (2022). "COVID mortality in India: National survey data and health facility deaths". Science. 375 (6581): 667–671. doi:10.1126/science.abm5154. PMID 34990212.
- ↑ Msemburi, W.; Karlinsky, A.; Knutson, V.; Aleshin-Guendel, S.; Chatterji, S.; Wakefield, J. (2023). "The WHO estimates of excess mortality associated with the COVID-19 pandemic" (PDF). Nature. 613 (7942): 130–137.
- ↑ Béteille 2002, hlm. 136–137. Kutipan: "Kasta: Kasta telah digambarkan sebagai lembaga sosial mendasar India. Kadang-kadang istilah ini digunakan secara kiasan untuk merujuk pada pembedaan sosial yang kaku atau eksklusivitas sosial yang ekstrem di mana pun ditemukan, dan sejumlah ahli menggunakan istilah 'sistem kasta warna kulit' untuk menggambarkan stratifikasi berdasarkan ras di Amerika Serikat dan tempat lain. Namun, di kalangan umat Hindu di India-lah kita menemukan sistem ini dalam bentuknya yang paling berkembang, meskipun bentuk-bentuk serupa terdapat di kalangan Muslim, Kristen, Sikh, dan kelompok agama lain di Asia Selatan. Ini merupakan lembaga kuno, yang telah ada setidaknya selama 2.000 tahun di kalangan umat Hindu, yang mengembangkan bukan hanya praktik kasta yang rumit, tetapi juga teori kompleks untuk menjelaskan dan membenarkan praktik-praktik tersebut (Dumont 1970). Teori itu kini telah kehilangan banyak pengaruhnya, meskipun banyak praktiknya tetap berlangsung."
- ↑
- Lagasse 2007 ""kasta [Port., casta=keranjang], kelompok-kelompok bertingkat berdasarkan keturunan dalam sistem stratifikasi sosial yang kaku, terutama yang membentuk India Hindu. Sejumlah ilmuwan bahkan menyangkal adanya sistem kasta yang sesungguhnya di luar India. Kasta merupakan kelompok tertutup yang anggotanya sangat dibatasi dalam memilih pekerjaan dan tingkat keterlibatan sosial. Perkawinan di luar kasta dilarang. Status sosial ditentukan oleh kasta kelahiran seseorang dan hanya dalam keadaan langka dapat dilampaui."
- Madan 2012 "kasta, salah satu kelompok sosial bertingkat, turun-temurun, dan endogami, yang sering dikaitkan dengan pekerjaan, yang bersama-sama membentuk masyarakat tradisional di Asia Selatan, khususnya di kalangan umat Hindu di India. Meskipun kadang-kadang digunakan untuk menyebut kelompok serupa dalam masyarakat lain, 'sistem kasta' berkembang secara khas dalam masyarakat Hindu."
- Gupta 2008 "Kasta: Yang menjadikan masyarakat India unik ialah fenomena kasta. Pembedaan ekonomi, agama, dan bahasa, bahkan diskriminasi ras, dikenal di tempat lain, tetapi kasta tidak ditemukan di mana pun selain di India."
- Mitchell 2006 Kutipan:"Kasta Sistem kasta murni berakar pada tatanan keagamaan dan dapat dipahami sebagai hierarki kelompok pekerjaan yang turun-temurun dan endogami, dengan kedudukan tetap serta mobilitas yang terhalang oleh jarak ritual antarkasta. Secara empiris, sistem Hindu klasik di India paling mendekati kasta murni. Sistem ini telah ada selama sekitar 3.000 tahun dan masih bertahan hingga kini meskipun banyak upaya dilakukan untuk menghapus sebagian pembatasannya. Pada dasarnya, sistem ini berhubungan dengan Hinduisme."
- "caste, n.", Oxford English Dictionary, Second edition; online version June 2012, Oxford, Britania Raya: Oxford University Press, 1989, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 September 2015, diakses tanggal 5 Agustus 2019
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Kutipan: "kasta, n. 2a. khusus. Salah satu dari beberapa golongan turun-temurun yang membagi masyarakat India sejak zaman dahulu kala; ... Inilah kini makna utama yang memengaruhi semua makna lainnya."
- ↑ Atrey, Shreya (2019). Intersectional Discrimination. Oxford, Britania Raya dan New York, NY: Oxford University Press. hlm. 63–64. ISBN 978-0-19-884895-0.
- ↑ "Indians Outlaw 'Untouchability' In Formal Action by Assembly; UNTOUCHABILITY' FORMALLY BANNED". Reuters/New York Times. 30 April 1947.
NEW DELHI, India, 29 April -- Majelis Konstituante India, dalam pembahasan laporan Panitia Hak-Hak Dasar, hari ini menetapkan ketentuan berikut: "Ketidaktersentuhan dalam bentuk apa pun dihapuskan, dan pemberlakuan pembatasan hak atas dasar itu merupakan pelanggaran.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Teltumbde, Anand (2010). The Persistence of Caste: The Khairlanji Murders and India's Hidden Apartheid. Bloomsbury Academic. ISBN 978-1-84813-449-2.
- ↑ Taylor, Sarah (28 Juni 2022). "The struggle to challenge India's caste system remains real, still". ABC. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Juli 2024. Diakses tanggal 11 Juli 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Makar 2007.
- 1 2 Medora 2003.
- ↑ Jones & Ramdas 2005, hlm. 111.
- ↑ Biswas, Soutik (29 September 2016). "What divorce and separation tell us about modern India". BBC News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 Maret 2021. Diakses tanggal 18 Oktober 2021.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Cullen-Dupont 2009, hlm. 96.
- ↑ Agarwal, Bina (1994), A Field of One's Own: Gender and Land Rights in South Asia, Cambridge University Press, hlm. 264, ISBN 978-0-521-42926-9,
Pengamatan Mayer (1960: 219) untuk India tengah juga cukup tepat bagi sebagian besar masyarakat di anak benua tersebut: "Ikatan seorang laki-laki dengan saudara perempuannya dianggap sangat erat. Keduanya tumbuh bersama pada usia ketika belum ada pembedaan antara jenis kelamin. Kemudian, ketika saudara perempuan menikah, saudara laki-laki dipandang sebagai pelindung utamanya, sebab setelah ayahnya meninggal, kepada siapa lagi ia dapat berpaling jika ada masalah dalam rumah tangganya. (Adrian C. Mayer, Caste and kinship in Central India (1960)" Rumah orang tua, dan setelah orang tua meninggal, rumah saudara laki-laki, sering menjadi satu-satunya sumber dukungan sementara atau jangka panjang ketika terjadi perceraian, penelantaran, bahkan kematian suami, terutama bagi perempuan yang tidak memiliki anak laki-laki dewasa. Ketergantungannya pada dukungan ini berhubungan langsung dengan kerentanan ekonomi dan sosial.
- ↑ Coleman, Leo (2017), A Moral Technology: Electrification as Political Ritual in New Delhi, Cornell University Press, hlm. 127, ISBN 978-1-5017-0791-9 Kutipan: Rakhi dan pelaksanaannya secara lokal di Kishan Garhi merupakan bagian dari perayaan yang meneguhkan hubungan antara saudara perempuan yang menikah ke luar desa dan saudara laki-laki yang tetap tinggal di desa. Dalam bentuk 'tradisional' ritus ini, menurut Marriott, saudara perempuan melakukan pertukaran dengan saudara laki-lakinya untuk memastikan bahwa mereka tetap dapat meminta bantuan—ketika krisis atau saat melahirkan—kepada desa kelahiran dan kerabat di sana, bahkan setelah pindah ke rumah suami. Sementara itu, saudara laki-laki yang terlibat dalam pertukaran ini meneguhkan solidaritas moral keluarga asal, yang selain melalui praktik tersebut sulit terlihat, bahkan setelah saudara perempuan mereka menikah.
- ↑ Assadi, Muzaffar (2024). Colonial and Post-Colonial Identity Politics in South Asia: Zaat/Caste Among Muslims. Routledge. hlm. 3–5. ISBN 978-1-032-60663-7.
- ↑ Jaffrelot, Christophe; Kalaiyarasan, A. (2023). "Post-Sachar Indian Muslims: Facets of Socio-Economic Decline". Dalam Fazal, Tanweer; Vaid, Divya; Jodhka, Surinder S. (ed.). Marginalities and Mobilities among India's Muslims: Elusive Citizenship. Routledge. hlm. 19–41. ISBN 978-1-032-07789-5.
- ↑ Parwez, S.; Khan, G; Khan, T (2024). "Communal ghettoisation in urban India: A process of informal but systematic segregations". GeoJournal. 89 (4): 123–135. doi:10.1007/s10708-024-11148-w.
- ↑ Bhalotra, Sonia; Valente, Christine; Van Soest, Arthur (2010). "The puzzle of Muslim advantage in child survival in India". Journal of Health Economics. 29: 191–204. doi:10.1016/j.jhealeco.2009.11.002.
- 1 2 Rose, S. (2024). "The St. Thomas Christian Community of South India: Evolution and Expansion of an Early Christian Community from Inception to Contemporary Times". Dalam Brunn, S.S. (ed.). Geography of Time, Place, Movement and Networks. Vol. 3. Springer Nature.
- ↑ Truschke 2025 "Pada kenyataannya, bukti paling awal tentang umat Kristen di India selatan berasal dari pertengahan milenium pertama M, ketika salib-salib dengan prasasti Pahlavi mulai muncul di sepanjang pesisir selatan dan di Sri Lanka. Sejak saat itu, sebuah komunitas Kristen kecil—kadang-kadang disebut umat Kristen Tomas sesuai legenda—terus bertahan di India selatan."
- ↑ Lindenfeld 2021, hlm. 180 "Umat Kristen Tomas menetap dan berkembang di pesisir Malabar, di negara bagian Kerala sekarang,"
- ↑ Singh, Pashaura; Fenech, Louis E. (2014). The Oxford Handbook of Sikh Studies. Oxford University Press. hlm. 441–443. ISBN 978-0-19-969930-8.
- ↑ Trainor, Kevin (1997). Relics, Ritual, and Representation in Buddhism: Rematerializing the Sri Lankan Theravāda Tradition. Cambridge University Press. hlm. 33–35. ISBN 978-0-521-58280-3.
- ↑ Dundas 2002, hlm. 45–46 "Biarawan dan biarawati Śvetāmbara mengenakan jubah (pakaian atas dan bawah) serta menggunakan mangkuk untuk menerima sedekah makanan dan makan. Mereka percaya bahwa perempuan dapat mencapai pembebasan rohani ... Sebaliknya, biarawan Digambara yang telah menjalani inisiasi penuh tidak mengenakan pakaian sama sekali (hal ini tidak berlaku bagi biarawati Digambara) dan tidak menggunakan mangkuk sedekah, melainkan makan dari kedua tangan yang ditangkupkan."
- ↑ Dundas 2002, hlm. 274
- ↑ Jacobsen, Knut A. (2019). Routledge Handbook of South Asian Religions. Routledge. hlm. 7–9. ISBN 978-0-367-15077-8.
- ↑ Channa, Subhadra Mitra; Lobo, Lancy (2023). "Introduction". Dalam Chana, Subhadra Mitra; Lobo, Nancy (ed.). Religious Pluralism in India: Ethnographic and Philosophical Evidences, 1886–1936. Routledge. ISBN 978-1-032-37305-8. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Flood, Gavin. "Introduction: A History of Hindu Practise". Dalam Flood, Gavin (ed.). Oxford History of Hinduism: Hindu Practice. Oxford University Press. hlm. 1–19. doi:10.1093/oso/9780198733508.003.0001.
- ↑ Metcalf, Barbara D. (2009). "Preface". Dalam Metcalf, Barbara D. (ed.). Islam in South Asia in Practice. Princeton University Press. hlm. xviii. ISBN 978-0-691-04421-7.
- 1 2 3 Sahgal, Neha; Evans, Jonathan; Salazar, Ariana Monique; Starr, Kelsey Jo; Corichi, Manolo (29 Juni 2021). Religion in India: Tolerance and Segregation (Laporan). Pew Research Center.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Stein 2010, hlm. 156 "(hlm. 156) Keberhasilan rezim-rezim Muslim yang mengakibatkan penundukan ... anak benua tersebut pada 1500 mengaburkan perkembangan yang lebih penting secara historis: pembentukan kebudayaan Indo-Islam yang memadukan keduanya."
- ↑ Stein 2010, hlm. 157 "Di dalam arus utama kedua kebudayaan, Islam dan Hindu, masing-masing pihak dalam perjumpaan itu memiliki aliran pengabdian yang menyimpang dari ortodoksi ... Namun, berbeda dengan perpecahan besar yang membelah Islam, berbagai bentuk pengabdian Saiwa dan Waisnawa di daerah-daerah selalu mengikuti bimbingan keagamaan para pendeta Brahmana, yang sebagian turut serta dalam gerakan pengabdian tersebut. ... Pada 1200 M, para penjaga ortodoksi Islam, ..., dengan enggan mulai menerima bahwa arus pengabdian serupa telah berakar dalam Islam, baik di wilayah inti Islam maupun di wilayah taklukan. Sufisme, pengabdian mistis dalam Islam, melintasi ragam kesakralan pribumi India yang membingungkan."
- ↑ Stein 2010, hlm. 157 "Kesalehan masyarakat Hindu terbukti terbuka terhadap khotbah para guru sufi (pir); sejumlah orang menjadi murid mereka, lalu masuk ke lembaga pendidikan agama untuk menyerap jalan mistis sang pir. Ajaran para mistikus Hindu dan Muslim cukup serupa sehingga tersedia landasan subur bagi gerakan sinkretis yang melibatkan penganut kedua agama."
- ↑ Dundas, Paul (2002). The Jains. Routledge. hlm. 160–175. ISBN 978-0-415-26605-5.
- ↑ Prusty, Jayashree (2025). "Socio-cultural life and transition of Gond tribe, Nawarangpur, Odisha" (PDF). Antrocom Journal of Anthropology. 21 (1): 115–128.
- ↑ Lamb, Ramdas (2002). Rapt in the Name: The Ramnamis, Ramnam, and Untouchable Religion in Central India. SUNY Series in Hindu Studies. State University of New York Press. ISBN 978-0-7914-5385-8.
- ↑ Devi, M.; Ghatani, K. (2022). "The use of coconut in rituals and food preparations in India: a review". Journal of Ethnic Foods. 9 (37). Springer.
- ↑ Rogerson, S (2014). "Preparing IT professionals of the future". Mondo Digitale. 50 (2).
- ↑ Rowland 1970, hlm. 185–198, 252, 385–466.
- ↑ Craven 1997, hlm. 14–16.
- 1 2 Harle 1994, hlm. 17–18.
- ↑ Rowland 1970, hlm. 46–47.
- ↑ Craven 1997, hlm. 35–46.
- ↑ Rowland 1970, hlm. 67–70.
- ↑ Harle 1994, hlm. 22–24.
- ↑ Craven 1997, hlm. 22, 88.
- ↑ Rowland 1970, hlm. 35, 99–100.
- ↑ Craven 1997, hlm. 18–19.
- ↑ Blurton 1993, hlm. 151.
- ↑ Harle 1994, hlm. 32–38.
- ↑ Harle 1994, hlm. 43–55.
- ↑ Rowland 1970, hlm. 113–119.
- ↑ Blurton 1993, hlm. 10–11.
- ↑ Craven 1997, hlm. 111–121.
- ↑ Michell 2000, hlm. 44–70.
- ↑ Harle 1994, hlm. 212–216.
- ↑ Craven 1997, hlm. 152–160.
- ↑ Blurton 1993, hlm. 225–227.
- ↑ Harle 1994, hlm. 356–361.
- ↑ Rowland 1970, hlm. 242–251.
- ↑ Harle 1994, hlm. 361–370.
- ↑ Craven 1997, hlm. 202–208.
- ↑ Harle 1994, hlm. 372–382, 400–406.
- ↑ Craven 1997, hlm. 222–243.
- ↑ Harle 1994, hlm. 384–397, 407–420.
- ↑ Craven 1997, hlm. 243.
- ↑ Michell 2000, hlm. 210.
- ↑ Michell 2000, hlm. 210–211.
- ↑ Blurton 1993, hlm. 211.
- ↑ Hayashi 2005, hlm. 363
- ↑ Plofker 2007, hlm. 1
- ↑ Filliozat 2004, hlm. 140–143
- ↑ Hayashi 1995
- ↑ Plofker 2007, hlm. 6
- ↑ Ifrah 2000, hlm. 346: "Ukuran kejeniusan peradaban India, yang darinya kita memperoleh sistem (bilangan) modern, semakin besar karena hanya peradaban itulah dalam seluruh sejarah yang mencapai keberhasilan ini. Beberapa kebudayaan, lebih awal daripada India, berhasil menemukan satu atau paling banyak dua ciri pencapaian intelektual ini. Namun, tidak satu pun berhasil menyatukan, dalam suatu sistem yang lengkap dan padu, syarat-syarat yang perlu dan cukup bagi sistem bilangan dengan potensi yang sama seperti sistem kita."
- ↑ Plofker 2009, hlm. 44–47
- ↑ Bourbaki 1998, hlm. 46: "... sistem desimal kita, yang (melalui perantaraan orang Arab) berasal dari matematika Hindu, yang penggunaannya telah terbukti sejak abad-abad pertama Masehi. Perlu dicatat pula bahwa pemahaman nol sebagai bilangan dan bukan sekadar simbol pemisah), serta penggunaannya dalam perhitungan, juga termasuk sumbangan asli orang Hindu."
- ↑ Bourbaki 1998, hlm. 49: Aritmetika modern dikenal pada abad pertengahan sebagai "Modus Indorum" atau metode orang India. Leonardo da Pisa menulis bahwa dibandingkan dengan metode orang India, semua metode lain keliru. Metode orang India ini tidak lain ialah aritmetika kita yang sangat sederhana berupa penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Aturan untuk keempat prosedur sederhana ini pertama kali dituliskan oleh Brahmagupta pada abad ke-7 M. "Dalam hal ini, orang Hindu telah memahami penafsiran yang harus diberikan kepada bilangan negatif dalam kasus tertentu (utang dalam persoalan perdagangan, misalnya). Pada abad-abad berikutnya, ketika metode dan hasil matematika Yunani dan Hindu menyebar ke Barat (melalui perantaraan orang Arab), orang semakin terbiasa menggunakan bilangan-bilangan ini dan mulai memiliki 'representasi' lain yang bersifat geometris atau dinamis."
- 1 2 "algebra" 2007. Britannica Concise Encyclopedia Diarsipkan 29 September 2007 di Wayback Machine. Encyclopædia Britannica Online. 16 Mei 2007. Kutipan: "Sistem desimal posisional yang lengkap sudah pasti ada di India pada abad ke-9 (M), tetapi banyak gagasan intinya telah disebarkan jauh sebelumnya ke Tiongkok dan dunia Islam. Aritmetika India juga mengembangkan aturan yang konsisten dan benar untuk operasi bilangan positif dan negatif serta untuk memperlakukan nol seperti bilangan lain, bahkan dalam konteks yang bermasalah seperti pembagian. Beberapa ratus tahun berlalu sebelum matematikawan Eropa sepenuhnya memadukan gagasan-gagasan ini ke dalam disiplin aljabar yang sedang berkembang."
- ↑ Pingree 2003, hlm. 45 Kutipan: "Geometri dan cabangnya, trigonometri, merupakan matematika yang paling sering digunakan para astronom India. Matematikawan Yunani menggunakan tali busur penuh dan tidak pernah membayangkan setengah tali busur yang kita gunakan sekarang. Setengah tali busur pertama kali digunakan oleh Aryabhata, yang membuat trigonometri jauh lebih sederhana. Bahkan, para astronom India pada abad ke-3 atau ke-4, dengan menggunakan tabel tali busur Yunani dari masa sebelum Ptolemaeus, menghasilkan tabel sinus dan sinus versinus, yang darinya kosinus dapat diturunkan dengan mudah. Sistem trigonometri baru yang dihasilkan di India ini diteruskan kepada orang Arab pada akhir abad ke-8, lalu oleh mereka, dalam bentuk yang diperluas, kepada Barat Latin dan Timur Bizantium pada abad ke-12."
- ↑ Bourbaki 1998, hlm. 126: "Adapun trigonometri, bidang ini dipandang rendah oleh para ahli geometri dan diserahkan kepada juru ukur serta astronom; merekalah (Aristarkhos, Hipparchus, Ptolemaeus) yang menetapkan hubungan-hubungan dasar antara sisi dan sudut segitiga siku-siku (datar atau sferis) serta menyusun tabel-tabel pertama (tabel-tabel itu memberikan tali busur dari busur yang dibentuk oleh sudut pada lingkaran berjari-jari r, dengan kata lain bilangan ; pengenalan sinus, yang lebih mudah digunakan, merupakan sumbangan matematikawan Hindu pada abad pertengahan)."
- ↑ Stillwell 2004, hlm. 173
- ↑ Hardy, G. H. (2015) [1927]. "Notice". Collected papers of Srinivasa Ramanujan. Cambridge University Press. hlm. xxi–xxxv. ISBN 978-1-107-53651-7.
Yang paling menakjubkan ialah wawasannya tentang rumus aljabar, transformasi deret tak hingga, ... Dalam hal ini, saya sungguh belum pernah bertemu orang yang setara dengannya, dan saya hanya dapat membandingkannya dengan Euler dan Jacobi. Ia bekerja, jauh melebihi kebanyakan matematikawan modern, melalui induksi dari contoh-contoh numerik. ... Namun, bersama daya ingat, kesabaran, dan kemampuan berhitungnya, ia memadukan kemampuan generalisasi, kepekaan terhadap bentuk, dan kecakapan mengubah hipotesis dengan cepat, yang sering kali benar-benar mengejutkan dan menjadikannya, dalam bidangnya yang khas, tanpa tandingan pada zamannya.
- ↑ Capwell, Charles (2012). "The Music of India". Excursions in World Music (Edisi 6). Pearson. hlm. 31, 52.
- ↑ Lavezzoli, Peter (24 April 2006). The Dawn of Indian Music in the West. hlm. 14.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Sarrazin, Natalie (2019). Focus: Popular Music in Contemporary India. Taylor & Francis. ISBN 978-0-429-99931-4.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Vatsyayan, Kapila; Lord, Maria (revision) (2020) [2001], "India, subcontinent of, IX. Dance", Grove Music Online, Oxford University Press
- ↑ Bishnupriya Dutt; Urmimala Sarkar Munsi (2010). Engendering Performance: Indian Women Performers in Search of an Identity. SAGE Publications. hlm. 216. ISBN 978-81-321-0612-8.
- ↑ Frank Burch Brown (2013). The Oxford Handbook of Religion and the Arts. Oxford University Press. hlm. 195–196. ISBN 978-0-19-972103-0., Kutipan: Semua tarian yang dianggap bagian dari kanon klasik India (Bharata Natyam, Chhau, Kathak, Kathakali, Kuchipudi, Manipuri, Mohiniattam, Odissi, Sattriya, dan Yakshagana) berakar pada praktik keagamaan (...) diaspora India telah membawa tarian-tarian Hindu ke Eropa, Amerika Utara, dan seluruh dunia."
- 1 2 3 4 Tarlo 1996, hlm. 26
- ↑ Tarlo 1996, hlm. 26–28
- 1 2 Alkazi, Roshen (2002), "Evolution of Indian Costume as a result of the links between Central Asia and India in ancient and medieval times", dalam Rahman, Abdur (ed.), India's Interaction with China, Central and West Asia, Oxford University Press, hlm. 464–484, ISBN 978-0-19-565789-0
- ↑ Stevenson, Angus; Waite, Maurice (2011), Concise Oxford English Dictionary: Book & CD-ROM Set, Oxford University Press, hlm. 1272, ISBN 978-0-19-960110-3, diakses tanggal 3 September 2019
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Stevenson, Angus; Waite, Maurice (2011), Concise Oxford English Dictionary: Book & CD-ROM Set, Oxford University Press, hlm. 774, ISBN 978-0-19-960110-3
- ↑ Platts, John T. (John Thompson) (1884), A dictionary of Urdu, classical Hindi, and English, London: W. H. Allen & Co., hlm. 418, diarsipkan dari asli tanggal 24 Februari 2021, diakses tanggal 26 Agustus 2019
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) (daring; diperbarui Februari 2015) - ↑ Shukla, Pravina (2015), The Grace of Four Moons: Dress, Adornment, and the Art of the Body in Modern India, Indiana University Press, hlm. 71, ISBN 978-0-253-02121-2
- ↑ Dwyer, Rachel (2014), Bollywood's India: Hindi Cinema as a Guide to Contemporary India, Reaktion Books, hlm. 244–245, ISBN 978-1-78023-304-8
- ↑ Haripriya, Soibam (2024). "Irom Sharmila's Poetry and the Problem of Anthologizing Indian Literature". Dalam Anjaria, Ulka; Nerleker, Anjali= (ed.). The Oxford Handbook of Modern Indian Literatures. Oxford University Press. hlm. 423. ISBN 978-0-19-764791-2.
- 1 2 Davidson, Alan (2014), The Oxford Companion to Food, Oxford University Press, hlm. 409, ISBN 978-0-19-967733-7
- ↑ Davidson, Alan (2014), The Oxford Companion to Food, Oxford University Press, hlm. 161, ISBN 978-0-19-967733-7,
Chapati dibuat dari tepung gandum utuh yang digiling halus, disebut tepung chapati atau atta, dan air. Adonannya digilas menjadi lembaran bundar tipis yang ukurannya berbeda-beda menurut daerah, lalu dimasak tanpa lemak atau minyak di atas wajan datar yang sedikit melengkung, disebut tava.
- ↑ Tamang, J. P.; Fleet, G. H. (2009), "Yeasts Diversity in Fermented Foods and Beverages", dalam Satyanarayana, T.; Kunze, G. (ed.), Yeast Biotechnology: Diversity and Applications, Springer, hlm. 180, ISBN 978-1-4020-8292-4,
Idli ialah kue kukus yang dikembangkan melalui pengasaman, dibuat dengan fermentasi bakteri atas adonan kental dari beras yang digiling kasar dan kacang urad tanpa kulit. Kue idli lembut, lembap, dan berpori, memiliki rasa asam yang disukai, serta dimakan sebagai sarapan di India Selatan. Adonan dosa sangat mirip dengan adonan idli, tetapi beras dan kacang uradnya sama-sama digiling halus. Adonannya lebih encer daripada adonan idli dan digoreng menjadi panekuk tipis yang renyah, lalu langsung dimakan di India Selatan.
- ↑ Jhala, Angma Day (2015), Royal Patronage, Power and Aesthetics in Princely India, Routledge, hlm. 70, ISBN 978-1-317-31657-2,
Dengan bangkitnya Kekaisaran Mughal di India pada abad ke-16, tradisi pakaian, 'arsitektur dan masakan' Turkik, Persia, dan Afghan diadopsi oleh elite pribumi non-Muslim di Asia Selatan. Dengan cara ini, masakan Asia Tengah berpadu dengan tradisi yang lebih lama di anak benua tersebut dan menghasilkan hidangan khas seperti biryani (perpaduan pilau Persia dan hidangan Hindustan yang kaya rempah) serta semur daging Kashmir, rogan josh. Perpaduan ini bukan hanya menghasilkan hidangan dan tradisi kuliner baru secara menyeluruh, tetapi juga cara makan baru. Kecenderungan baru tersebut mencakup konsumsi pelengkap hidangan Persia yang banyak menggunakan badam, pastri, dan selai quince, bersama acar India dari limau manis, sayuran hijau, dan dadih sebagai pelengkap santapan Mughlai.
- 1 2 Davidson, Alan (2014), The Oxford Companion to Food, Oxford University Press, hlm. 410, ISBN 978-0-19-967733-7
- ↑ Biswas, Soutik (4 April 2018). "The myth of the Indian vegetarian nation". BBC. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Agustus 2018. Diakses tanggal 16 Juli 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Religion in India: Tolerance and Segregation, 10. Religion and food". Pew Research Center. 29 Juni 2021.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Sahakian, Marlyne; Saloma, Czarina; Erkman, Suren (2016), Food Consumption in the City: Practices and patterns in urban Asia and the Pacific, Taylor & Francis, hlm. 50, ISBN 978-1-317-31050-1
- 1 2 3 Collingham, Elizabeth M. (2007), Curry: A Tale of Cooks and Conquerors, Oxford University Press, hlm. 25, ISBN 978-0-19-532001-5
- ↑ Roger 2000.
- ↑ Sengupta, Jayanta (2014), "India", dalam Freedman, Paul; Chaplin, Joyce E.; Albala, Ken (ed.), Food in Time and Place: The American Historical Association Companion to Food History, University of California Press, hlm. 74, ISBN 978-0-520-27745-8
- ↑ Nandy, Ashis (2004), "The Changing Popular Culture of Indian Food: Preliminary Notes", South Asia Research, 24 (1): 9–19, doi:10.1177/0262728004042760
- ↑ Haidar, Sakina; Hussain, Sajjad; Naz, Safina; Ali, Sajid; Noor, Anam (2025). "Introduction and History of Mango". Dalam Hussain, Sajjad; Nahar, Kamrun; Rajwana, Ishtiaq A.; Ercisli, Sezai; Ahmad, Shakeel (ed.). Handbook of Research on Mango Fruit: Postharvest Science, Production, Nutrition, and Processing Technology. CRC Press, Routledge. hlm. 1–2. ISBN 978-1-77964-338-4.
- ↑ Kuhn, David N.; Bally, Ian S. E.; Dillon, Natalie L.; Innes, David; Groh, Amy M.; Rahaman, Jordon; Ophir, Ron; Cohen, Yuval; Sherman, Amir (20 April 2017). "Genetic Map of Mango: A Tool for Mango Breeding". Frontiers in Plant Science. 8 577. Bibcode:2017FrPS....8..577K. doi:10.3389/fpls.2017.00577. PMC 5397511. PMID 28473837.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Warschefsky, Emily J.; Wettberg, Eric J. B. (Juni 2019). "Population genomic analysis of mango (Mangifera indica) suggests a complex history of domestication". New Phytologist. 222 (4): 2023–2037. Bibcode:2019NewPh.222.2023W. doi:10.1111/nph.15731. PMID 30730057.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Prakash, Padma; Gopal, Meena, ed. (2021). Sports Studies in India: Expanding the Field. Oxford University Press. hlm. 3–6. ISBN 978-0-19-013064-0. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Mukhopadhyay, Surajit C.; Dasgupta, Lovely, ed. (2026). Sport in Contemporary India: Society, Culture and Governance. Routledge. hlm. 12–15. ISBN 978-1-032-48457-0. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Alter, Joseph S. (1992). The Wrestler's Body: Identity and Ideology in North India. University of California Press. hlm. 11–14. ISBN 978-0-520-07697-6.
- ↑ Mukhopadhyay, Surajit C.; Dasgupta, Lovely, ed. (2026). Sport in Contemporary India: Society, Culture and Governance. Routledge. hlm. 45–48. ISBN 978-1-032-48458-7. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Datta, Devangshu (13 Desember 2024). "How the Indian teenager became youngest world chess champion". BBC News. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Sen, Ronojoy (2015). Nation at Play: A History of Sport in India. Columbia University Press. hlm. 45–48. ISBN 978-0-231-16490-0.
- ↑ Dutta, S. (2023). "The Limits of the History of Western Sport in Colonial India". Transactions of the Royal Historical Society. 1: 315–326. doi:10.1017/S008044012300004X. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) "Luise Elsaesser baru-baru ini menunjukkan bahwa imperialisme Britania bukan hanya menciptakan ruang budaya bagi penyebaran dan penerimaan olahraga Barat (seperti kriket, rugbi, dan pacuan kuda) di wilayah pinggiran kolonial, tetapi juga memberi ruang bagi penyebaran dan pengadopsian olahraga non-Barat (seperti polo) di pusat kekaisaran. Penerimaan permainan polo India oleh orang Britania di India dan Britania Raya) selama masa kolonial menunjukkan bagaimana makna olahraga berubah lintas budaya maupun di dalam suatu budaya dari waktu ke waktu." - ↑ Sen, Ronojoy (2015). Nation at Play: A History of Sport in India. Columbia University Press. hlm. 34–37. ISBN 978-0-231-16490-0.
- ↑ Kohli, Sneha (2026). "Khelo India (2016): A Policy Review of Its Evolution, Performance and Recent Reforms". Policy Update, Public Policies, Programs and Schemes. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Philip, Biju; Hoye, Russell; Sherry, Emma (2022). "Sport-for-development and social inclusion in caste-ridden India: opportunities and challenges". Soccer & Society. 23 (8): 970–986. doi:10.1080/14660970.2021.1993199. "Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa program SFD yang berorientasi pada tujuan dapat mempertemukan peserta dari komunitas kasta tinggi dan kasta rendah serta menciptakan kesempatan untuk hubungan dan persahabatan antarkelompok. Ini merupakan bidang penting bagi pengembangan olahraga di India kontemporer."
- ↑ Savani, Dharti P. (Juni 2025). "Indian Sports Policy and the Politics of Women's Sports and Women in Sports". International Journal of Progressive Research in Engineering Management and Science (IJPREMS). 5 (6): 1640–1643. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Vishnu, P. N. (9 Maret 2026). "India retain T20 World Cup 2026; Here's the complete list of teams with most ICC tournament victories". mint (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 14 Agustus 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "India men's hockey ends 41-years Olympic drought". BBC News. 5 Agustus 2021. Diakses tanggal 1 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Graham, Bryan Armen (12 Desember 2024), "Gukesh Dommaraju becomes youngest world chess champion after horrific Ding Liren blunder", The Guardian
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Daftar pustaka
Gambaran umum
- "India", The World Factbook, Badan Intelijen Pusat, diarsipkan dari asli tanggal 11 Januari 2021, diakses tanggal 10 Juli 2021
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - "Country Profile: India" (PDF), Library of Congress Country Studies (Edisi 5), Perpustakaan Kongres Divisi Penelitian Federal, Desember 2004, diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 27 September 2011, diakses tanggal 30 September 2011
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Provisional Population Totals Paper 1 of 2011 India, Kantor Panitera Jenderal dan Komisaris Sensus India, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 September 2021, diakses tanggal 18 Oktober 2021
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Robinson, Francis, peny. The Cambridge Encyclopedia of India, Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, Nepal, Bhutan and the Maldives (1989)
- Constituent Assembly of India – Volume XII, Pusat Informatika Nasional, Pemerintah India, 24 Januari 1950, diarsipkan dari asli tanggal 21 Juli 2011, diakses tanggal 17 Juli 2011
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Etimologi
- Barrow, Ian J. (2003). "From Hindustan to India: Naming change in changing names". South Asia: Journal of South Asian Studies. 26 (1): 37–49. doi:10.1080/085640032000063977.
- Clémentin-Ojha, Catherine (2014). "'India, that is Bharat...': One Country, Two Names". South Asia Multidisciplinary Academic Journal. 10. doi:10.4000/samaj.3717.
Sejarah
- Asher, C. B.; Talbot, C. (2022). India Before Europe. Cambridge University Press. ISBN 978-1-108-42816-3.
- Brown, J. M. (1994). Modern India: The Origins of an Asian Democracy. The Short Oxford History of the Modern World (Edisi 2). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-873113-9.
- Copland, I. (2001). India 1885–1947: The Unmaking of an Empire. Longman. ISBN 978-0-582-38173-5.
- Elverskog, Johan (2020). The Buddha's Footprint: An Environmental History of Asia. Philadelphia: University of Pennsylvania Press. ISBN 978-0-8122-5183-8.
- Gilbert, Marc Jason (2017). South Asia in World History. The New Oxford World History series. Oxford University Press. hlm. 54–56. ISBN 978-0-19-517653-7.
- Jaffrelot, Christophe (2019). Modi's India: Hindu Nationalism and the Rise of Ethnic Democracy. Princeton University Press. ISBN 978-0-691-20680-6.
- Jamison, Stephanie W.; Brereton, Joel P. (2014). The Rigveda: The Earliest Religious Poetry of India. Vol. 1. New York: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-517918-7.
- Kulke, H.; Rothermund, D. (2016). A History of India. 6th. Routledge. ISBN 978-1-138-96114-2.
- Lowe, John J. (2015). Participles in Rigvedic Sanskrit: The Syntax and Semantics of Adjectival Verb Forms. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-100505-3.
- Ludden, D. (2014). India and South Asia: A Short History (Edisi 2, revisi). Oneworld Publications. ISBN 978-1-85168-936-1.
- Marriott, John (2013). The other empire: Metropolis, India and progress in the colonial imagination. Manchester University Press. ISBN 978-1-84779-061-3.
- Metcalf, Barbara D.; Metcalf, Thomas R. (2006). A Concise History of Modern India (Edisi 2). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-68225-1.
- Metcalf, Barbara D.; Metcalf, Thomas R. (2012). A Concise History of Modern India. Cambridge University Press. ISBN 978-1-107-02649-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Juli 2023. Diakses tanggal 13 Agustus 2019.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Peers, D. M. (2006). India under Colonial Rule: 1700–1885. Pearson Longman. ISBN 978-0-582-31738-3.
- Flood, Gavin (2020), "Introduction", dalam Gavin Flood (ed.), The Oxford History of Hinduism: Hindu Practice: Hindu Practice, Oxford University Press, ISBN 978-0-19-105322-1
- Iori, Elisa (2023). "Releasing Urban Religion beyond the City Wall: The Spatial Capital of Early Buddhist Monasticism in NW South Asia". Numen. 70 (2–3): 184–219. doi:10.1163/15685276-20231691. hdl:10278/5079362.
- Jamison, Stephanie; Brereton, Joel (2020), The Rigveda, Oxford University Press, ISBN 978-0-19-063339-4
- Mattern, Susan (2019). The Slow Moon Climbs: The Science, History, and Meaning of Menopause. Princeton, NJ, dan London: Princeton University Press. ISBN 978-0-691-17163-0.
- Michaels, Axel (2017). Patrick Olivelle, Donald R. Davis (ed.). The Oxford History of Hinduism: Hindu Law: A New History of Dharmaśāstra. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-100709-5.
- Peers, D. M. (2013). India Under Colonial Rule: 1700–1885. Routledge. ISBN 978-1-317-88286-2. Diakses tanggal 13 Agustus 2019.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Petraglia, Michael D.; Allchin, Bridget (2007). "Human evolution and culture change in the Indian subcontinent". Dalam Michael Petraglia; Bridget Allchin (ed.). The Evolution and History of Human Populations in South Asia: Inter-disciplinary Studies in Archaeology, Biological Anthropology, Linguistics and Genetics. Springer Publishing. ISBN 978-1-4020-5562-1.
- Ramusack, Barbara N. (1999), "Women in South Asia", dalam Barbara N. Ramusack; Sharon L. Sievers (ed.), Women in Asia: Restoring Women to History, Indiana University Press, ISBN 978-0-253-21267-2
- Robb, P. (2011). A History of India. Palgrave Macmillan. ISBN 978-0-230-34549-2.
- Roy, Tirthankar (2012). India in the World Economy: From Antiquity to the Present. Cambridge dan New York: Cambridge University Press. ISBN 978-1-107-00910-3.
- Singh, Upinder (2017). Political Violence in Ancient India. Harvard University Press. ISBN 978-0-674-98128-7.
- Spear, Percival (1990) [1978]. History of India, Volume 2: From the sixteenth century to the twentieth century. Penguin. ISBN 978-0-140-13836-8.
- Stein, B. (2010). Arnold, D. (ed.). A History of India (Edisi 2). Oxford: Wiley-Blackwell. ISBN 978-1-4051-9509-6.
- Talbot, Ian (2016). A History of Modern South Asia: Politics, States, and Diasporas. Yale University Press. ISBN 978-0-300-19694-8.
- Truschke, Audrey (2025). India: 5,000 Years of History on the Subcontinent. Princeton University Press. ISBN 9780691221229.
- Van Brummelen, Glenn (2014). "Arithmetic". Dalam Glick, Thomas F.; Livesey, Steven; Wallis, Faith (ed.). Medieval Science, Technology, and Medicine: An Encyclopedia. Routledge. ISBN 978-1-135-45932-1.
- Witzel, Michael (2003). "Vedas and Upanișads". Dalam Gavin D. Flood (ed.). The Blackwell companion to Hinduism. John Wiley & Sons. ISBN 978-0-631-21535-6. Diakses tanggal 15 Maret 2012.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Wolpert, S. (2003). A New History of India (Edisi 7). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-516678-1.
- Wright, Rita P. (2010). The Ancient Indus: Urbanism, Economy, and Society. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-57219-4. Diakses tanggal 29 September 2013.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Geografi
- Ali, J. R.; Aitchison, J. C. (2005). "Greater India". Earth-Science Reviews. 72 (3–4): 170–173. Bibcode:2005ESRv...72..169A. doi:10.1016/j.earscirev.2005.07.005.
- Barry, Roger G.; Hall-McKim, Eileen A. (2018). Essentials of the Earth's Climate Systems. Cambridge University Press. ISBN 9781139583909.
- Basu, Mahua; Xavier, Savarimuthu (2017). Fundamentals of Environmental Studies. Cambridge University Press. ISBN 978-1-316-87051-8.
- Forest (Conservation) Act, 1980 with Amendments Made in 1988 (PDF). Departemen Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pemerintah Kepulauan Andaman dan Nikobar. 1988. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 21 Juli 2011. Diakses tanggal 25 Juli 2011.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Dikshit, K. R.; Schwartzberg, Joseph E. (2023). "India: Land". Encyclopædia Britannica. hlm. 1–29. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Mei 2015. Diakses tanggal 7 Februari 2022.
{{cite encyclopedia}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Duff, D. (1993). Holmes Principles of Physical Geology (Edisi 4). Routledge. ISBN 978-0-7487-4381-0.
- Kaul, R. N. (1970). "The Indian Subcontinent: Indo-Pakistan". Dalam Kaul, R. N. (ed.). Afforestation in Arid Zones. Den Haag: Dr. W. Junk, N.V., Publishers. ISBN 978-94-010-3352-7.
- Kumar, V. Sanil; Pathak, K. C.; Pednekar, P.; Raju, N. S. N.; Gowthaman, R. (2006). "Coastal processes along the Indian coastline" (PDF). Current Science. 91 (4): 530–536. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 8 September 2009.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Mcgrail, Sean; Blue, Lucy; Kentley, Eric; Palmer, Colin (2003). Boats of South Asia. Routledge. ISBN 978-1-134-43130-4.
- Molnar, Peter (2015). Plate Tectonics: A Very Short Introduction. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-872826-9.
- India Yearbook 2007. New Delhi: Divisi Penerbitan, Kementerian Informasi dan Penyiaran, Pemerintah India. 2007. ISBN 978-81-230-1423-4.
- Prakash, B.; Kumar, S.; Rao, M. S.; Giri, S. C. (2000). "Holocene Tectonic Movements and Stress Field in the Western Gangetic Plains" (PDF). Current Science. 79 (4): 438–449. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 4 Mei 2011. Diakses tanggal 7 Februari 2022.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Prasad, Ishwar (1974). "The Ecology of Vertebrates of the Indian Desert". Dalam Mani, M. S. (ed.). Ecology and Biogeography in India. Den Haag: Dr. W. Junk bv Publishers. ISBN 978-94-010-2333-7.
Keanekaragaman hayati:
- Basak, R. K. (1983). Botanical Survey of India: Account of Its Establishment, Development, and Activities. India. Departemen Lingkungan Hidup. Diakses tanggal 20 Juli 2011.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Crame, J. A.; Owen, A. W. (2002), Palaeobiogeography and Biodiversity Change: The Ordovician and Mesozoic–Cenozoic Radiations, Geological Society Special Publication, Perhimpunan Geologi London, ISBN 978-1-86239-106-2, diakses tanggal 8 Desember 2011
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Karanth, K. Ullas; Gopal, Rajesh (2005). "An ecology-based policy framework for human-tiger coexistence in India". Dalam Rosie Woodroffe; Simon Thirgood; Alan Rabinowitz (ed.). People and Wildlife, Conflict Or Co-existence?. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-53203-7.
- Karanth, K. P. (2006). "Out-of-India Gondwanan Origin of Some Tropical Asian Biota" (PDF). Current Science. 90 (6): 789–792. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 11 April 2019. Diakses tanggal 18 Mei 2011.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Tritsch, M. F. (2001). Wildlife of India. London: HarperCollins. ISBN 978-0-00-711062-9.
- Indian Wildlife (Protection) Act, 1972. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pemerintah India. 9 September 1972. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 Juli 2011. Diakses tanggal 25 Juli 2011.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Politik
- Bora, Banasmita (2024). "9. The Election Commission of India and Its Evolution". Dalam Ganguly, Sumit; Sridharan, Eswaran (ed.). The Oxford Handbook of Indian Politics. Oxford University Press. hlm. 127–142. ISBN 9780198894261.
- Bunce, Valerie I.; Pepinsky, Thomas B.; Riedl, Rachel Beatty; Roberts, Kenneth M. (2025). "Introduction". Dalam Bunce, Valerie I.; Pepinsky, Thomas B.; Riedl, Rachel Beatty; Roberts, Kenneth M (ed.). Global Challenges to Democracy: Comparative Perspectives on Backsliding, Autocracy, and Resilience. Cambridge University Press. hlm. 1–6. ISBN 9781009602600.
- Beissinger, Mark (2025). "Civil Society Resistance to Democratic Backsliding". Dalam Bunce, Valerie I.; Pepinsky, Thomas B.; Riedl, Rachel Beatty; Roberts, Kenneth M (ed.). Global Challenges to Democracy: Comparative Perspectives on Backsliding, Autocracy, and Resilience. Cambridge University Press. hlm. 196–214. ISBN 9781009602600.
- Farooqui, Adnan (2024). "25. Muslim Representation". Dalam Ganguly, Sumit; Sridharan, Eswaran (ed.). The Oxford Handbook of Indian Politics. Oxford University Press. hlm. 427–444. ISBN 9780198894261.
- Jaffrelot, Christophe (2024). "12 The BJP's Ideology, Structures, Sociology, and Strategies". Dalam Ganguly, Sumit; Sridharan, Eswaran (ed.). The Oxford Handbook of Indian Politics. Oxford University Press. hlm. 179–194. ISBN 9780198894261.
- Jayal, Niraja Gopal (2024). "1. Rights and Citizenship". Dalam Ganguly, Sumit; Sridharan, Eswaran (ed.). The Oxford Handbook of Indian Politics. Oxford University Press. hlm. 3–16. ISBN 9780198894261.
- Hasan, Zoya (2024). "13. The Congress Party in Decline". Dalam Ganguly, Sumit; Sridharan, Eswaran (ed.). The Oxford Handbook of Indian Politics. Oxford University Press. hlm. 195–210. ISBN 9780198894261.
- Madhavan, M. R. (2024). "2. The Lok Sabha". Dalam Ganguly, Sumit; Sridharan, Eswaran (ed.). The Oxford Handbook of Indian Politics. Oxford University Press. hlm. 17–30. ISBN 9780198894261.
- Mathew, George (2024). "8 Politics in the Third Tier: Municipalities and Panchayats". Dalam Ganguly, Sumit; Sridharan, Eswaran (ed.). The Oxford Handbook of Indian Politics. Oxford University Press. hlm. 111–124. ISBN 9780198894261.
- Mehra, Ajay K. (2024). "4 The Indian Cabinet". Dalam Ganguly, Sumit; Sridharan, Eswaran (ed.). The Oxford Handbook of Indian Politics. Oxford University Press. hlm. 47–64. ISBN 9780198894261.
- "National Symbols", Know India, Pusat Informatika Nasional, Pemerintah India, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 April 2021, diakses tanggal 18 April 2021
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Palshikar, Suhas (2024). "18. Caste and Politics: Limits of Democratization". Dalam Ganguly, Sumit; Sridharan, Eswaran (ed.). The Oxford Handbook of Indian Politics. Oxford University Press. hlm. 291–304. ISBN 9780198894261.
- Saxena, Adnan (2024). "6 The Changing Nature of Federalism in India". Dalam Ganguly, Sumit; Sridharan, Eswaran (ed.). The Oxford Handbook of Indian Politics. Oxford University Press. hlm. 81–96. ISBN 9780198894261.
- Sen, Ronojoy (2024). "5 The Supreme Court". Dalam Ganguly, Sumit; Sridharan, Eswaran (ed.). The Oxford Handbook of Indian Politics. Oxford University Press. hlm. 65–78. ISBN 9780198894261.
- Sharma, B. K. (2007). Introduction to the Constitution of India (Edisi 4). Prentice Hall. ISBN 978-81-203-3246-1.
- Shastri, Sandeep (2024). "3 The Rajya Sabha: A 'Federal Chamber' or a Mere Upper House in the Indian Parliament?". Dalam Ganguly, Sumit; Sridharan, Eswaran (ed.). The Oxford Handbook of Indian Politics. Oxford University Press. hlm. 31–46. ISBN 9780198894261.
- Spary, Carole (2024). "19. Women in Indian Politics". Dalam Ganguly, Sumit; Sridharan, Eswaran (ed.). The Oxford Handbook of Indian Politics. Oxford University Press. hlm. 305–326. ISBN 9780198894261.
- Staniland, Paul (2024). "29. Insurgencies and Political Violence in India". Dalam Ganguly, Sumit; Sridharan, Eswaran (ed.). The Oxford Handbook of Indian Politics. Oxford University Press. hlm. 497–512. ISBN 9780198894261.
- Verma, Arvind (2024). "30. Coercive Instruments of the State". Dalam Ganguly, Sumit; Sridharan, Eswaran (ed.). The Oxford Handbook of Indian Politics. Oxford University Press. hlm. 513–524. ISBN 9780198894261.
- Ziegfeld, Adam (2024). "14. Regional Parties". Dalam Ganguly, Sumit; Sridharan, Eswaran (ed.). The Oxford Handbook of Indian Politics. Oxford University Press. hlm. 211–224. ISBN 9780198894261.
Hubungan luar negeri dan militer:
- Ganguly, Sumit (2024). "31. The Evolution of India's Foreign Policy". Dalam Ganguly, Sumit; Sridharan, Eswaran (ed.). The Oxford Handbook of Indian Politics. Oxford University Press. hlm. 527–544. ISBN 9780198894261.
- Kampani, Gaurav (2024). "35. The New Normal: India's Quest for the 'Credible' in Nuclear Deterrence". Dalam Ganguly, Sumit; Sridharan, Eswaran (ed.). The Oxford Handbook of Indian Politics. Oxford University Press. hlm. 593–614. ISBN 9780198894261.
- Tarapore, Arzan (2024). "32. The Functions and Challenges of Indian Defence Policy". Dalam Ganguly, Sumit; Sridharan, Eswaran (ed.). The Oxford Handbook of Indian Politics. Oxford University Press. hlm. 545–556. ISBN 9780198894261.
Ekonomi
- Gupta, Bishnupriya (2025). An Economic History of India: Growth, Income and Inequalities from the Mughals to the 21st Century. Cambridge Studies in Economic History - Second Series. Cambridge University Press. doi:10.1017/9781108869065.
- Chaudhary, Latika; Roy, Thrthankar; Swamy, Anand V. (2026). "Introduction". Dalam Chaudhary, Latika; Roy, Tirthankar; Swamy, Anand V. (ed.). Cambridge Economic History of Modern South Asia, part 2: South Asia, 1947–Present. Cambridge University Press. hlm. 1–10. ISBN 9781009769488.
- Roy, Tirthankar (2020). The Economic History of India 1857–2010 (Edisi 4). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-0128-29-6.
- Tomlinson, B. R. (2013). The Economy of Modern India: From 1860 to the Twenty-First Century (Edisi 2). Cambridge University Press. ISBN 978-0-19-0128-29-6.
Demografi
- Chandramouli, C. (15 Juli 2011), Rural Urban Distribution of Population (PDF), Kementerian Dalam Negeri India, diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 18 Maret 2015, diakses tanggal 24 Januari 2015
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Dyson, T.; Visaria, P. (2005), "Migration and Urbanisation: Retrospect and Prospects", dalam Dyson, T.; Casses, R.; Visaria, L. (ed.), Twenty-First Century India: Population, Economy, Human Development, and the Environment, Oxford University Press, ISBN 978-0-19-928382-8
- Dyson, Tim (2018), A Population History of India: From the First Modern People to the Present Day, Oxford University Press, ISBN 978-0-19-882905-8, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 September 2024, diakses tanggal 29 Juli 2019
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Fisher, Michael H. (2018), An Environmental History of India: From Earliest Times to the Twenty-First Century, Cambridge dan New York: Cambridge University Press, doi:10.1017/9781316276044, ISBN 978-1-107-11162-2, LCCN 2018021693, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 September 2024, diakses tanggal 29 Juli 2019
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Garg, S. C. (19 April 2005), Mobilizing Urban Infrastructure Finance in India (PDF), Bank Dunia, diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 24 Agustus 2009, diakses tanggal 27 Januari 2010
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Ratna, U. (2007), "Interface Between Urban and Rural Development in India", dalam Dutt, A. K.; Thakur, B. (ed.), City, Society, and Planning, vol. 1, Concept, ISBN 978-81-8069-459-2
- Rorabacher, J. A. (2010), Hunger and Poverty in South Asia, Gyan, ISBN 978-81-212-1027-0
- Notification No. 2/8/60-O.L, Kementerian Dalam Negeri India, Pemerintah India, 27 April 1960, diarsipkan dari asli tanggal 1 Oktober 2014, diakses tanggal 13 Mei 2011
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - "Census Data 2001", Kantor Panitera Jenderal dan Komisaris Sensus India, Kementerian Dalam Negeri India, Pemerintah India, 2010–2011, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Agustus 2011, diakses tanggal 22 Juli 2011
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Budaya
- Asher, Catherine B. (1992), Architecture of Mughal India, New Cambridge History of India series, Cambridge; New York: Cambridge University Press, doi:10.1017/CHOL9780521267281, ISBN 978-0-521-26728-1
- Béteille, André (2002), "Caste", dalam Barnard, Alan; Spencer, Jonathan (ed.), Encyclopedia of Social and Cultural Anthropology, New York; London: Routledge, ISBN 978-0-415-28558-2
- Blurton, T. Richard (1993), Hindu Art, Harvard University Press, ISBN 978-0-674-39189-5
- Bourbaki, Nicolas (1998), Elements of the History of Mathematics, Berlin, Heidelberg, dan New York: Springer-Verlag, 301 halaman, ISBN 978-3-540-64767-6
- Craven, Roy C (1997), Indian art: a concise history, New York City: Thames & Hudson, ISBN 978-0-500-20302-6, OCLC 37895110
- Cullen-Dupont, K. (Juli 2009), Human Trafficking, Infobase Publishing, ISBN 978-0-8160-7545-4
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Filliozat, Pierre-Sylvain (2004), "Ancient Sanskrit Mathematics: An Oral Tradition and a Written Literature", dalam Chemla, Karine; Cohen, Robert S.; Renn, Jürgen; et al. (ed.), History of Science, History of Text (Boston Series in the Philosophy of Science), Dordrecht: Springer Netherlands, 254 halaman, hlm. 137–157, hlm. 360–375, doi:10.1007/1-4020-2321-9_7, ISBN 978-1-4020-2320-0.
- Gupta, Dipankar (2008), "Caste", dalam Schaefer, Richard T. (ed.), Encyclopedia of Race, Ethnicity, and Society, Thousand Oaks: SAGE, hlm. 246–250, ISBN 978-1-4129-2694-2, diakses tanggal 5 Agustus 2012
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Harle, James C. (1994), The Art and Architecture of the Indian Subcontinent, Yale University Press, ISBN 978-0-300-06217-5
- Hayashi, Takao (2005), "Indian Mathematics", dalam Flood, Gavin (ed.), The Blackwell Companion to Hinduism, Oxford: Basil Blackwell, 616 halaman, hlm. 360–375, hlm. 360–375, ISBN 978-1-4051-3251-0.
- Hayashi, Takao (1995), The Bakhshali Manuscript, An ancient Indian mathematical treatise, Groningen: Egbert Forsten, 596 halaman, ISBN 978-90-6980-087-5.
- Ifrah, Georges (2000), A Universal History of Numbers: From Prehistory to Computers, New York: Wiley, ISBN 978-0-471-39340-5
- Jones, G.; Ramdas, K. (2005), (Un)tying the Knot: Ideal and Reality in Asian Marriage, National University of Singapore Press, ISBN 978-981-05-1428-0
- Kiple, K. F.; Ornelas, K. C., ed. (2000), The Cambridge World History of Food, vol. 2, Cambridge dan New York: Cambridge University Press, ISBN 978-0-521-40215-6
- Kramer, Stephanie (2021a). Religious Composition of India (Laporan). Pew Research Center. Diakses tanggal 17 September 2026.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Kramer, Stephanie (2021b). Population Growth and Religious Composition (Laporan). Pew Research Center. Diakses tanggal 17 September 2026.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Kramer, Stephanie (2021c). Religious demography of Indian states and territories (Laporan). Pew Research Center. Diakses tanggal 17 September 2026.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Kuiper, K., ed. (2010), The Culture of India, Britannica Educational Publishing, ISBN 978-1-61530-203-1, diakses tanggal 24 Juli 2011
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Lagasse, Paul (2007), "Caste", dalam Lagasse, Paul (ed.), The Columbia Encyclopedia, New York, NY: Columbia University Press, ISBN 978-0-231-14446-9, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Oktober 2023, diakses tanggal 24 September 2012
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Lindenfeld, David (2021). World Christianity and Indigenous Experience: A Global History 1500–2000. Cambridge University Press. ISBN 9781108917643.
- Madan, T. N. (2012), caste, Encyclopædia Britannica Online, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Januari 2013, diakses tanggal 23 November 2025
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Makar, E. M. (2007), An American's Guide to Doing Business in India, Adams, ISBN 978-1-59869-211-2
- Medora, N. (2003), "Mate Selection in Contemporary India: Love Marriages Versus Arranged Marriages", dalam Hamon, R. R.; Ingoldsby, B. B. (ed.), Mate Selection Across Cultures, SAGE Publications, hlm. 209–230, ISBN 978-0-7619-2592-7
- Michell, George (2000), Hindu Art and Architecture, Thames & Hudson, ISBN 978-0-500-20337-8
- Mitchell, Geoffrey Duncan (2006), "Castes (part of SOCIAL STRATIFICATION)", A New Dictionary of the Social Sciences, New Brunswick, NJ: Aldine Transaction Publishers, hlm. 194–195, ISBN 978-0-202-30878-4, diakses tanggal 10 Agustus 2012
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Naim, C.M. (1978), "South Asian Literatures: Islamic", Encyclopaedia Britannica, diakses tanggal 30 Agustus 2026
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Pingree, David (2003), "The logic of non-Western science: mathematical discoveries in medieval India", Daedalus, 132 (4): 45–54, doi:10.1162/001152603771338779.
- Plofker, K. (2007), "Mathematics of India", dalam Katz, Victor J. (ed.), The Mathematics of Egypt, Mesopotamia, China, India, and Islam: A Sourcebook, Princeton, NJ: Princeton University Press, hlm. 385–514, ISBN 978-0-691-11485-9.
- Plofker, Kim (2009), Mathematics in India: 500 BCE–1800 CE, Princeton, NJ: Princeton University Press, ISBN 978-0-691-12067-6.
- Raghavendra, M. K. (2026). "The geopolitics of Kannada language cinema". Dalam Gehlawat, Ajay; Beaster-Jones, Jayson (ed.). Routledge Handbook of South Asian Cinemas. Routledge. doi:10.4324/9781003497912-11. ISBN 978-1-032-80366-1.
- Roger, Delphine. "The Middle East and South Asia (in Chapter: History and Culture of Food and Drink in Asia)". Dalam Kiple & Ornelas (2000), pp. 1140–1150.
- Rowland, Benjamin (1970), The Art and Architecture of India: Buddhist, Hindu, Jain, Penguin Books, ISBN 978-0-14-056102-9
- Stillwell, John (2004), Mathematics and its History, Undergraduate Texts in Mathematics (Edisi 2), Springer, Berlin dan New York, 568 halaman, doi:10.1007/978-1-4684-9281-1, ISBN 978-0-387-95336-6.
- Tarlo, E. (1996), Clothing Matters: Dress and Identity in India, University of Chicago Press, ISBN 978-0-226-78976-7, diakses tanggal 24 Juli 2011
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Pranala luar
| Cari tahu mengenai India pada proyek-proyek Wikimedia lainnya: | |
| Definisi dan terjemahan dari Wiktionary | |
| Gambar dan media dari Commons | |
| Berita dari Wikinews | |
| Kutipan dari Wikiquote | |
| Teks sumber dari Wikisource | |
| Buku dari Wikibuku | |
| Panduan wisata di India dari Wikivoyage | |
Pemerintahan
Informasi umum
- India Diarsipkan 11 Januari 2021 di Wayback Machine. CIA World Factbook. Badan Intelijen Pusat.
- India sumber web yang disediakan oleh GovPubs di Perpustakaan Universitas Colorado–Boulder
- India dari BBC News
Peta India di Wikimedia Atlas
Data geografis India di OpenStreetMap- Proyeksi utama pembangunan India dari International Futures